Cuti Hamil 6 Bulan dan Kesetaraan Gender di Hari Kartini

Cuti Hamil 6 bulan dengan gaji utuh yang diberikan Kokok Dirgantoro kepada karyawatinya di Opal Communication (perusahaan PR di Tangerang Selatan) telah menyentuh popularitas di media sosial. Informasi ini menyentuh perasaan terdalam kita semua, mengingat sebuah perusahaan swasta bersedia mengeluarkan gaji penuh selama 6 bulan pada seorang yang secara ekonomi “tidak produktif” bagi perusahaan yakni wanita melahirkan. Di saat yang sama banyak Ibu melahirkan kesulitan untuk memilih antara mempertahankan karir atau memberi perhatian penuh pada buah hatinya dimasa-masa krusial. Kejadian pribadi Kokok Dirgantoro terkait kelahiran anak pertamanya jugalah yang memotivasi dirinya membuat kebijakan tersebut di perusahaannya. Sejatinya negara Indonesia telah menjadi salah satu negara yang memperhatikan para Ibu melahirkan dengan Hukum Formal yang mengharuskan perusahaan untuk memberikan cuti hamil dan melahirkan selama tiga bulan dengan gaji yang dibayar penuh. Berita ini menjadi popular diberbagai kalangan tidak terkecuali dikalangan kaum wanita yang merasa hak-haknya diperhatikan dengan baik.

Menarik mungkin untuk melihat fenomena ini di hari Kartini. Hari Kartini adalah hari yang sering dijadikan momentum untuk mengingatkan kita atas perjuangan kartini dalam hal kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Termasuk didalamnya adalah tuntutan kaum wanita atas hak yang sama dalam perlakuan di dunia kerja. Artinya mereka menuntut fasilitas yang sama pada tanggung jawab yang sama. Sebagai contoh: Supervisor atas pekerjaan kompeksi penjahit pakaian dengan anak buah 10 orang dan target pekerjaan 500 baju sebulan, harusnya bergaji 3 juta sebulan. Tentunya gaji supervisor wanita dengan tanggung jawab yang sama persis seharusnya mendapatkan gaji yang sama. Tidak boleh ada pembedaan dalam hal ini. Sebagian dari kita mungkin terheran-heran, atas isu ini. Bukankah ini hal yang lumrah, kenapa harus dituntut. Kenyataannya hal ini menjadi perhatian utama bagi pengusung isu gender inequality di dunia. Kaum pengusung gender equality sering mengungkit ketidaksetaraan payment at work di negara-negara berkembang seperti Eropa, Amerika dan Australia.

Namun ada hal yang mengherankan dari peristiwa cuti hamil diatas. Pemerintah Indonesia, misalnya, telah menyusun peraturan resmi yang memaksa perusahaan swasta untuk memberikan cuti hamil dengan bayaran penuh selama tiga bulan. Lalu bagaimana dengan hak kaum pria? Jika kita ingin membicarakan kesetaraan gender, maka seharusnya seorang ayah juga memiliki hak cuti saat istrinya melahirkan minimal selama tiga bulan penuh. Seorang Ayah juga punya hak untuk hadir dan bercengkrama dengan anaknya dimasa-masa awal kehidupannya. Ditambah dengan kesulitan yang harus dihadapi oleh sepasang suami istri saat buah hati baru saja hadir di tengah-tengah mereka. Lalu mengapa kaum lelaki tidak mendapatkan haknya dengan tepat dari pemerintah. Dimanakah isu kesetaraan gender dalam hal ini? Kami para lelaki juga butuh cuti melahirkan!

Oleh: Febri Marsa

Comments

comments