Boikot Ekonomi Adalah Wujud Berlepas Diri, Kepedulian, dan Jihad

Spread the love

Boikot ekonomi merupakan salah satu persoalan yang begitu sensitif, namun demikian, para Ulama Kibar di era ini tidaklah berdiam diri dan menahan fatwanya, akan tetapi mereka menjelaskan dan mendudukkan persoalan pada tempatnya, dan di antara Ulama tersebut adalah Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman Hafizhahullah, beliau dalam salah satu tulisannya [1] mengemukakan beberapa pendapat Ulama sebelum beliau.

Syaikh Hasan bin Masyhur Alu Salman Hafizhahullah berkata:

وبلا شك أنّ المقاطعة في الشرع لها أصول، وهي مظهر من مظاهر البراء، وضرب ولون من ألوان الهجر المشروع، ولكن لا بدَّ لها من ضوابط وقيود، وإبراز ذلك بتأصيل وتقعيد يظهر من خلال فتاوى العلماء الربانيّين

“Dan dengan tanpa keraguan lagi, sesungguhnya pemboikotan dalam Syari’at memiliki dasar hukum, dan dia (Boikot Ekonomi) merupakan penampakan dari sikap bara’ (berlepas diri) dan bagian, warna, dari warna-warna boikot yang disyari’atkan, akan tetapi tidak boleh tidak di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan dan kait-kait yang harus (diperhatikan), dan memunculkan hal itu dengan pondasi dan pendudukan (yang benar) menjadi jelas dari sela-sela fatwa para Ulama yang Rabbaniy.”

kemudian di antara fatwa yang beliau nukil dalam masalah ini adalah fatwa Syaikh Al-Muhaddist Nashiruddin Al-Albany Rahimahullah. Beliau berkata:

فلستم في شكّ بأنهم يذبحون إخواننا المسلمين هناك الأتراك المقيمين منذ زمن طويل يذبحونهم ذبح النعاج، فلو كان البلغاريون يذبحون هذه الذبائح التي نستوردها منهم ذبحاً شرعيّاً حقيقةً أنا أقول لا يجوز لنا أن نستورده منهم، بل يجب علينا أن نقاطعهم حتى يتراجعوا عن سفك دماء إخواننا المسلمين هناك، فسبحان الله مات شعور الأخوة التي وصفها الرسول -عليه السلام- بأنها كالجسد الواحد

“Maka kalian tidaklah dalam keraguan dengan keberadaan mereka (Bulgaria) yang menyembelih saudara-saudara kita yang Muslim, di sana ada bangsa Atrak (Turki) yang berdomisili sejak lama, mereka menyembelihnya laksana menyembelih domba betina, maka jika Bulgaria menyembelih hewan sembelihan yang kita expor dari mereka dengan penyembelihan yang syar’i dan dengan sebenar-benarnya, saya katakan: “tidak boleh bagi kita mengexpor hewan-hewan tersebut dari mereka, akan tetapi wajib atas kita memboikot mereka sampai mereka berhenti tidak lagi menumpahkan darah-darah saudara kita yang muslim di sana, Subhaanallah ! telah mati rasa persaudaraan yang telah disifatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa persaudaraan itu seperti jasad yang satu.”

Syaikh Masyhur kemudian memberikan penjelasan atas fatwa ini, beliau berkata :

فالمقاطعة في كلام شيخنا ظاهرة، وهي في سياقه بمعنى (الهجر الزاجر) إن وجدت (الأخوة) الصادقة بين المسلمين

“Maka boikot dalam ucapan Syaikh kami adalah jelas, dan dia (boikot) di sini dalam kerangka ucapan beliau bermakna Hajr / boikot yang berdampak menghentikan jika (memang) persaudaraan yang tulus terjalin di antara kaum muslimin.”

Dan di antara fatwa yang dinukilkan juga adalah fatwa Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman Assa’diy Rahimahullah, dan dalam hal ini kami cukupkan menukil bagian terpenting dari fatwa tersebut (demi mempersingkat) beliau berkata:

” فجهاد الأعداء بالمقاطعة العامة لهم من أعظم الجهاد في هذه الأوقات

“Maka jihad melawan musuh-musuh dengan pemboikotan yang merata terhadap mereka bagian dari jihad yang paling agung di era ini.”

Dan di antara fatwa lain yang dinukilkan oleh beliau adalah fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah, Al-Muhaddist Ahmad Syakir, Syaikh Muhibbiddin Al-Khathib, dan Abul Kalam Al-kalkatuniy Rahimahumullah Ajma’in, semuanya dengan fatwa yang tidak berbeda dengan fatwa di atas yang kami sebutkan.

Bekasi 19 Desember 2017 / 1 Rabi’ust Tsani 1439

Musa Abu ‘Affaf, BA.


 

1] Sumber tulisan Syaikh Masyhur Alu Salman dapat di akses di sini :  http://www.mashhoor.net/inside/articles/archive/boycott.htm

Comments

comments