Bid’ah Melarang Anak-Anak Ke Masjid & Derajat Hadits Jauhkan Anak-Anakmu Dari Masjid Kami

Sebelum membahas hadits yang memerintahkan agar menjauhkan anak-anak kita dari masjid, terlebih dahulu kita harus mengetahui tujuan masjid dalam syariat islam dibangun, sehingga pendahuluan ini nantinya diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam persoalan ini.

Tujuan masjid dibangun tidak lain untuk menegakkan shalat, dan berdzikir kepada Allah.

Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – bersabda;

 إنما بنيت المساجد لما بنيت له

“Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun hanya demi sesuatu yang karenanya ia dibangun.” (Hadits Riayat Muslim No.1263)

Sesuatu yang karenanya masjid dibangun dalam hadits ini maksudnya adalah berdzikir mendirikan shalat, pengajian ilmiah, atau semisalnya,

Imam Annawawwi – rahimahullah – berkata;

معناه لذكر الله تعالى والصلاة والعلم والمذاكرة في الخير ونحوها

“Maknanya (hadits di atas) – masjid dibangun – untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala, untuk shalat, ilmu, dan mudzakarah dalam kebaikan, dan semisalnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj [ jilid 3/ Juz 5/ Hal. 57.] Cet. Darul Makrifah – Bairut )

Imam Ibnu Abdilbarrrahimahullah – berkata;

وقد ذكر الله تعالى المساجد بأنها بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه وأن يسبح له فيها بالغدو والآصال ، فلهذا بنيت ، فينبغي أن تنزه عن كل ما لم تبن له

Allahu Ta’ala telah menyebutkan tentang masjid (di dalam Al-Qur’an) dengan bahwa ia adalah rumah-rumah yang telah diizinkan Allah agar ditinggikan, dan disebut namaNya Allah di dalamnya pada waktu pagi dan sore, maka dengan tujuan inilah masjid dibangun, maka seyogyanya masjid disucikan dari segala perkara yang tidak sesuai dengan tujuannya dibangun.” (Al-Istidzkar 2/368)

Karena melihat tujuan inilah kemudian para ulama melarang hal-hal yang tidak terkait dengan ibadah dilakukan di dalam masjid, bahkan sampai ada pendapat yang melarang kegiatan pembelajaran anak-anak dimasjid, sebabnya  – besar kemungkinan – tidak lain karena anak-anak yang belum sampai usia mandiri dan mengerti cendrung membuat keributan di dalam masjid,

Imam Annawawi – rahimahullah – berkata ;

قال وقد منع بعض العلماء من تعليم الصبيان في المسجد

“(Qaldi ‘Iyadl – rahimahullah –  ) berkata; dan sebenarnya sebagian ulama telah melarang mengajarkan anak-anak di masjid.”. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj [ jilid 3/ Juz 5/ Hal. 57.] Cet. Darul Makrifah – Bairut )

Dan untuk menyandarkan pendapat tersebut adalah riwayat hadits yang berbunyi ;

جنبوا مساجدنا صبيانكم

“Kesampingkanlah (jauhkanlah) anak-anak kalian dari masjid-masjid kami.” (hadits riwayat Ibnu Majah No. 750 (1/143) cet. Maktabah Al-Ma’arif)

Namun hadits ini dan alasan mengagungkan masjid tidaklah cukup sebagai dalih melarang anak-anak datang ke masjid untuk shalat, karena haditsnya dla’if/lemah, selain lemah, juga bertentangan dengan hadits shahih yang jutru menceritakan keberadaan anak-anak di masjid pada zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam – yang benar benar terjadi namun tidak pernah dilarang oleh Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam -.

Syaikh Al-Albani – rahimahullah – berkata ;

فهذا الحديث ضعيف لا يحتج به وقد ضعفه جماعة من الأئمة مثل عبد الحق الأشبيلي وابن الجوزي والمنذري والبوصيري والهيثمي والعسقلاني وغيرهم  ومع ذلك خفي حاله على الشيخ القاسمي وبنى عليه حكما شرعيا وهو تجنيب الصبيان عن المسجد تعظيما للمسجد والواقع أنه بدعة لأنه خلاف ما كان عليه الأمر في عهد النبي صلى الله عليه و سلم

“Hadits ini lemah tidak dapat berhujjah dengannya, sekelompok ulama dari kalangan para imam telah melemahkannya seperti Abdulhaq Al-Isybili, Ibnul Jauzi, Al-Mundziri, Al-Bushairi, Al-Haitsami, Al-‘Asqalani, dan selain dari mereka, bersamaan dengan itu keadaannya hadits ini samar dari syaikh Al-Qasimi dan beliau pun akhirnya membangun hukum syar’i berdasarkan hukum yang samar tersebut, (Hukum itu) ialah menyampingkan anak-anak dari masjid sebagai bentuk pengagungan untuk masjid, namun kenyataannya hal itu adalah bid’ah, karena bertentangan dengan keadaan yang telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Ajwibatunnafi’ah An Asilati Lajnah Masjidi Jami’ah 1/66)

Syaikh Saleh Al-Munajjid dalam fatwanya menyimpulkan, bahwa sekedar terdengarnya suara dan timbulnya gerakan anak-anak di masjid tidak cukup untuk melarang mereka datang ke masjid;

وينبغي أن يُعلم أن مجرد حصول صوت أو حركة من الصبي الصغير في المسجد ليس بمسوغ لمنعه من المسجد ، فقد كان الأطفال يفعلون ذلك في مسجد النبي صلى الله عليه وسلم ويقرهم ، ويخفف الصلاة رحمةً بهم ، وبأمهاتهم

“Dan semestinya agar diketahui, bahwa sekedar terjadi suara atau gerakan dari seorang anak yang kecil di dalam masjid bukanlah alasan untuk melarangnya ke masjid, anak-anak konon mereka melakukan hal itu di masjid nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – dan Beliau menetapkan perbuatan mereka, dan Beliau ringankan shalatnya sebagai bentuk kasih sayang dengan mereka dan ibu-ibu mereka.”[1]

Kesimpulannya, hadits yang memerintahkan agar menjauhkan anak-anak dari masjid adalah hadits yang lemah, dan melarang anak-anak datang ke masjid adalah perkara baru atau bid’ah dalam islam.

Namun apabila tujuan anak-anak datang ke masjid murni untuk menjadikan masjid sebagai tempat untuk bermain saja, maka pada kasus inilah ajuran agar memuliakan masjid diterapkan, karena masjid dibangun bukan untuk taman bermain anak-anak. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf

[1] Fatwa islamqa.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.