Cukuran Rambut Qaza’, Haram atau Makruh?

Teduh.Or.Id – Qaza’ seperti yang didefinisikan Imam al-Nawawiy rahimahullah dan disepakati oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dengan:

حلق بعض رأس الصبي مطلقا

“Menggundul secara mutlak sebagian kepala anak kecil.”

Definisi ini dikuatkan karena diambil dari penafsiran Imam Nafi’ yang beliau sendiri adalah tokoh ulama yang meriwayatkan hadits tentang Qaza’ ini. Dalam kaidah ulama, penafsiran seorang periwayat hadits terhadap hadits yang ia riwayatkan lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya, terlebih jika penafsiran tersebut tidak bertentangan dengan bunyi haditsnya maka tafsirannya menjadi harus diambil dan diamalkan.

Yang dimaksud dengan “secara mutlak” di sini adalah menghilangkan atau melepaskan pembatasan hukum qaza’ hanya pada anak kecil menjadi ke cakupan yang lebih luas sehingga meliputi orang dewasa dari kalangan pria mau pun wanita. Demikian kurang lebih yang disebutkan dalam Fathulbariy (10/365).[1]

Dan penafsiran Imam Nafi’ yang dimaksudkan adalah riwayat Dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berbunyi:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن القزع قال قلت لنافع وما القزع ؟ قال يحلق بعض رأس الصبي ويترك بعض

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang qaza’, aku bertanya kepada Nafi’ apakah qaza’ tersebut? Beliau menjawab, “Sebagian kepala anak kecil digundul dan sebagiannya lagi dibiarkan.”[2]

Qaza’ pada dasarnya dilarang berdasarkan dalil hadits di atas, juga berdasarkan dengan riwayat lainnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar, yang berbunyi:

أن النبى -صلى الله عليه وسلم- رأى صبيا قد حلق بعض شعره وترك بعضه فنهاهم عن ذلك وقال  احلقوه كله أو اتركوه كله

“Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah melihat seorang anak yang sebagian rambutnya telah digundul dan sebagian lainnya dibiarkan (ada rambutnya) maka (Beliau) melarang mereka dari hal itu, dan Beliau ﷺ bersabda, “Gundulilah semuanya atau tinggalkan semuanya.””[3]

Larangan qaza’ dalam hadits ini menurut kesepakatan para ulama (Ijma’) maknanya larangan yang bersifat Makruh, bukan pengharaman. Imam al-Nawawiy rahimahullah berkata:

وأجمع العلماء على كراهة القزع اذا كان فى مواضع متفرقة إلا أن يكون لمداواة ونحوها وهى كراهة تنزيه

“Dan Ulama telah berIjma’ atas makruhnya qaza’ apabila dilakukan di beberapa posisi yang terpisah-pisah, kecuali kalau qaza’ dilakukan untuk pengobatan atau semisalnya. Dan Ia (Karahah di sini) adalah Karahah Tanzih.”[4]

Ijma’ ini juga diceritakan oleh al-Thibiy dalam Syarhulmisykat (9/2925) dan Al-Faqih Al-Mirdawiy Al-Hanbaliy dalam al-Inshaf ( 1/100). Dan inilah pendapat dari empat Madzhab, mereka serempak mengatakan larangan Qaza’ hanya sebatas Makruh bukan haram.[5]

Syaikh Muhammad bin Saleh al-‘Ustaimin rahimahullah memberikan catatan penting, Qaza’ bisa menjadi haram apabila di dalamnya terdapat penyerupaan terhadap orang kafir karena Nabi ﷺ melarang dari memperserupakan diri dengan orang kafir.[6]

Hukum Variasi Cukuran Rambut

Variasi model cukuran rambut dengan membiarkan sebagian tipis dan sebagiannya lagi lebih panjang walaupun tidak sampai ke dalam kategori menggundulinya tetap dimasukkan oleh sebagian ulama ke dalam hukum qaza’, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Syaikh al-Munajjid dalam fatwanya. [7]

Ketika dikatakan hukumnya qaza’ hanyalah sebatas makruh saja maka konsekuensinya tentu akan berbeda dengan hukum haram. Namun seorang muslim pada dasarnya tetap dituntut untuk meninggalkan sesuatu yang makruh, karena larangan Nabi secara umum pada dasarnya untuk ditinggalkan bukan untuk dilanggar. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه

“Apa saja yang telah aku larang kalian darinya maka jauhilah.”

(HR: Muslim)

Wallahu A’lam.

 

 


[1] قال النووي الأصح أن القزع ما فسره به نافع وهو حلق بعض رأس الصبي مطلقا ومنهم من قال: هو حلق مواضع متفرقة منه والصحيح الأول لأنه تفسير الراوي وهو غير مخالف للظاهر فوجب العمل به  قلت ألا أن تخصيصه بالصبي ليس قيدا

 

[2] Hadits Riwayat Bukhariy dan Muslim dan bunyi haditsnya berasal dari Muslim.

[3] Hadits Riwayat Abu Dawud dan Ahmad

[4] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (14/101)

[5] Dorar.net Masalah Qaza’ 

[6] Fatwa Syaikh Muhammad Saleh Utsaimin 

[7] fatwa Syaikh Saleh al-Munajjid 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.