Buya Hamka; Penjaga Moral Bangsa

“Hamka dengan segala kekuatan dan kelemahannya telah bersatu padu dengan keindonesiaan”

(Ahmad Syafii Maarif)[1]

Bangsa ini lahir atas perjuangan kaum muslimin, menegakkan panji kemerdekaan dengan jerih payah disertai semangat fi sabilillah. Menggunakan strategi angkat senjata hingga diplomasi di atas meja, mengerahkan tenaga rakyat hingga para aghniya dengan usahanya masing-masing. Berjibaku merumuskan dasar negara dari ide sampai dengan gerakan bersama. Kaum muslimin yang selalu mengalah demi terwujudnya bangsa Indonesia, adalah mereka yang sejatinya merawat bangsa ini dengan akal pikiran dan hati nurani. Mempertaruhkan segala hal agar bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki peradaban dan kejayaan diatas moralitas, sebagai bagian dari entitas keislaman dunia. Bangsa yang lahir dan besar bersama bimbingan para ulama, selain upaya kaum muslimin lainnya yang berjuang sebagai cendikia dan pengusaha.

Namun, sejak adanya gelombang liberalisme dan kapitalisme, didukung pula dengan gerakan sosialisme dan komunisme secara senyap. Bangsa yang memiliki pemeluk agama Islam terbesar di dunia ini, mengidap krisis yang masih dalam tahap menyesakkan dada. Gelombang perang pemikiran (ghazwul fikri)[2] berkelindan di dalam pikiran anak-anak kaum muslimin hingga sekarang, ghazwul fikri sebagaimana yang dipahami Hamka ialah suatu teknik propaganda hebat melalui segala jalan, baik kasar maupun halus, dari sisi kebudayaan maupun ilmiah agar cara berpikir dunia Islam berubah dari dasarnya, tanpa menyadari bahwa satu-satunya jalan yang benar supaya orang Islam maju adalah dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran Islam. Untuk itu tak perlu lagi berpindah agama, tetap menjadi orang Islam, tetapi tidak lagi meyakini ajaran Islam, kecintaan akan dunia berakar dengan ribuan serabut dalam dada, ditambah lagi dengan sikap acuh, egois, apatis, dan pola pikir pragmatis menjadikan bangsa besar ini kehilangan arah kesadaran, jauh dari harapan para pendiri bangsa yang sebagian besar para pejuang muslim, yang telah mengerahkan tenaga dan pikirannya demi membangun sebuah negara bernama Indonesia.

Namun, apapun yang terjadi, sebagai sebuah bangsa yang kemerdekaannya diperjuangkan dan bukan sebagai hadiah, sebagai sebuah negara dengan mayoritas penduduknya mengilzamkan kalimat Tauhid di dalam dada, kita tentu tidak boleh berdiam diri, sebagaimana konsepsi yang dinyatakan oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas, “Bagaimana pun, kita bukanlah kaum yang boleh putus harapan, dan dari itu maka tidak boleh berdiam saja membiarkan cabaran zaman berlalu tanpa tantangan. Kini kita sudah tiba semula di ambang sejarah, dan kesadaran umat sudah mulai membangkit. Dalam kematangan suasana kesadaran ini tentu akan lahir kelak para ilmuwan sejati yang mampu memainkan peranannya menuntut bela keadilan dan kebenaran.”[3]

Dan, bangsa ini kembali membuktikan, bahwa semangat untuk berislam dengan baik senantiasa sejalan dengan munculnya kedzaliman yang ada, disaat sebagian besar mereka, kaum kuffar menciptakan makar bersama para munafik atau yang di hatinya terdapat penyakit terhadap Islam, disaat bersamaan, Allah juga menyiapkan makar bagi mereka, sebagaimana yang Allah firmankan:

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran : 54)

Mereka (orang-orang Kafir) pun berupaya memadamkan cahaya Allah di muka bumi ini dengan ucapan dan pengingkaran yang mereka lakukan, menakuti-nakuti kaum muslimin agar gentar, dan menjadikan pikiran mereka untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, namun Allah senantiasa hadir menjaga agama yang telah ia ridhai, sekaligus agama yang menjadi petunjuk keselamatan bagi umat manusia, dalam firman-Nya:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah : 32)

Salah satu bentuk penjagaan yang Allah berikan bagi bangsa ini, adalah senantiasa ada para ulama yang terus membela kehormatan agamanya, mencintai bangsanya, dan menyayangi rakyatnya. Melakukan bimbingan kepada umat, memberikan keyakinan kepada kaum muslimin, dan tak jarang menjadikan dirinya sendiri sebagai korban atas pembelaannya dihadapan para penguasa lalim. Bangsa ini, harus berterima kasih pada kesederhanaannya, kejujurannya, kefasihan dalam berbicara, serta buah pikir yang telah ia sumbangsihkan secara nyata dalam bentuk ide dan gagasan, baik berupa lisan maupun tulisan. Ia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal dengan Buya Hamka.

Hamka Dalam Proses Belajar Penuh Cerita

Patut kita camkan, bahwa ulama tidak turun dari langit. Ulama juga tidak dilahirkan. Tetapi, ulama lahir dari sebuah proses pendidikan. Buya Hamka, misalnya, lahir dari sebuah proses pendidikan yang ideal. Ia dididik langsung oleh ulama-ulama hebat di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Ia diajar dan dididik langsung oleh ayahnya. Ia belajar kepada Haji Agus Salim, Buya Malik Ahmad, dan sebagainya. Hamka juga muncul dan teruji sebagai ulama setelah terjun ke tengah masyarakat. Menurut Hamka, ia sempat dicegah Haji Agus Salim ketika bermaksud tinggal bertahun-tahun untuk belajar di Arab Saudi. Tujuannya agar Hamka langsung terjun ke tengah masyarakat.[4]

Hamka adalah sosok putra bangsa yang lahir dari didikan seorang ulama, ayahnya, yakni Haji Rasul mendidiknya penuh dengan ketegasan. Sampai ia melabelkan ayahnya dalam Kenang-kenangan Hidup Jilid I seperti dikutip oleh Hendri F. Isnaeni ialah “Perasaan kepada ayah lebih banyak bercampur takut, daripada sayang.”[5] Dan memang betul kiranya, bahwa sang ayah menghadirkan ketegasan demi menjadikan dirinya seorang ulama, menggantikan posisinya dikemudian hari sebagaimana umumnya para ulama kita kenal kini, di tengah masyarakat yang berharap akan ilmunya. Namun, anak-anak tetaplah anak-anak, ia hidup dalam kisah kenakalan-nya versi para orangtua masing-masing.

Padahal kenakalan adalah tanda kecerdasan yang hanya perlu diarahkan, jika menurut ilmu Psikologi kekinian, adalah anak-anak mencari sisi nyaman, sehingga kadang bagi anak sesuatu yang membuatnya nyaman tersebut menjadikan ia dianggap nakal oleh orangtuanya, seperti yang diungkap oleh Toge Aprilianto bahwa secara alamiah, manusia adalah makhluk penikmat kenyamanan dan kebutuhan itu selalu berada dalam keadaan “disini dan sekarang”. Setelah mendapatkan kenyamanan, orang akan merasa mendapatkan perhatian dan pada saat itulah orrang akan lebih membuka diri.[6] Jadi wajar jika seorang Hamka mencari nyamannya, yang mungkin hal itu menurut orangtuanya bertentangan dengan apa yang ayahnya harapkan pada beberapa keadaan. Terlebih bagi seorang Haji Rasul yang ditakdirkan menjadi tokoh terbesar di generasi kaum muda. Dia (Haji Rasul) putra seorang Syaikh Naqsyabandiyah dan menghabiskan tujuh tahun di Mekah sebelum kembali ke Sumatera pada 1906.[7]

Di rumahnya Hamka merasa tak kerasan atas didikan ayahnya, kadang ia dapati bahwa apa yang diperintahkan orangtuanya tentang kebaikan, tidak selaras saat ia melakukannya, Hamka kerap serba salah tentang hakikat dan makna pendidikan itu sendiri.

Lantaran itu dan beberapa sebab yang lain dia lebih suka banyak jalan. Bermain jauh-jauh, mengelak dari rumah. Banyak benar peraturan di rumah yang berlawanan dengan hatinya. Dia hendak berbuat baik menolong orang. Membela tetapi di rumah dilarang. Rupanya ada beberapa fatwa yang diberikan ayahnya, tetapi dia sendiri tidak boleh melakukan. “Akan selamatlah suatu bangsa kalau orangtuanya dan guru-guru mengenal jiwa anak-anak sewaktu demikian.”[8]

Proses belajar seorang Hamka tidak berhenti, titik balik yang Hamka dapat, saat ia belajar bersama seorang guru bernama Sutan Marajo, pelajaran yang ditekuni kala itu ialah Bahasa Inggris. Padanya Hamka baru terbuka pikirannya tentang belajar itu sendiri. Belum selesai pelajaran, Sutan Marajo pergi ke Padang tergiur dengan penghasilan yang lebih besar, meranalah seorang Hamka, hingga ia berkata pada dirinya, “Ke mana dia hendak pergi? Apa yang akan menarik hatinya? Usia telah 12 tahun. Kepada ayah takut. Mengaji tidak menarik hati. Kursus bahasa Inggris tidak terus.”[9]

Hamka muda adalah pribadi yang bengal, ia nakal, dan tak terkendali. Sehingga maklum bila akhirnya saat ia sekolah desa dan diniyah, anak-anak perempuan suka mengatai, “SI Malik nakal”, “Si Malik jahat!”[10] dan terbukti apa yang ia dapati saat masa kecil, diulangi lagi saat ia muda. Kenangan itu tersimpan benar dalam ingatan seorang Taufik Ismail, dari ayahnya yang berteman sekelas dengan Hamka saat di Sumatera Thawalib yakni A. Gaffar Ismail. Cerita yang menjadi favorit seorang ayah saat hidup bersama Hamka.

Taufik Ismail menuturkan, “Malik, yang terkenal bengal, pada suatu hari memanggil ayah saya, yang disuruh memejamkan mata. Sang junior itu tentu patuh memicingkan matanya, Malik senior menggosok-gosok telunjuk ke leher, mengumpulkan daki di ujung jarinya. Sang junior disuruhnya membuka mulut. Ayah saya membuka mulut, mata masih terpicing. Malik memasukkan daki sebesar butir beras ke dalam mulut ternganga itu.”[11]

Jauh dari itu semua, Hamka menemukan fitrah belajarnya dengan baik, ia menggemari bacaan sejak muda. Bahkan tak sampai disana saja, demi memenuhi hajatnya untuk terus membaca. Ia rela untuk bekerja dalam sebuah percetakan milik Engku Bagindo Sinaro saat berusia 12 tahun, hal ini karena semangat membacanya tak pernah redup. Dalam kisahnya, ia bisa menamatkan buku dalam satu hari saja. Tentu buku yang ia baca, berasal dari banyak genre, hingga pernah sang ayah menghardiknya, “Apakah engkau akan menjadi orang alim atau akan jadi tukang cerita?”[12] Selaras dengan itu semua, seperti yang dikisahkan oleh Irfan Hamka, putra ke lima beliau, bahwa sejak usia 13-14 tahun, Hamka telah membaca tentang pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, Hamka pun berkutat pada ide-ide pemikiran seorang HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, H. Fachruddin dan lainnya,[13] yang membuat tekadnya bulat untuk pergi ke Jawa tanpa sepengetahuan ayahnya.[14]

Perjalanan Hamka menjadi seorang sosok di masa depan sudah dimulai, ia mengambil resiko menempuh jarak ke Jawa demi menguatkan jiwanya dan mencari identitas yang ia cari. Bahwa nakal itu adalah mula-mula, awalan sebelum ia menemukan fitrah hidupnya.

Hamka muda belajar langsung dengan pendiri bangsa di Jawa, sebagaimana dengan para pemuda umumnya yang mencintai dan berkeinginan kuat dalam merawat bangsanya. Itulah hakikat yang oleh J.J Rizal dikatakan sebagai mewakili semangat muda sebenarnya, tentang sukses pemuda terletak pada political will pemuda itu sendiri dalam melembagakan nilai dan hasrat meraih kemanusiaan yang modern, maju, dan progresif. Ada subjektivitas disini tapi lahir dari panggilan universal. Melewati yang nafsi-nafsi demi kemaslahatan bersama. Lahirlah pergerakan. Dalam konteks itu, pada mereka ada keberanian moral buat menunda datangnya imbalan dan jerih payah belajar dan menempuh jalan panjang penuh rintangan dan kesulitan.[15]

Hamka Dalam Dakwah Lisan dan Tulisan Sebagai Ruhnya

Pertemuannya dengan tokoh Muhammadiyah di Jawa, membawa dirinya kembali ke Padang Panjang dengan melalui Lampung, Palembang dan Benkulen menyebabkan Hamka mendapat sambutan meriah ditempat-tempat yang disinggahinya.[16] Di Padang ia perlahan mengajarkan Tabligh Muhammadiyah dengan mendirikan sekolah untuk mendidik kader Muhammadiyah di kampung halamannya, Hamka mempratikkan ilmunya dengan mengadakan kursus pidato, membuat majalah dengan nama Khatibul Ummah serta menahbiskan dirinya sebagai pemimpin redaksi disana.[17]

Muhammadiyah diperkenalkan oleh menantu Haji Rasul yakni Buya A.R St. Mansur yang bermukim di Pekalongan. Setelah tertarik maka Haji Rasul pada tahun 1921 membawanya ke Sumatra. Meski selalu menyatakan bahwa dirinya bukan seorang politisi, namun Haji Rasul betul-betul memanfaatkan Muhammadiyah  untuk membangun sebuah kekuatan politis baru, dibantu oleh putranya (Hamka) dan menantunya (A.R. St. Mansur). Karakter Haji Rasul yang begitu kuat dan dominan bahkan membuat karakter Muhammadiyah di Sumatera Barat berbeda dengan karakter induk organisasinya di Jawa. Jika di Jawa, misalnya, Muhammadiyah bersikap kooperatif, maka di Sumatera Barat, Muhammadiyah sangat keras menentang Belanda, terutama dalam aturan Guru Ordonnantie.[18]

Muhammadiyah adalah sesuatu yang tak asing bagi seorang Haji Rasul, sebab bersama dengan Ahmad Dahlan di Yogyakarta, setelah sang ayah mengunjunginya, memiliki adanya kesamaan visi tentang reformisme Islam. Bagi mereka berdua membangun pendidikan adalah asas. Dan pendidikan yang layak di dunia modern saat itu adalah melalui didirikannya sekolah. Hal ini diniatkan sebagai kritik atas pendidikan sistem tradisional pembelajaran pesantren yang dinilai “tidak tahu aturan”.[19]

Menjadi seorang Muhammadiyah membuat sang Ayah, Engku Doktor atau Haji Rasul atau Karim Amrullah bangga. Menjadikan ayahnya terharu dan sangat membesarkan hatinya. Terlebih saat mengetahui bahwa Hamka diutus oleh Pengurus Besar Muhammadiyah pergi menuju Makassar jelang Kongres Muhammadiyah ke XXI disana. Makin bangga ayahnya saat Hamka menyampaikan urusan tersebut kehadapan si ayah kala memberikan pengajian dihadapan ibu-ibu yang sedang mengikuti majelis ayahnya tersebut. Hingga tak sedikit ibu-ibu memberinya uang titipan sampai penuh saku baju Haji Datuk Indomo[20].

Berangkatlah Hamka ke Makassar, kewajibannya sebagai Muballigh membangkitkan semangat kaum Muhammadiyah menghadapi dan memikul kongres dengan baik. Ia mendapat pengalaman memimpin! Dan ia bertambah insaf akan pentingnya ilmu pengetahuan, terutama dalam hal agama. Selama di Makassar, Hamka juga menerbitkan majalah Islam yang diberi nama Al Mahdi, sama nasibnya dengan Khatibul Ummah, Hamka kembali menjadi pemimpin redaksinya.[21]

Hamka semakin mencintai dunia tulis-menulis, ia menjajal berbagai profesi termasuk diantaranya menjadi juru warta.Rosihan Anwar memaparkan tentang Hamka bahwa ia wartawan yang memiliki gaya bahasa, style yang bercorak tersendiri, khas, sukar dicari taranya. Sekalipun Hamka tidak pernah magang di Fleet Street London atau membahas buku-buku teks jurnalistik karya profesor-profesor Universitas Columbia New York. Ia juga bukan sekedar wartawan-tulis, melainkan juga wartawan-bicara, artinya ahli pidato (tidak semua wartawan merangkap kedua sifat itu pada dirinya).[22]

Dakwah Hamka dalam bidang karya tulis sebagaimana yang dituliskan oleh Rusydi Hamka dalam Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr Hamka menorehkan tidak kurang 118 karya. Karya-karya itu ditulisnya sejak 1925 atau saat Buya menginjak 17 tahun![23] Lengkap sudah jalan hidup Hamka sebagai seorang Mubaligh umat ini pada eranya, apa yang beliau tinggalkan dalam dakwah, menjadi penyemangat para dai hari ini seharusnya. Ia mencurahkan segala pikiran dan waktunya untuk terus memperbaiki keadaan umat, menggalakkan dakwah dalam segala aspek, menulis sejarah dan sastra yang barangkali sudah sulit untuk dilakukan hari ini secara bersamaan di tengah arus teknologi yang menjadikan manusia memiliki gaya hidup instan. Buya Hamka sebagai misal, ia menyelesaikan tulisannya tentang Sejarah Umat Islam setebal 960 halaman versi Pustaka Nasional Singapura. Ia tulis dalam kurun masa 22 tahun dari tahun 1939 sampai dengan 1961.

Salah satu upaya untuk menjaga semangat dan moral bangsa ia sampaikan pada bagian Prakata buku Sejarah Umat Islam, “pengarang sangat terdesak untuk memikirkan hal-hal yang lain, di antaranya masalah revolusi negara yang semangatnya sedang meluap-luap, di mana setiap orang yang berjiwa agama dan berkebangsaan ikut berevolusi sama, masing-masing dalam bidangnya, yang mana bidang pengarang nyata sekali, iaitu semangat agama, yang biasanya dalam mana-mana revolusi pencapaian kemerdekaan semangat agama itu memainkan peranan yang penting sekali, di samping semangat pengorbanan jiwa dan raga.”[24]

Selain itu, salah satu peninggalan monumental Hamka dalam bidang tulisan, adalah karya tafsirnya. Tafsir yang dihimpun dari kuliah subuh Hamka di Masjid Al Azhar yang dimulai sejak tahun 1958, hingga ia selesaikan di dalam penjara dengan jumlah 30 Juz. Tafsir yang diberi nama Al Azhar, dan dijadikan nama bagi lembaga pendidikan besar di Indonesia yang sedang berkembang pesat hingga jenjang universitas hari ini. Menurut Musyrifah Sunanto, dalam tafsir ini Hamka mendemonstrasikan keluasan pengetahuannya dihampir semua disiplin ilmu-ilmu agama Islam. Kupasannya sudah modern. Tafsir Al Azhar menunjukkan corak yang luas. Hamka seperti mufasir lain, juga mengutip ayat Al Quran dan hadis nabi dalam menafsirkan. Lebih jauh lagi, menurut Musyrifah Sunanto, Hamka memasukkan hal baru dalam penafsirannya, yaitu lapangan antropologi dan sejarah Nusantara.[25]

Dalam perkembangan zaman, Hamka dihadapkan pada era kepemimpinan yang menempatkan absolutisme tertinggi pada seorang presiden. Di masa Soekarno, Hamka dimata-matai, diawasi pergerakan dakwahnya, dipantau ceramahnya, hingga akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Era Soekarno yang perlahan semakin dekat dengan komunisme dan sosialisme, menjadikan tokoh-tokoh umat ditangkap, nama-nama itu diantaranya adalah Yunan Nasution, Mohammad Roem, Sutan Sjahrir, Subadio Sastrosatomo, Prawoto Mangkusasmito, dan tidak ketinggalan K.H Isa Anshary.

Seperti yang dituturkan oleh Lukman Hakiem dalam Merawat Indonesia, di waktu Maulid Nabi yang diselenggarakan pada RTM, Pusroh TNI-AD mengundang Hamka sebagai penceramah saat itu. Hamka bercerita tentang perjuangan Ibnu Taimiyah yang terpaksa meringkuk dalam tahanan selama lebih dari tujuh tahun lantaran mempertahankan cita-cita dan keyakinannya. Di dalam penjara, Ibnu Taimiyah terus menerus menuangkan pemikirannya sehingga setelah bebas dari penjara terbitlah buku-bukunya yang ditulis selama masa uzlah itu. Singkat cerita, setelah usai acara, kawan-kawan mengantar Hamka sampai pintu bui dan Yunan Nasution yang merupakan kawan sesama pengasuh Pedoman Masjarakat di tahun 1930-an memintanya untuk bermalam. Namun Hamka menjawab, “Lain kali sajalah”. Tentu tidak terpikir oleh Hamka bahwa kata tersebut akan menjadi konsekuensi yang ia akhirnya jalani selama 3 tahun, setelah setahun kemudian ia memberikan ceramah tentang Ibnu Taimiyah dihadapan kawan-kawannya dulu.[26]

Hamka ditahan karena kedzaliman yang dilakukan oleh Orde Lama, ia dianggap dalam upaya rencana pembunuhan Soekarno sehingga terjerat dalam Penpres No. 11 Tahun 1963 Tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi, ada tiga skenario penjeratan yang disandarkan pada Hamka: terlibat dalam rapat gelap di Tangeranf mengenai rencana pembunuhan presiden, turut dalam rencana kudeta, dan menerima uang dari PM Malaysia Tunku Abdul Rahman Putera; memberi ceramah subversif di Pontianak; dan memberi kuliah subverisf di IAIN Ciputat.[27]

Zaman berubah, Orde Baru berkuasa, namun penguasa masih memberikan rasa curiga kepada dakwah Islam, tuduhan-tuduhan makar dan subversif kerap dilayangkan kepada para pendakwah, terkhusus bagi mereka yang dianggap memiliki pola-pola pemikiran seperti orang-orang Masyumi yang sejak dahulu selalu dilabelkan sebagai Anti Pancasila. Para dai dicurigai, muatan dakwahnya tak jarang diselidiki dan dilihat sebelum disampaikan. Hingga beredarnya Surat Izin Mubaligh (SIM). Namun Hamka yang masih ada saat itu tak tinggal diam, ia menyuarakan dengan lantang dan secara terbuka bahwa ia menentang keras dan mengumumkan bahwa ia akan berhenti sebagai khatib kalau konsep khutbahnya harus diperiksa aparat lebih dulu.[28]

Selain itu, Hamka juga dikenal sebagai tokoh sastra yang berpengaruh pada masanya. Ia pernah bersengketa tentang sastra dengan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang Hikayat Tuanku Rao dan memberi bantahan akan itu dalam karyanya Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Tak sampai disana, ia juga pernah dianggap melakukan plagiasi atas novelnya berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang dituduh sama dengan karya Mustafa Al Manfaluthi (penyair Mesir) yang berjudul Al Majdulin atau Magdalaine. Tak sampai disana, soal sastra juga membawa nama Hamka ke meja pengadilan saat menggugat cerpen berjudul Langit Makin Mendung karya penulis dengan nama samaran Kipandjikusmin pada majalah Sastra bertanggal tahun 8 Agustus 1968 yang digawangi oleh H.B Jassin, yang berakhir dengan saling meminta maaf satu sama lain.

Hamka telah menempatkan dirinya sebagai ulama besar, pujangga, sastrawan, wartawan. Menurut Rosihan Anwar, seandainya beliau hidup dalam zaman Renaissance Eropa, maka sesuai dengan cita-cita masa itu orang menamakan beliau dengan “Homo Universale”, insan universal yang luas cakrawala tinjauannya, yang dalam timbaan ilmu pengetahuannya.[29]

Hamka Menjaga Moral Bangsa

Sejak muda, telah aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah. Menggunakan lisan dan tulisan yang dimiliki untuk membimbing kaum muslimin Indonesia. Berbagai polemik telah dilalui, berbagai konferensi telah diikuti, pengarahan kepada umat senantiasa diberikan baik secara pribadi maupun melalui Majelis Ulama Indonesia, diantaranya yang menimbulkan kontroversi adalah tentang hukum haramnya perayaan Natal bersama. Keberaniannya, keteguhannya telah membuat dirinya di bui. Saat di bui pun, tidak menghalangi tangan dan pikirannya untuk terus menulis, tentang kisah selama dalam uzlah yang dikirimkan melalui tangan anaknya; Rusydi, atau juga tentang Tafsir Al Azhar yang Allah beri kemudahan dalam penyelesaiannya di dalam bui.

Pesan-pesan Hamka bertebaran dalam banyak karyanya, yang ia pesankan secara terus menerus kepada bangsa ini adalah untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam mengibadahi Allah Ta’ala (Tauhid), menapaki jalan syariat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan terus-menerus memperbaiki akhlak terhadap sesama manusia.

Arahan Hamka tentang Islam, senantiasa melibatkan nilai kebangsaan, betapa Hamka sangat peduli terhadap kaum muslimin terlebih bangsa ini pada umumnya. Seperti yang ia katakan, agama Islam adalah agama yang menyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil sebab-sebab mencapai kemuliaan, ketinggian, dan keagungan dalam perjuangan hidup bangsa-bangsa. Bahkan, agama Islam menyerukan menjadi yang dipertuan di dalam alam dengan dasar keadilan, memungut kebaikan di manapun juga bersuanya, dan memperbolehkan mengambil peluang mencari kesenangan yang diizinkan.[30]

Hamka juga berupaya mencarikan solusi atas apa yang terjadi di bangsa ini, bagi beliau ada tiga hal saja. Yakni tentang tiga macam kepercayaan dan tiga macam sifat, yang setelah diselidiki, sangat besar pengaruhnya bagi kemajuan suatu bangsa, tiang tengah dari kemuliaan masyarakat, sendi teguh dan pada kemajuan dunia. Tiga macam kepercayaan itu ialah:[31]

  1. Bahwa manusia itu makhluk yang termulia derajatnya dengan alam
  2. Penganut tiap-tiap agama mempercayai bahwa penganut agamanyalah yang paling mulia
  3. Mempercayai bahwa manusia ini hidup di dunia bukan untuk dunia. Dia ke dunia hanya singgah, di dunia itu dia menyiapkan diri untuk mencapai budi pekerti “utama”, sebab dia akan menempuh suatu alam yang lain yang lebih luas dari alam sekarang dan lebih tinggi. Dia akan pindah dari negeri sempit ke negeri lapang, dari negeri tipu-daya kepada pembalasan yang kekal, yang kebahagiaannya tidak luntur-luntur dan keberuntungannya tidak habis-habis

Tiga sifat yang ditimbulkan agama:

  1. Perasaan malu. Yaitu rasa enggan hendak mendekati suatu pekerjaan yang tercela
  2. Bisa dipercaya di dalam pergaulan hidup bersama (amanah)
  3. Benar dan lurus (shiddiq)

Perhatikan pula bimbingan Hamka dalam menampakkan nilai Tauhid untuk meruntuhkan lemahnya manusia, Di zaman modern muncul orang-orang yang menepuk dada mengatakan dialah yang lebih berkuasa. Namanya dipuja orang setinggi langit. Kepada Mussolini, orang mengatakan “El Duce”, kepada Hitler, orang mengatakan “Fuhrer”. Setelah sampai di puncaknya, Bung Hitler terpaksa bunuh diri bersama pelayannya dan Mussolini digantung bersama pelayannya pula. Untuk memperbaiki kepercayaan yang karut marut inilah Allah Ta’ala mengutus rasul-rasul-Nya ke dunia fana ini. Rasul-rasul-Nya memberitahu kepada manusia bahwa Allah Taala hanya satu, tiada bersekutu. Nabi-nabi dan rasul-rasul boleh dikatakan datang membawa satu inti seruan dan satu maksud.[32]

Tidak berhenti sampai disana, dalam menjaga moral bangsa ini, Hamka memusatkan perhatiannya pada individu terlebih dahulu, individu diajak oleh Hamka untuk merenungi hakikat takdir, yang tentunya memiliki relasi atas ketauhidan. Orang diajak untuk memahmi bahwa hidup harus dihadapi, sebab betatpapun kesulitan yang dihadapi, hidup itu menurut apa yang telah ditentukan oleh Allah, tidak lebih dan tidak kurang. Apabila iman telah teguh maka kepercayaan kepada takdir menimbulkan dinamika yang kuat dalam diri. Kepercayaan kepada takdir bukanlah berarti menyerah kalah, tetapi menggiatkan usaha dan menimbulkan ilham.[33]

Dalam hal akhlak pun demikian, akhlak sebagai sebuah perkara yang sangat berhubungan moral, dijunjung tinggi oleh Hamka, dalam Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam dikatakan, yang lebih penting ialah menunjukkan bagaimana kesejatian akhlak Islam. Sudah beratus-ratus tahun pihak agama lain, terutama kaum zending dan misi Kristen membuat propaganda mengatakan bahwa agama Islam itu bukanlah agama yang mempunyai akhlak. Agama Islam tidaklah suatu agama yang bertoleransi. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, adalah orang yang memajukan agamanya dengan kekerasan, dengan pedang dan agama Islam menganjurkan agar pemeluknya selalu melakukan poligami. Fitnah buruk yang diajarkan di mana-mana sehingga rasa bencilah yang tertanam dalam otak mereka bertahun-tahun. Jika ummat Islam menunjukkan dan membuktikan akhlak Islam sejati di hadapan mata mereka, dalam pergaulan dengan mereka, tidaklah akan dapat mereka itu bertahan dengan fitnah dan kebusukan yang diajarkan dan difitnahkan itu. Tempat mereka bertahan tidak lain hanyalah rasa benci dan dendam. Namun, kita kaum Muslimin harus menunjukkan bahwa benci kita balas dengan kasih, dendam kita balas dengan sayang![34]

Jadi tidak heran, bila kaum muslimin yang baik adalah yang sempurna akidahnya, dan tidaklah mungkin sempurna akidahnya apabila ia tidak menegakkan akhlak baik dalam dirinya. Dua hal tersebut yang dilaksanakan secara konsisten, diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kelak akan meghadirkan keamanan, kenyamanan, solidaritas, kekuatan, serta ketinggian nilai moral dari suatu negeri. Moral yang semakin rusak, justru tak jarang dihinggapi pada diri para calon pemimpin bangsa ini, terlebih di masa status politik yang tak menentu. Saling serang, saling ejek, saling sindir, dan saling menjatuhkan sudah menjadi keharusan. Saling intai, melihat kekuatan dengan cara yang picik, hingga tak jarang menjatuhkan kehormatan adalah hal yang wajar. Disinilah Hamka geram dalam menyoroti permasalahan tersebut.

Dalam Keadilan Sosial dalam Islam, Hamka berujar, bukankah pertentangan di antara satu artai dengan partai yang lain –yang mulanya hanya karena hendak melancarkan pemerintahan karena melaksanakan ideologi partai- telah berubah menjadi pertentangan perseorangan? Sebab setiap kali pemimpin satu partai berkumpul di suatu tempat, antara dia dengan pengikutnya, yang menjadi pembicaraan di dalam majelisnya, tidak lain adalah mencela diri pemimpin partai lawannya. Diadakan badan penyelidik untuk mengetahui kelemahan lawan. Dicari keburukannya lalu dibesar-besarkan, dan dilupakan keburukan golongan sendiri. Padahal dalam surah Al Hujuraat juga dinyatakan peringatan, “…(karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…” (al-Hujuraat:11).[35] Lalu dimana moral seseorang diletakkan? Dimana kehormatan dijaga? Pergi kemana kemuliaan dan saling memuliakan akhirnya? Semua selesai karena buruknya akhlak satu sama lain, dan alpanya mereka tentang hakikat mencapai tujuan sebenarnya untuk membangun bangsa.

Hamka sangat menyadari, di masa ia hidup, Pancasila dijunjung tinggi. Dituntut untuk dilaksanakan segala amarannya. Dipertahankan dalam dada, dan dipraktekkan hingga dalam keluarga. Pancasila dianggap sebagai penjaga moral bangsa dengan sila-sila yang ada. Namun, bagi Hamka, lambat laun esensinya sirna. Pergi seiring dengan pola pikir yang kian apatis. Kekhawatiran Hamka tersebut diungkapkan dengan perkataan, kita memandang ini hanya sebagai seorang pencinta negara, yang katanya berdasar Pancasila. Kalau di mana-mana bertemu slogan “Amankan dan Amalkan Pancasila” maka jeadaan sekarang ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak aman dan tidak jadi amal lagi.[36]

Yang mengancam bangsa dan negara sekarang ini ialah keruntuhan total. Mereka di luar masih sebuah negara yang merdeka, tetapi jiwa raga bangsa hancur dari dalam, jatuh ke dalam penjajahan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Bangsa ini sedang diracun, atau meminum racun bunuh diri, dengan runtuhnya akhlak, merajalela maksiat. Dalam gelombang besar maksiat dan keonaran, budi yang meluncur turun dan akhlak yang mulai binasa.[37]

Hamka terbukti melakukan itu, ia tidaklah menaruh dendam kepada siapapun. Tidak kepada Soekarno, Soeharto, Pramoedya Ananta Toer, terlebih kepada Ali Sadikin. Bahkan pada Ali Sadikin yang berkonfrontasi soal WTS,[38] Hamka menunjukkan keluhuran akhlak, dengan mengatakan bahwa Ali Sadikin sebagai sosok yang paling tahan dikritik, sangat spontan, terus terang, tidak birokratis, dan tidak munafik. Pun halnya Ali Sadikin mengatakan Hamka adalah pribadi yang arif dan bijak, kalau bicara dengannya terasa enak, selalu memberikan bahan-bahan pemikiran, pembicaraan dengannya senantiasa produktif, dan tidak mengoreksi secara langsung melainkan menuangkan gagasan atau idenya secara nyata.

Penutup

Hamka adalah anak bangsa, yang lahir dari sumsum ulama. Ayahnya adalah tokoh, dan hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segala hal membentuk dirinya menjadi pribadi yang diterima oleh berbagai pihak. Ia diberikan kehormatan tidak hanya di dalam negeri saja seperti misal sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, tapi Hamka juga diberikan gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Islam tertua di dunia, Al Azhar.

Darisini tentu tidak salah bila Yudi Latif mengatakan tentang Hamka sebagai perwujudan dari ekspresi Islam yang luas, lentur, estetik, dan prolifik, yang memperkuat daya hidup dan daya cinta bagi bumi manusia.[39] Indonesia butuh lebih banyak Hamka lagi masa ini, yang mengarahkan dan membimbing, memperbaiki moral bangsa dan menjaga agama.

 


Daftar Pustaka

Al Attas, Syed Muhammad Naquib, (1990), Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu, Bandung, Penerbit Mizan.

Akmal, M.Pd.I, (2019), Makalah: Alam Minangkabau: Islamisasi dalam Empat Babak, Jakarta, Insist.

Anwar, Rosihan, (2002), In Memoriam, Mengenang Yang Wafat, Jakarta, Penerbit Kompas.

Anwar, Rosihan (2012), Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia, Jilid 6, Jakarta, Penerbit Kompas.

Aprilianto, Toge (2009), Kudidik Diriku Demi Mendidik Anakku, Malang, Penerbit Dioma.

Burhanudin, Jajat (2017), Islam dalam Arus Sejarah Indonesia, Jakarta, Penerbit Kencana.

Hakiem, Lukman, (2017), Merawat Indonesia, Belajar dari Tokoh dan Peristiwa, Jakarta, Pustaka Al Kautsar.

Hamka, (2016), Dari Hati ke Hati, Jakarta, Gema Insani.

———, (2017), Falsafah Ketuhanan, Jakarta, Gema Insani.

———, (2016), Ghirah, Cemburu Karena Allah, Jakarta, Gema Insani.

———, (2018), Kenang-kenangan Hidup, Jakarta, Gema Insani.

———, (1974), Kenang-kenangan Hidup Jilid 2, Jakarta, Bulan Bintang.

———, (2015), Keadilan Sosial dalam Islam, Jakarta, Gema Insani.

———, (2018), Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta, Gema Insani.

———, (2006), Sejarah Umat Islam, Singapura, Pustaka Nasional

———, (2015), Tasawuf Modern, Jakarta, Penerbit Republika.

Hamka, Irfan, (2014), Ayah… Kisah Buya Hamka, Jakarta, Penerbit Republika.

Husaini, Adian, (2018), Pendidikan Islam, Kompilasi Pemikiran Pendidikan, Depok, Yayasan Pendidikan At Taqwa.

Maulana, Yusuf, (2018), Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat, Yogyakarta, Pro You Media.

Maulana, Yusuf, (2018), Nuun, Berjibaku Mencandu Buku, Malang, Sabuk Pustaka

Nugroho, Dimas Oky, Ph.D (Ed), (2018), Anak Muda & Masa Depan Indonesia, Bandung, Penerbit Mizan.

Sunanto, Musyrifah, (2005), Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta, Rajawali Press.

Rush, James R., (2017), Adicerita Hamka, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Majalah Historia, Edisi Khusus Perjalanan Hamka, Nomor 21, Tahun II, 2015, Penerbit Media Historia Indonesia

Majalah Sabili, Edisi Khusus Islam Kawan Atau Lawan, Juli 2004.

End Note

[1] Ahmad Syafii Maarif dalam Kata Pengantar untuk buku Adicerita Hamka karya James R. Rush, hal. xvii

[2] Ghazwul Fikri sebagaimana yang dipahami Hamka ialah suatu teknik propaganda hebat melalui segala jalan, baik kasar maupun halus, dari sisi kebudayaan maupun ilmiah agar cara berpikir dunia Islam berubah dari dasarnya, tanpa menyadari bahwa satu-satunya jalan yang benar supaya orang Islam maju adalah dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran Islam. Untuk itu tak perlu lagi berpindah agama, tetap menjadi orang Islam, tetapi tidak lagi meyakini ajaran Islam. (Hamka, Ghirah, Cemburu Karena Allah, hal. 47)

[3] Syed Muhammad Naquib Al Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hal. 9

[4] Adian Husaini, Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, hal. 208-209.

[5] Hendri F. Isnaeni, Anak Nakal Menjelma Ulama, Majalah Historia No. 21 Th II 2015, hal. 24

[6] Toge Aprilianto, Kudidik Diriku Demi Mendidik Anakku, hal. 70-71

[7] Carool Kersten, Mengislamkan Indonesia, hal 178

[8] Hamka, Kenang-kenangan Hidup, hal. 28

[9] Ibid, hal 37

[10] Opcit, hal 25

[11] Taufik Ismail dalam Kata Pengantar untuk buku Ayah.. karya Irfan Hamka, hal xix

[12] Hamka, Kenang-kenangan Hidup, hal. 38

[13] Impian Hamka pun terwujud setelah tiba di Jawa, ia mengikuti pelajaran dari Ki Bagus Hadikusumo dan bertemu dengan Tjokroaminoto. Bahkan akhirnya Hamka pun mengikuti kursus dan terdaftar sebagai anggota Sarekat Islam, sekalipun akhirnya Hamka mengkatrol umurnya 2 tahun sebab syarat minimal usianya adalah 18 tahun dan Hamka kala itu masih berusia 16 tahun, seperti yang ditulis oleh Hendri F. Isnaeni dalam Berguru Kepada Guru Bangsa, Majalah Historia, hal. 31-32

[14] Irfan Hamka, Ayah …, hal. 231

[15] J.J. Rizal, Pemuda Daripada Bapakisme dalam Anak Muda & Masa Depan Indonesia, hal. 6

[16] Hamka, Kenang-kenangan Hidup Jilid II, hal. 26

[17] Rahadian Rundjan, Buya Jadi Juru Warta dalam Majalah Historia, hal. 36

[18] Akmal Sjafril, dalam pemaparan artikel di Insist berjudul, Alam Minangkabau dalam Empat Babak, hal 10

[19] Jajat Burhanudin, Islam dalam Arus Sejarah Indonesia, hal. 397

[20] Gelar Adat yang diberikan oleh masyarakat saat itu kepada Buya Hamka

[21] Hamka, Kenang-kenangan Hidup Jilid II, hal 29-31

[22] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia, Jilid 6, hal. 101-102

[23] Yusuf Maulana, Nuun; Berjibaku Mencandu Buku, hal 6

[24] Hamka, Sejarah Umat Islam, Bagian Prakata

[25] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, hal. 295-296

[26] Lukman Hakiem, Merawat Indonesia, hal. 156-157

[27] MF. Mukthi, Di Balik Jerajak Besi Penguasa, dalam Majalah Historia No 21 Th II 2015, hal 63

[28] Hery D. Kurniawan, Zaman Cekal Mubaligh dan Khatib, dalam Sabili Edisi Khusus; Islam Kawan Atau Lawan, hal. 103

[29] Rosihan Anwar, In Memoriam: Mengenang Yang Wafat, hal.352

[30] Hamka, Tasawuf Modern, hal. 5

[31] Ibid, hal. 108-109

[32] Hamka, Falsafah Ketuhanan, hal. 96

[33] Hamka, Dari Hati Ke Hati, hal. 15

[34] Hamka, Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, hal. 196

[35] Hamka, Keadilan Sosial dalam Islam, hal. 4

[36] Hamka, Dari Hati ke Hati, hal. 143

[37] Ibid, hal. 143

[38] Lukman Hakiem, Merawat Indonesia, hal. 171

[39] Yudi Latif, Hamka, Ekspresi Islam Estetik, dalam Majalah Historia No. 21 Th II 2015, hal. 81

 

Download Tulisan dalam format Word: Buya Hamka, Penjaga Moral Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.