Bulan Syawwal Dan Pernikahan

Spread the love

Selain disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, ternyata ada amalan lain yang disukai untuk dilakukan di bulan ini, yaitu menikah.

Pendapat ini dimunculkan oleh Fuqaha’ (Ulama Fiqh) dari Madzhab asy-Syafi’iyyah, Madzhab al-Malikiyyah dan satu riwayat dalam Madzhab Hanabilah.

Menikah di bulan Syawwal dinilai sebagai satu anjuran berdasarkan dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti yang diceritakan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه و سلم كان أحظى عنده منى ؟ قال وكانت عائشة تستحب أن تدخل نساءها في شوال

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku di bulan Syawwal dan beliau membangun (memulai hubungan intim) denganku di bulan Syawwal, maka istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang manakah yang lebih dekat di sisinya selain dari diriku ? Berkata (‘Urwah) Dan Aisyah menganggap disukai (disunnahkan) (memulai) hubungan intim para wanita di bulan Syawwal.” [1]

Imam an-Nawawy Rahimahullah berkata[2]:

فيه استحباب التزويج والتزوج والدخول في شوال وقد نص أصحابنا على استحبابه واستدلوا بهذا الحديث وقصدت عائشة بهذا الكلام رد ما كانت الجاهلية عليه وما يتخيله بعض العوام اليوم من كراهة التزوج والتزويج والدخول في شوال وهذا باطل لا أصل له وهو من آثار الجاهلية كانوا يتطيرون بذلك لما في اسم شوال من الاشالة والرفع

“Dalam hadits ini terdapat anjuran menikahkan dan menikah dan memulai hubungan intim di bulan Syawwal, Ash-habuna (Ulama-ulama semadzhab Syafi’iyyah dengan kami) telah menerangkan ketetapan atas disukainya (menikahkan, menikah dan memulai hubungan intim pada bulan Syawwal) dan mereka telah berdalil dengan hadits ini, dan tujuan Aisyah dengan ucapan ini adalah bantahan keyakinan kaum Jahiliyyah yang mereka berada di atasnya dan bantahan atas apa-apa yang dihayalkan oleh sebagian orang awam pada hari ini dengan menghukumi Makruh menikah dan menikahkan dan masuk (memulai hubungan intim) di bulan Syawwal, dan ini adalah kebatilan yang tidak berdasar, ini adalah peninggalan-peninggalan kaum Jahiliyyah yang telah menjadikannya sebagai Tathayyur (waktu kesialan) karena menganggap makna yang terdapat dalam nama bulan Syawwal berasal dari kata al-Isyalah (yaitu pengangkat sesuatu) dan dari kata ar-Raf’u (yaitu pengangkatan).”

Pendapat Imam asy-Syaukany Rahimahullah

Berbeda dengan pendapat mayoritas Ulama, Imam asy-Syaukany memandang bahwa bulan Syawwal bukanlah waktu yang disunnahkan untuk melaksanakan pernikahan dan memulai hubungan intim di dalamnya, sebab apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menikahi Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pada bulan Syawwal bukan karena sebuah pertimbangan khusus yang beliau jadikan sebagai tujuan, akan tetapi semua itu terjadi semata hanya karena sebuah ke-bertetapatan saja. beliau berkata:

استدل المصنف بحديث عائشة على استحباب البناء بالمرأة في شوال وهو إنما يدل على ذلك إذا تبين أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قصد ذلك الوقت لخصوصية له لا توجد في غيره، لا إذا كان وقوع ذلك منه – صلى الله عليه وسلم – على طريق الاتفاق، وكونه بعض أجزاء الزمان، فإنه لا يدل على الاستحباب لأنه حكم شرعي يحتاج إلى دليل

“Penulis kitab (al-Muntaqa) telah menjadikan hadits ‘Aisyah ini sebagai dalil atas dianjurkannya memulai hubungan intim dengan istri pada bulan syawwal, dan sebenarnya hadits tersebut akan (sah) menunjukkan makna itu apabila telah menjadi jelas bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (memang) telah memaksudkan waktu tersebut (untuk berbuat) karena kekhususan yang dimilikinya yang tidak terdapat pada waktu lainnya, tidak demikian halnya apabila perbuatan itu terjadi pada diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas jalan berketepatan saja, dan atas keadaan perbuatan itu bagian dari rangkaian zaman. Maka itu tidak menunjukkan makna anjuran, sebab suatu anjuran merupakan suatu hukum syar’i yang memerlukan dalil.”

وقد تزوج – صلى الله عليه وسلم – بنسائه في أوقات مختلفة على حسب الاتفاق ولم يتحر وقتا مخصوصا، ولو كان مجرد الوقوع يفيد الاستحباب لكان كل وقت من الأوقات التي تزوج فيها النبي – صلى الله عليه وسلم – يستحب البناء فيه وهو غير مسلم.

“Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi istri-istri beliau pada waktu yang berbeda-beda (dan itu) berdasarkan ke-bertepatan waktu semata dan beliau tidak pernah (menjadikannya sebagai satu) sasaran waktu yang dikhususkan, dan seandainya bila hanya dengan sekedar sebuah kejadian (kemudian) dapat memberi faidah makna anjuran maka akan jadilah semua waktu yang ada, yang Nabi menikah padanya dianjurkan di dalamnya membangun hubungan intim, dan ini tidak bisa diterima.” [3]

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Sa’d asy-Syatsry Hafizhahullah.[4] namun beliau menambahkan bahwa tetap dianggap sunnah pada bulan Syawwal jika memang terdapat keyakinan yang keliru terhadap pernikahan di bulan Syawwal sebagai bantahan terhadap keyakinan tersebut, beliau berkata :

“إلا: إذا ظهرت بدعة التشاؤم بالزواج في شهر شوال في بلدٍ ما، فيُستحبُّ حينئذ قصد الزواج في شوال مخالفة لأهل البدع”

“Kecuali apabila Bid’ah Tasya’um (menganggap sial) menikah pada bulan Syawwal nampak dalam satu negeri, maka saat itu disunnahkan memaksudkan pernikahan pada bulan Syawwal sebagai bentuk menyelisihi ahli bid’ah”

ِMusa Abu Affaf . ‘Afallahu ‘Anhu

_____________________________

[1] Hadits Riwayat Imam Muslim

[2] Syarh Shahih Muslim / Juz 9 / Hal. 213 /Darul Ma’rifah. Bairut – Lebanon.

[3] Nailul Authar / 6 / 225 Versi Maktabah asy-Syamilah/ بَابُ الْأَوْقَاتِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الْبِنَاءُ عَلَى النِّسَاءِ وَمَا يَقُولُ إذَا زُفَّتْ إلَيْهِ

[4] Beliau adalah ulama besar di Saudi Arabia dan Pendapat beliau kami kutip dari sebuah artikel yang dimuat laman berikut :  http://www.alukah.net/web/shathary/0/90007/

Comments

comments