Hadits: Tentang Permainan Catur

Teduh.Or.Id – Dalil para ulama yang mengharamkan permainan catur Fi Dzatihi (baca: melekat keharamannya pada permainan catur itu sendiri tanpa dipengaruhi oleh sebab lain) adalah riwayat :

عن مسيرة : أن عليا رضى الله عنه مر على قوم يلعبون بالشطرنج فقال: ما هذه التماثيل التى أنتم لها عاكفون

Dari Masirah ia berkata: “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu pernah melintasi suatu kaum yang tengah bermain catur, maka beliau berkata: “ini berhala-berhala apakah yang kalian tongkrongi !?”

Hadits ini dinilai lemah oleh al-‘Allamah al-Muhaddits as-Sakhawy Rahimahullah dalam kitabnya ‘Umdatul Muhtajj Fi Hukmisy-Syathranj (1/68-69)[1] karena di dalamnya terdapat Inqhitha’ (periwayatannya terputus) yaitu pada Masirah Ibnu Habib, beliau berkata:

 “Dan Imam al-Bukhary telah mengeluarkan riwayat al-Masirah dalam al-adabul Mufrad, dan beliau dinilai Tsiqah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, al-‘Ijly, an-Nasa’iy, Ibnu Hibban, dan oleh yang lainnya, akan tetapi aku belum menemukan riwayatnya dari Ali bin Abi Thalib, maka di atas pertimbangan inilah hadits tersebut Munqathi’, dan aku heran dengan ulama yang menshahihkan Sanad-nya. Dan Imam Ahmad berkata: “Hadits yang paling Shahih dalam (hukum) catur adalah ucapan Ali.”

Pendapat as-Sakhawy ini telah dibawakan oleh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Albany Rahimahullah dalam kitabnya al-Irwa’ul Ghalil (8/288/ Hadits ke 2672) dan beliau menyepakatinya bahwa hadits tersebut memang tidak valid berasal dari Ali bin Abi Thalib, karena Masirah Ibnu Habib adalah periwayat yang hanya mendengarkan riwayat hadits dari kalangan Tabi’in bukan dari kalangan Shahabat seperti halnya Abu Ishaq as-Sabi’iy. Beliau berkata:

وجملة القول أن هذا الأثر لا يثبت عن على لأن خير أسانيده هذا والأول وكلاهما منقطع

 “Dan hasil dari pembahasan ini sesungguhnya Atsar (Ali bin Abi Thalib) ini tidak valid berasal dari ‘Ali karena Sanad-Sanad terbaiknya adalah Sanad ini dan yang pertama, sedangkan keduanya Munqathi’.” [2]

 Tentu bukan hadits ini saja yang menjadi dalil atas haramnya catur bidzatihi, namun ada juga dalil-dalil lainnya akan tetapi semuanya Dla’if (lemah). Tidak bisa dijadikan sebagai hujjah atau petunjuk.

Imam al-Mundziry berkata: “Dan penyebutan catur telah disebutkan di dalam beberapa hadits yang aku tiada mengetahui sedikit pun Sanad yang Shahih darinya, dan tidak juga (Sanad) yang Hasan. Wallahu A’lam.” At-Targhib Wat Tarhib (5/262) [3]

Kapan Catur Menjadi Haram?

Atas kecilnya kemungkinan ada larangan secara jelas dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap bermain catur akhirnya memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama antara haram atau tidaknya secara mutlak, dan hal ini sebenarnya telah dirangkum oleh Imam al-Mundziry, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan juga oleh al-Muhaddist as-Sakhawy, Rahimahumullah.

Imam al-Mundziry berkata: “Dan mereka berbeda pendapat dalam masalah bermain catur, sehingga sebagian Ulama berpendapat atas kebolehannya, karena bisa digunakan dalam urusan (strategi) perang dan tipu daya dalam perang, akan tetapi hal ini dengan tiga Syarat:

Pertama : Tidak menjadikan terlambat shalat dari waktunya disebabkan karenanya.

Kedua : Tidak ada di dalamnya judi (taruhan)

Ketiga: Menjaga lisannya saat bermain dari kata-kata keji dan kotor dan dari ucapan-ucapan buruk lainnya. Maka kapan saja seorang bermain catur atau melakukan sesuatu dari syarat-syarat tersebut maka dia adalah orang yang jatuh muru’ahnya serta tertolak persaksiannya. Dan di antara Ulama yang membolehkannya adalah Sa’id bin Jubair dan asy-Sya’by, Imam asy-Syafi’i memakruhkannya sebagai Makruh Tanzih (makruh biasa bukan makruh yang haram). Dan sejumlah banyak dari Ulama berpendapat atas Haramnya sama seperti hukum an-Nard. Dan penyebutan catur telah disebutkan di dalam beberapa hadits yang aku tiada mengetahui sedikit pun Sanad yang Shahih darinya, dan tidak juga (Sanad) yang Hasan. Wallahu A’lam.” At-Tarhib Wat Targhib (5/262)

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah maka beliau dengan jelas menghukuminya haram secara mutlak terlepas dari terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat di atas, sebagaimana hal ini beliau paparkan dengan rinci dalam fatwa beliau yang kini telah dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang populer disebut dengan al-Majmu’ul Fatawa (16/331-346) [4] dan pendapat ini juga adalah pendapat Mayoritas Ulama.

Dari sisi dalil pendapat yang dipaparkan Imam al-Mundzry lebih mendekati namun secara sikap maka menjauhi bermain catur tentu lebih utama. Wallahu A’lam.


[1] Cet Darunnawadir versi Pdf

[2] al-Irwa’ul Ghalil (8/288/ Hadits ke 2672) versi Pdf

[3] Cet. Darul Imam Ahmad -Mesir

[4] Cet. Darul Hadits -Mesir