Berkurban Tak Perlu Menunggu Tahun Depan

Idul Adha merupakan salah satu dari dua event akbar tahunan bagi muslim di seluruh dunia selain Idul Fitri. Di negara muslim terbesar ini, perayaan hari kurban dilewati muslimin dengan bermacam cara berpadu kebiasaan budaya lokal. Idul Adha selalu dinanti yang tak mampu, karena boleh jadi hanya di momen inilah mereka bisa mencicip nikmatnya rasa daging menggantikan tempe tahu. Sementara bagi kaum berlebih harta dan berpunya, sedikit uang membeli hewan kurban mereka keluarkan sambil berharap pahala tak berbatas dari Rabb semesta alam.

Meski begitu tidak semua muslim berpunya mudah menyisihkan uang untuk berkurban. Banyak alasan penyebab hal itu bisa terjadi, dan mungkin Anda pun pernah mengalami. Entah karena lupa batas akhir berkurban, pengalihan dana ke ranah konsumtif hingga keraguan yang melanda saat dekati hari H. Namun dari semua hal tadi, kalau kita mau jujur sebenarnya bermuara pada satu hal, yakni kurangnya niat.

Perkara niat memang gampang-gampang susah, bahkan ada ulama pun mengakui sulitnya menjaga niat. Terkadang niat lurus menghujam ke lubuk hati, sesaat kemudian berpaling lepas lalu pergi. Tidak kokohnya niat pula yang kadang mengalihkan dana kurban menjadi anggaran jalan-jalan. Tiap tahun ingin berkurban, tiap tahun pula tertunda penuh alasan. Rasanya jadi ingin mengasihani diri sendiri bila niat kita tak pernah berhenti berlari. Padahal rasa kasihan pun bukan solusi, karena seakan kita malah mencari-cari opini pembenaran diri.

Lalu harus bagaimana?

Sebagai seorang muslim berpunya, niat berkurban di hari Idul Adha minimal jadi target tahunan untuk dipenuhi. Janganlah smartphone baru atau konser musisi benua biru justru membalikan niat tulus itu. Berangkat dari hal itu, Teduh coba sarikan beberapa perkara yang mudah-mudahan bisa memantapkan niat kita untuk berkurban di tahun ini.

1. Mengenali Agama

Selain mengenali binatang yang hendak dikurbankan nanti, kita dapat menjadikan Idul Adha sebagai kunci pembuka untuk lebih kenal pada agama Islam. Lho, apa hubungannya dengan niat berkurban? Justru dengan mengenal syariat Islam, kita sebagai seorang muslim jadi memiliki ilmu tentangnya. Ilmu itulah yang dapat menjadi petunjuk agar dapat menapak di atas lurusnya jalan syariat. Kapan kurban dilakukan, apa saja syarat untuk berkurban, bagaimana kurban dilakuan dan lain sebagainya.

Di dalam Al-Qur’an, kita dapat menemukan surat Al-Kautsar ayat kedua yang berisi firman Allah untuk melaksanakan salat dan menyembelih hewan (berkurban, menurut tafsir ulama, red-). Selain itu ada sebuah hadis yang dianggap dhoif, dari Aisyah radhiyallahu’anha yang menceritakan bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (kurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Meski hadis tersebut dianggap lemah oleh Syekh Al Albani, namun hal itu tidak membuat hilangnya keutamaan ibadah kurban. Bahkan para ulama berijtihad bahwa menyembelih binatang kurban saat Idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai hewan kurban atau yang lebih banyak dari itu.

Dengan berkurban kita berusaha mendekatkan diri pada Allah, mengikuti Sunnah Nabi serta bagian dari menyebarkan syiar Islam. Dengan mengenal agama Islam dapat membawa pada pemahaman yang lurus, seiring lurusnya niat kita.

2. Membuat Skala Prioritas

Setiap orang punya skala prioritas dalam hidupnya, begitu pula seorang muslim. Kalau sampai sekarang kita belum menemukan skala tersebut, maka ada baiknya kita kembali membuka kitab Al-Qur’an untuk mencari surat Adz-Dzariyat ayat ke-56. Terjemahan ayat tersebut kurang lebih berbunyi, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaKu.”

Dengan melihat Firman Allah itu saja, rasanya sudah lebih dari cukup menjadikannya rujukan prioritas hidup seorang muslim. Bukan berarti muslimin tak boleh punya keinginan lain, namun tempatkanlah prioritas agama di atas urusan dunia. Ambil buku catatan Anda, dan tulislah “Beribadah kepada Allah” di urutan teratas, baru kemudian diikuti perkara lain yang diusahakan dapat membantu Anda mewujudkan apa yang ada di atasnya.

Bila ibadah kepada Allah menjadi prioritas tertinggi bagi kita, maka berkurban akan lebih mudah. Karena berkurban merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Bila urusan dunia tak berada di urutan pertama, maka akan mudah mengabaikan promo diskon atau paket liburan menggiurkan di luar sana. Meskipun ada resolusi tahunan di mana skala prioritas dapat berubah-ubah, namun tempatkanlah urusan ibadah selalu ada di poin pertama. Apabila hal tersebut diaplikasikan, bukan hal yang sulit untuk dapat berkurban tiap tahunnya.

3. Memulai Investasi Masa Depan

Satu kemudahan bagi orang yang memiliki kelebihan harta adalah mencipta peluang berinvestasi bagi masa depan. Mulai dari saham, deposito, tabungan atau bahkan forex menjadi bentuk investasi populer yang belakangan dikenal masyakarat Indonesia. Jika melihat pada bentuk yang lebih sederhana, kita dapat melihat pada investasi koskosan atau kontrakan tempat tinggal. Kesemuanya dilakukan agar sang pemilik harta bisa lebih tenang menyambut masa depan hidupnya. Tapi pernahkan kita berpikir tentang investasi yang lebih jauh di depan, setelah hidup di dunia? Ya, investasi akhirat.

Bagi seorang muslim, menjemput akhirat adalah sebuah kepastian. Apa yang kita sebar di dunia saat ini akan dituai hasilnya di akhirat kelak. Maka mulailah berpikir apa yang dapat dilakukan agar akhirat kita berisi kebaikan dan keuntungan, layaknya janji dari sebuah produk investasi di dunia fana. Salah satu cara meraihnya dengan memanfaatkan kelebihan harta untuk “ditanam” di jalan Allah. Asalkan kita berniat tulus ikhlas berharap balasan dari Allah saja, pastilah Dia akan memberi balasan yang jauh lebih baik.

Melihat ibadah kurban sebagai sebuah bentuk investasi untuk masa depan memudahkan kita untuk menanamkan modal yang dipunya. So, mulailah berinvestasi untuk masa depan yang lebih nyata!

4. Memikirkan Saudara Seiman

Pada tahun 2010 saja, diperkirakan ada lebih dari 1,6 miliar atau 23,4% populasi muslim di seluruh dunia. Jumlah yang sangat besar sekaligus bantahan bagi mereka yang menganggap bahwa muslim agama teroris. Karena bagaimana mungkin ada miliaran teroris yang hidup bersamaan namun para non-muslim masih hidup nyaman di rumahnya masing-masing. Bagaimanapun, meski jumlahnya miliaran namun tidak semua orang Islam hidup dengan kondisi layak. Banyak muslimin yang berada di bawah garis kemiskinan, khususnya bila kita melihat negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Idul Adha dapat menjadi salah satu momen bagi para muslim yang diberi nikmat rizki oleh Allah untuk berbagi hartanya lewat cara berkurban. Karena berkurban dilakukan dengan cara memotong sapi atau kambing, yang dagingnya belum tentu dapat dinikmati para fakir miskin (para penerima daging kurban) dalam kesehariannya. Maka apa ruginya bila kita berusaha menyenangkan mereka minimal setahun sekali. Dan tahukah Anda bahwa Rasulullah bersabda (yang artinya), “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menyenangkan saudara seiman dan berupaya menyempurnakan iman. Sungguh nikmat bila kita dapat meresapi hal tersebut dan mengaplikasikannya dalam keseharian kita. Kesungguhan adalah pembeda bagi setiap manusia, dan kesungguhan kita untuk melakukan kebaikan mudah-mudahan dapat menjadi sebab lurusnya niat kita.

Demikianlah, meski sesungguhnya ada banyak lagi cara bisa ditempuh agar niat kita utuh, namun paling tidak empat hal tadi dirasa sudah cukup mewakili bentuk usaha untuk meluruskan niat. Bila sudah terbesit niat dan memiliki keluasan rizki di tahun ini, lalu untuk apa harus menunggu tahun depan untuk berkurban?

Semoga Allah beri kemudahan bagi kita untuk beribadah kepadaNya.

Oleh: Dimas Ronggo