Cara Terbaik Mempermalukan Diri Sendiri

Teduh.Or.Id – ‘Umar bin al-Khaththab pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab (pada hari kiamat).” Sebuah perkataan yang patut ditempel di dinding-dinding kamar atau kalau perlu ditulis di jidat sendiri lalu bawa cermin dan mengacalah setiap hari. Ucapan yang singkat saja, tapi maknanya begitu dalam dan menohok sekali. Dalam bahasa milenialnya: banyak ngaca woy!

Pada zaman ketika orang-orang gampang membanggakan diri sendiri—merasa baik dan berkualitas hanya karena jumlah like dan followers IG banyak, misalnya—mengoreksi dan menghisab diri sendiri barangkali adalah hal mahal. Menyingkir dari keriuhan dunia maya, menyendiri di masjid atau di kamar dalam keheningan sepertiga malam. Lalu menundukkan kepala dan menangis seraya merenungi baik-baik, bahwa diri ini banyak salah, banyak dosanya, sedikit amalnya, dan yang sedikit itu pun belum tentu Allah terima. Itu hal sulit. Padahal penting dan perlu.

Sebagaimana cara menghitung sepuluh tambah sepuluh ada banyak (menggunakan jari, kalkulator, sempoa, dan lain sebagainya), menghisab diri sendiri juga ada banyak caranya. Barangkali cara-cara berikut ini bakal ampuh atau setidaknya membuat kita tersadar. Bahwa kita ini tak ada apa-apanya. Apalah kita ini. Sudah dosa bejibun, sekalinya beramal baik merasa perlu untuk dipamerkan khalayak (marilah beristigfar berjamaah, dalam hati masing-masing).

Cara-cara berikut, jika kurang pas dikatakan sebagai cara menghisab diri sendiri, bolehlah disebut sebagai cara mempermalukan diri sendiri. Semacam cambuk agar diri senantiasa sadar dan tidak larut melulu dalam kelalaian.

1. Menyimak Riwayat-Riwayat Orang Terdahulu

Dalam banyak ayat Alquran, Allah menyebutkan pentingnya belajar dari sejarah, dari riwayat-riwayat orang terdahulu. Salah satunya dalam Surat Yusuf ayat 111, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat terdahulu) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”

Bacalah buku-buku sejarah dan menangislah keras-keras mendapati kenyataan bahwa kita ini tidak lebih berharga daripada sebutir debu. Dalam kisah-kisah masa lampau ada orang yang berani mati demi menegakkan kalimat Allah, ada orang yang mati karena mendengar ayat Alquran dibacakan saking takutnya, ada lelaki tujuh tahun sudah hafal Alquran, ada lelaki belasan tahun sudah jadi panglima jihad, dan lainnya yang jika disebutkan sudah sepantasnya membuat kita berniat pergi saja ke laut.

Percayalah, masa lalu bukanlah sekadar “ah, aku pernah disakiti, pernah dilukai”. Receh sekali. Ia lebih dari itu. Dengan meneropong masa lalu, menyimak riwayat-riwayat orang terdahulu, banyak pelajaran dan hikmah bisa kita raup. Soal ini, Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari (peristiwa yang dialami) orang lain.”

2. Perluas Pergaulan dan Wawasan

Kadang seseorang lupa diri dan merasa diri spesial bukan karena ia betul-betul hebat, tapi karena lingkar pergaulannya kelewat sempit dan wawasannya terbatas. Kalau pergaulan dan wawasan seseorang luas, maksudnya ia mengenal dan mengetahui banyak hal dan banyak orang – bukan orang-orang yang ‘lebih buruk’ darinya, tapi orang-orang yang ‘lebih baik’ darinya – niscaya tidak akan waktu untuk sok-sokan apalagi menyanjung diri sendiri. Kecuali jika ada kelainan di otaknya, dan untuk orang-orang seperti itu, biar saja tanah kuburan yang membikinnya sadar.

Jika seseorang bangga sudah hafal Alquran ketika berumur tujuh belas, misalnya, ketahuilah di Mauritania sana ada orang-orang yang belum akil balig sudah mutqin hafal Alquran dan banyak kitab lainnya, tapi mereka biasa-biasa saja. Hal ini bisa dianalogikan dengan banyak hal lainnya. Intinya adalah bahwa ketika seseorang merasa baik dan bangga sekali seolah-olah tidak ada yang lebih hebat darinya, ketahuilah di luar sana banyak orang lebih baik darinya. Tapi hal semacam ini tidak mungkin disadari kecuali bagi orang-orang yang mau membuka matanya lebih lebar untuk lebih banyak mengenal orang dan membaca buku.

3. Lupakan Segala Kebaikan, Ingat-ingat Kesalahan

Rumus hidup orang mukmin itu: melupakan kebaikan diri sendiri dan memperbanyak mengingat kesalahan. Sebab dalam ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis, Allah dan Rasul-Nya hanya memuji orang-orang yang beramal saleh, bukan orang yang mengingat-ingat amal salehnya; dan membenci orang-orang yang berbuat salah, bukan orang-orang yang mengingat perbuatan salahnya – justru mengingat keburukan sendiri akan mendatangkan pahala jika itu membuat diri menyesal dan terpacu untuk menjadi lebih baik.

Dengan mengingat-ingat keburukan diri sendiri seraya melupakan segala kebaikan yang pernah diperbuat, niscaya diri tidak akan khilaf untuk kelewat berbangga. Sebaliknya, malah akan membuat sadar diri, membuat diri senantiasa merasa kurang dan perlu diperbaiki. Dan memang demikianlah ciri seorang mukmin.

Itulah di antara cara-cara terbaik untuk mempermalukan diri sendiri, untuk menghisab diri, mencegah sifat ujub dan lupa diri. Dengan cara-cara demikian, insyaAllah akan membuat diri lebih fokus untuk memperbaiki diri, bukan membanggakan kebaikan sendiri yang belum tentu juga diterima oleh Allah… (*)

Penulis: Erwin Setia

One thought on “Cara Terbaik Mempermalukan Diri Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.