Bukan Keluarga Bahaya

Teduh.Or.Id – Memiliki buah hati dalam sebuah kehidupan suami-istri adalah sebuah kebahagiaan yang takkan bisa terganti, buah hati merupakan investasi dunia dan akhirat serta seakan menjadi sebuah syarat sempurnanya suatu keluarga. Di dalamnya terhimpun berbagai macam kegembiraan dan kesenangan sebagai pengusir lelah dan penat bagi seorang ayah setelah bekerja seharian, dan juga sebagai penguat harap bagi seorang ibu yang tiap hari membersamai kehidupan sang buah hati tersebut.

Agar lebih bermakna, seorang anak tentu haruslah memiliki pendampingan atas pendidikan yang memadai. Tak kurang dan tak lebih sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Dalam setiap fase ada pola pendidikan yang berbeda antar masa. Sehingga sebagai orang tua tentu sudah seharusnya mengenal jenjang pendidikan tersebut dari masa ke masa.

Banyak orang mengartikan bahwa baiknya anak dimulai dari baiknya pola orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Sebab di masa anak banyak hal yang ditiru dan diambil dari orangtuanya. Maka sudah merupakan tugas bagi orangtua untuk menyajikan pengasuhan yang terbaik dan bahkan lebih baik dibandingkan saat orangtua tersebut menjadi anak dari orangtua mereka masing-masing.

Di masa anak-anak pola yang berkembang adalah pola hubungan individual antara anak dan orangtua yang lebih kuat peranannya, disana terdapat upaya saling belajar. Orangtua mempelajari karakter anaknya yang akan membentuk pribadinya, sedangkan sang anak belajar dari orangtua segala hal yang sekiranya ia butuhkan dalam kehidupannya. Maka tak heran bila Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha pernah menggambarkan putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yakni Fathimah sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari no.3263 yakni, “Aku tidak melihat orang yang paling mirip Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wajah dan gayanya selain Fathimah.”

Fungsi Keluarga Sebagai Modal Pendidikan Utama

Jangan sampai tampak adanya kegagalan dalam fungsi keluarga yang sebenarnya, fungsi yang sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang sang anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka dalam mengambil pelajaran dari para orangtua. Dimana menurut Siti Norma dan Sudarso (Suyanto dan Narwoko, 2006:238) gagalnya keluarga terjadi karena dua faktor, pertama ialah faktor pribadi dimana suami-istri kurang menyadari akan arti dan fungsi perkawinan yang sebenarnya seperti adanya sifat egoisme, kurang adanya toleransi, kurang adanya kepercayaan satu sama lain. Serta faktor kedua yaitu faktor situasi khusus dalam keluarga seperti; kehadiran terus menerus dari salah satu orang tua baik pihak suami maupun istri, istri bekerja dan mendambakan kedudukan lebih tinggi dari suaminya, adanya beberapa keluarga lain dalam rumah tersebut, dan terakhir ialah seringnya suami atau istri meninggalkan rumah karena kesibukan di luar.

Jika demikian, maka apabila para orangtua ingin membentuk karakter dan pribadi anaknya secara berkualitas maka tentunya para orangtua tersebut memperhatikan bagaimana kepribadian yang mereka miliki. Sebab takkan mungkin seekor ayam membesarkan kucing dan takkan pernah ada seekor ular membesarkan angsa. Pendidikan yang paling mendasar ialah orangtua mendidik diri mereka sendiri. Memantaskan segala sesuatunya sebelum hal tersebut diajarkan kepada anaknya. Hal ini agar terjadi pola pendidikan yang bersifat objektif. Dan apa yang menjadi hak anak atas orangtuanya pun dapat terpenuhi dengan baik sebagaimana anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “..Dan sesungguhnya anakmu punya hak atas dirimu.” (HR.Muslim).

Sungguh sangat disayangkan bila orangtua meloloskan perannya sebagai sebaik-baik pendidik atas buah hati mereka. Hal demikian takkan pernah terulang apabila salah dalam pola pengasuhan. Jadi lelah kita dalam menempa diri untuk mendapatkan dunia dengan bekerja sepanjang hari sekuat tenaga tanpa henti, yang sejatinya itu semua ditempuh untuk sang anak tapi justru kenyataannya sang anak tak membutuhkan atau justru hal tersebut bukan saatnya bagi anak itu sendiri. Berikan waktu untuk mendidik agar jangan sampai kita menyiapkan modal dunia bagi anak tapi justru sejatinya modal dunia akhirat itu sendiri berada dalam rumah kita. Maka berikan contoh terbaik bagi anak anda dan belajarlah bagaimana cara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendidik buah hatinya.

Mari menjadi orangtua yang benar dalam mendidik anak, membentuk kepribadian anak dengan baik, tidak menanamkan kedzhaliman dalam diri anak dan meminimalisir kekeliruan dalam pola pengasuhan. Setiap pribadi manusia adalah sosok yang unik, berbeda tempat berbeda pula cara dalam mendidiknya namun sama dalam hal pertanggungjawabannya kepada Allah Ta’ala sebagaimana firmannya, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang ditunggui oleh para malaikat yang kasar dan keras yang tidak pernah durhaka kepada Allah dan selalu menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. At Tahrim : 6).

Gambar dari:

http://www.rumahtipeminimalis.com/wp-content/uploads/2014/12/ruang-tamu-rumah-minimalis-5.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.