Cara Menjawab Pertanyaan Mengusik Dosa Yang Mestinya Dirahasiakan

Menutupi dosa yang telah terjadi hukumnya Sunnah, Imam Al-Bukhari berkata; “Bab tentang orang beriman menutup atas dirinya sendiri”, makna perkataan ini seperti yang dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah;

أي إذا وقع منه ما يعاب فيشرع له ويندب له

“Yaitu apabila sesuatu yang tercela terjadi pada dirinya maka disyariatkan baginya dan disunnahkan (menutupinya).” (Fathulbari 10/489)

Sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam –yang menjadi pokok argumen dalam masalah ini adalah hadits berikut ini ;

كل أمتي معافى إلا المجاهرين، وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملا، ثم يصبح وقد ستره الله عليه، فيقول: يا فلان، عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربه، ويصبح يكشف ستر الله عنه

“Semua ummatku dimaafkan kecuali orang-orang yang Al-Mujahar (mengumbar), dan sesungguhnya bagian dari al-Mujaharah (mengumbar) adalah ketika seorang berbuat dosa di malam hari dan Allah telah menutupinya di malam itu kemudian esoknya ia berkata; “Ya fulan, semalam aku berbuat begini, dan begitu,…” dan sebenarnya ia telah melewati malam dalam keadaan dosanya telah ditutupi oleh Rabbnya, dan keesokan harinya dia menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – menjelaskan;

أن الحديث مصرح بذم من جاهر بالمعصية فيستلزم مدح من يستتر وأيضا

“Sesungguhnya (saat) hadits ini dengan lugas menerangkan tentang ketercelaan orang yang mengumbar maksiat maka konsekuensi dari hal itu berarti memuji orang yang menutupi maksiatnya juga.” (Fathulbari 10/490)

Jika memang disunnahkan menyembunyikan dosa, lalu bagaimanakah sikap seorang jika ia berada dalam sikon formal atau pun tidak formal, di situ ia ditanya apakah dia pernah melakukan dosa ini, atau dosa itu? bagaimana cara menghindar dari jawaban sesungguhnya? 

Ada dua jalan keluar yang dibolehkan dalam masalah ini, pertama melakukan Ta’ridh, yang kedua mengambil langkah berdusta. Ta’ridl sendiri artinya;

ذكر لفظ محتمل يفهم منه السامع خلاف ما يريده المتكلم

“Menyebut kata yang maknanya mengandung lebih dari satu makna, dimana orang yang mendengarnya kemudian memahami makna lain dari yang diinginkan oleh orang yang berkata.” (Syarh Sahih Adabul Mufrad 2/457)

Metode ini dibolehkan karena dalam hadits disebutkan :

إن في معاريض الكلام مندوحة عن الكذب

“Sesungguhnya perkataan Ta’ridh adalah jalan luas untuk menghindari berdusta.” (Sahih Adabulmufrad 319)

Cara ini menurut sebagian ulama boleh dilakukan dalam kondisi terdesak demi menghindari berdusta, namun jika dalam kondisi tidak terdesak maka tidak diperkenankan. (Syarh Sahih Adabul Mufrad 2/457)

Cara yang kedua adalah mengambil jalan berdusta demi menghindari Al-Mujaharah, hal ini dibolehkan berdasarkan kaidah berikut ini,

Dalam kitab Ghidza’ul Albab Fi Syarh Manzhumatil Adab (1/105) karya Syaikh Muhammad Assafariniy Al-Habaliy cet. Dar kutub Al-Ilmiyah,  disebutkan;

عن الإمام الحافظ بن الجوزي أن ضابط إباحة الكذب أن كل مقصود محمود لا يمكن التوصل إليه إلا به فهو مباح، وإن كان ذلك المقصود واجبا فهو واجب، وكذا قال النووي من الشافعية

“Dari Imam Al-hafizh Ibnul Jauziy – rahimahullah – bahwa batasan bolehnya berdusta adalah “Setiap maksud tujuan terpuji yang tidak mungkin diraih kecuali dengan berdusta maka hukumnya boleh, dan jika maksud tersebut adalah sesuatu yang wajib maka berdusta menjadi wajib, dan demikian juga yang dikatakan Imam Al-Nawawiy dari Ulama Al-Syafi’iyyah.”  

Dan kemudian di antara contoh yang disebutkan di bawah kaedah ini adalah berdusta demi menghindari Al-Mujaharah. (1/109)

Ringkasnya, ada dua cara yang boleh dilakukan untuk menghindari pertanyaan yang jawabannya mengharuskan seorang menceritakan dosa yang telah ia sembunyikan, yaitu dengan melakukan Al-Ta’ridl atau berdusta. Demikian Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.