Bisakah Kita Menjadi Seorang Ulama?

Ulama secara bahasa adalah bentuk plural dari kata alim. Kata alim sendiri bermakna pelaku pengetahuan dan pengajaran. Maka jika menggunakan definisi secara etimologi setiap orang itu adalah ulama atas keahliannya masing-masing. Bahkan setiap orang tua adalah ulama bagi anaknya dalam hal berjalan, makan dan kebiasaan sehari-hari.

Islam telah meredefinisi kata ulama, sebagaimana Islam telah meredefinisi banyak istilah arab lainnya. Contoh As-sa’ah artinya suatu saat yang ditentukan, tapi Al-Qur’an menggunakan istilah As-Sa’ah untuk dialamatkan kepada hari kiamat yang telah ditentukan “saat”nya.

Lalu dimanakah kita dapat menemukan definisi ulama dalam Islam. Pertama mari kita cari dari situs-situs dan bacaan-bacaan Islam dan saya menemukan beberapa, salah satunya dibeberapa artikel website Islami yang memuat judul serupa diantaranya ialah; Siapakah Ulama, Mengenal Ulama Lebih Dekat, dan Siapakah Sebenarnya Yang Pantas Disebut Ulama.

Umumnya semua bermuara kepada usaha mendefinisikan ulama yang mengarah kepada pengetahuan Islam dari Qur’an dan Hadis. Tentu hal ini bersesuaian dengan tatanan pemahaman dari beberapa Hadis.

Ulama adalah pewaris nabi,” Riwayat Abu Dawud dan Tirmizi.

Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham. Yang mereka wariskan adalah ilmu. Siapa yang mengambil warisan itu berarti ia mengambil bagian yang banyak,” Riwayat Abu Dawud dan Tirmizi.

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadis Shahih Lighairihi, Riwayat Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, & Ibnu Hazm). Maka mungkin dengan mudah kita dapat simpulkan bahwa makna ulama adalah mereka yang telah banyak menguasai Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Tentu ada banyak ulama terdahulu yang juga telah mencoba menjelaskan makna dan siapa ulama itu. Tapi bagaimana kalau kita kembali ke rujukan utama kita Al-Qur’an? Saya teringat pada suatu majelis zikir dimana ustaz yang memimpin majelis bertanya tentang kata ulama dalam al-Qur’an? Ada di surat mana dan ayat ke berapakah kata ulama disebut dalam Al-Qur’an? Ustaz tersebut menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an kata ulama disebut hanya dua kali.

Pertama, Dalam surat Asy-Syuara 197. Ayat ini bercerita tentang ulama nya Bani Israel yang telah menentang Rasulullah. Maka saya cukup yakin bahwa kita dapat menyimpulkan kata ulama dalam konteks ayat ini lebih diarahkan pada pengertian secara Bahasa saja.

Kedua, Dalam surat Fathir 28. Ayat ini terkenal dan sering pula dijadikan rujukan untuk menjelaskan definisi ulama. Mari sedikit kita bahas.

إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماء

Sesungguhnya mereka yang takut (Khasya) kepada Allah adalah dari hamba-hamba-Nya Al-ulama.

Bila diperhatikan, sepertinya pernyataan Al-Qur’an ini tidak sedikitpun menyinggung tentang “ilmu” tapi lebih menyentuh ke arah konsekuensi atau indikator secara nyata tentang orang yang dapat di beri titel ulama. Yakni pastilah mereka akan Khasya (Takut) kepada Allah. Namun, kita melihat betapa banyak orang yang berdalam-dalam mengkaji Al-Qur’an dan Hadis tapi tak pernah “takut” kepada Allah bahkan ada yang menjadi musuh besar Islam dari kalangan non-muslim di berbagai belahan dunia.

Sungguh menarik, ternyata kalau kita perhatikan konteks ayat ini, Allah telah membahas tentang istilah Khasya pada 10 ayat sebelumnya di ayat 18.

“Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut (Khasya) kepada Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat.”

Lalu kemudian Allah menjelaskan tentang orang-orang yang sulit menerima Islam, seraya menenangkan Rasulullah agar sadar bahwa beliau posisinya sekedar pemberi peringatan dan tidak ada dosa bagi beliau setelah memberi peringatan.

Lalu Allah menekankan kembali di ayat ke-23.

“Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.”

Lalu, Allah menjelaskan bahwa orang yang tidak bisa diberi peringatan itu selalu ada dari zaman ke zaman meskipun telah banyak kitab dan penjelasannya dibawakan ke hadapan mereka. Perhatikanlah ayat ke-25 berikut ini.

“Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa penjelasan, zubur, dan kitab yang terang.”

Lalu kemudian Allah menjelaskan bukti-bukti tambahan dari ayat-ayatnya yang seharusnya diperhatikan, maka perhatikanlah ayat ke-27 dan 28.

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.  Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam jenisnya.”

Setelah menjelaskan semua itu, Allah menutup ayat-ayat ini dengan pernyataan:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Sungguh luar biasa pemilihan bahasa dan penyampaian di dalam Al-Qur’an. Allah menggunakan kata ulama setelah menjelaskan semua fenomena alam dan manusia, yang kita dimotivasi untuk bertafakur dan mentadaburinya. Sebagian ikhwan ada yang dengan berani menyatakan ayat ini justru menunjukkan bahwa ulama itu adalah para ilmuwan yang mempelajari hujan, hewan, tumbuhan, bebatuan, gunung-gunung, dan interaksi manusia. Tapi bukankah kita juga memperhatikan betapa banyak ilmuwan biologi, klimatologi, geologi, kimia, fisika, sosiologi, dan antropologi yang justru non-muslim atau muslim tapi tidak tunduk “takut” kepada Allah?

Namun sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pengertian “baru” ini dalam mendefinisikan kata ulama. Menarik untuk kita lanjutkan pelajaran dari ayat-ayat di surat Fathir ini. Tak jauh dari ayat ke-28, di ayat ke-31 dan 32. Allah menjelaskan hal yang sangat menarik, yang artinya:

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

Sekali lagi saya terperangah dan takjub atas keindahan Al-Qur’an. Allah dengan segera membahas makna ulama yang selalu dibahas dalam pembahasan Islam, yakni pewaris para Nabi. Menarik untuk disimak, bahwa hamba-hamba Allah yang diwarisi Kitab ini ternyata dikategorisasi menjadi tiga:

  • Yang menganiaya dirinya (Dhzalim)
  • Yang pertengahan (Muqtashid), dan
  • Yang berbuat kebaikan, (Saabiq bilkhayrat)

Maka dengan ini izinkanlah saya menyimpulkan bahwa Ulama adalah orang yang sadar dan mengetahui Allah sehingga ia tunduk dan takut (Khasya) kepada-Nya. Seseorang itu dapat sadar dan mengetahui Allah melalui Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan dari tafakur atas beraneka ragam ciptaan-Nya.

Namun ada orang-orang yang mengkaji Kitab, Sunnah dan Alam Semesta tapi pengetahuannya tak menjadikannya Khasya kepada Allah, maka yang seperti ini bukanlah ulama yang dimaksud oleh Allah.

Wallahua’lam,

Abu Feargal