Berdoa Dengan Punggung Telapak Tangan

Ada beberapa riwayat hadits yang menjelaskan tentang menengadahkan punggung telapak tangan ke langit saat berdoa namun riwayat tersebut hanya dalam batas berdoa ketika shalat Istisqa’ saja, hadits itu adalah riwayat dari Anas bin Malik radliyallahu ‘Anhu:

عن أنس بن مالك أن النبى -صلى الله عليه وسلم- استسقى فأشار بظهر كفيه إلى السماء

Artinya : Dari Anas bin Malik , sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta hujan maka beliau mengisyaratkan (mengangkat) kedua punggung telapak tangannya ke langit.” (HR: Muslim No. 896 , Dan Ahmad dalam Al-Musnad No. 12554 dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunanul Kubra no. 6678.)

Hadits Anas bin Malik ini juga dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dengan redaksi (Matn) yang sedikit berbeda :

 عن أنس أن النبى -صلى الله عليه وسلم- كان يستسقى هكذا يعنى ومد يديه وجعل بطونهما مما يلى الأرض حتى رأيت بياض إبطيه

Artinya : Dari Anas sesungguhnya Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam konon meminta hujan seperti ini, yakni : beliau ulurkan (diangkat) kedua tangannya dan menjadikan telapak kedua tangannya ke arah tanah sampai aku melihat putih kedua ketiaknya.” (HR: Abu Dawud No. 1173)

Riwayat lainnya berasal dari Khallad bin Sa’ib :

عن خلاد بن السائب الأنصاري أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سأل جعل باطن كفيه إليه، وإذا استعاذ جعل ظاهرهما إليه

Dari Khallad bin Assa’ib Al-Anshariy , “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila meminta (berdoa) beliau menjadikan perut kedua telapak tangannya kepada Allah , dan apabila meminta perlindungan beliau menjadikan punggung kedua tekapak tangannya kepadaNya.”

Hadits ini dikeluarkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad No. 16564. Syaikh Al-Arna’uth dan timnya menghukuminya Dla’if  karena di dalamnya terdapat Ibnu Lahi’ah, dan Khallad bin As-Sa’ib sendiri diperselisihkan statusnya apakah beliau seorang Shahabat Nabi atau bukan.

Walau pun riwayat Khallad bin As-Sa’ib ini lemah akan tetapi riwayat sebelumnya dari Anas sudah mewakili sebagai dalil dalam hal ini.

Dan berdasarkan riwayat-riwayat di atas, para ulama menyimpulkan suatu kaedah bahwa menengadahkan perut telapak tangan ke langit saat berdoa dilakukan dalam konteks meminta dan mengharap sesuatu tercapai, sedangkan dalam konteks meminta terjauhkan dari bencana dan agar bencana terangkat maka yang dihadapkan ke langit adalah punggung kedua telapak tangan.

Imam An-Nawawy Rahimahullah berkata: 

قال جماعة من أصحابنا وغيرهم السنة في كل دعاء لرفع بلاء كالقحط ونحوه أن يرفع يديه ويجعل ظهر كفيه إلى السماء وإذا دعا لسؤال شيء وتحصيله جعل بطن كفيه إلى السماء احتجوا بهذا الحديث

“sekelompok Jama’ah dari sahabat kami (madzhab Asy-Syafi’iyyah) dan yang lainnya berkata , Yang Sunnah dalam setiap kali berdoa untuk mengangkat (menolak) bencana seperti kemarau dan semisalnya ialah mengangkat kedua tangan dan menjadikan punggung kedua telapak tangannya ke arah langit, dan apabila berdoa untuk meminta sesuatu dan menghasilkannya maka seorang menjadikan perut kedua telapak tangannya ke langit , mereka berdalil dengan hadits ini”.

[Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (Jilid 3 bagian 5-6/ 430/Cet. Dar El-Marefah yang ke-8 Tahun 1422 H./2001 M.)]

Pendapat ini dikuatkan juga oleh Badruddin Al-‘Ainiy dalam Syarh Sunan Abu Dawud (5/18) dan juga oleh Imam Ash-Shan’aniy dalam Subulussalam (2/ 83)

Dan berlandaskan dengan ini kemudian sebagian kaum muslimin membalikkan telapak tangannya saat tiba dalam doa tolak bala’ dalam Qunut.

Pendapat Lain

Pendapat lainnya berasal dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau berpendapat bahwa posisi punggung telapak tangan nabi menghadap ke langit bukan ditujukan sejak awal oleh Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun posisi itu terjadi sebagai bentuk akibat dari posisi tangan beliau yang sangat tegak menjulang ke arah langit, sehingga nampaklah punggung telapak tangan beliau yang menengadah ke langit. Maka hal yang tidak dimaksudkan oleh Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dapat dijadikan sandaran, sehingga dalam masalah ini tetap yang menjadi sandaran adalah hadits-hadits yang menunjukkan berdoa dengan perut kedua telapak tangan.

Al-Mirdawiy Al-Hanbaliy menjelaskan hal ini dalam Al-Inshaf (2/321) beliau berkata :

واختاره الشيخ تقي الدين: وقال: صار كفها نحو السماء لشدة الرفع لا قصدا له وإنما كان يوجه بطونهما مع القصد وأنه لو كان قصده فغيره أولى وأشهر قال: ولم يقل أحد ممن يرى رفعهما في القنوت إنه يرفع ظهورهما بل بطونهما

Dan Asy-Syaikh Taqiyyiddin telah memilihnya , beliau berkata : “Kedua (punggung) telapak tangannya (Nabi) menjadi terarah ke langit karena tangan diangkat terlalu tinggi, hal ini terjadi bukan sebagai maksud Beliau, Beliau hanya mengarahkan perut kedua telapak tangannya disertai dengan memaksudkannya,dan sesungguhnya jika maksud beliau adalah seperti itu (sengaja mengarahkan punggung kedua telapak tangan) maka (pada moment) lainnya (tentu) lebih utama beliau lakukan hal itu dan (akan menjadi) lebih masyhur diketahui. Dan beliau berkata : dan tidak seorang pun ada yang berkata dari kalangan ulama yang memandang boleh mengangkat tangan saat Qunut bahwa beliau (nabi) mengarahkan punggung kedua telapak tangannya, namun yang diarahkan adalah perut kedua telapak tangannya.” Selesai.

Adapun riwayat yang memerintahkan agar konsisten pada satu posisi, yaitu menghadapkan perut telapak tangan ke langit adalah riwayat berikut ini:

عن عبد الله بن عباس أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال لا تستروا الجدر من نظر فى كتاب أخيه بغير إذنه فإنما ينظر فى النار سلوا الله ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم

Dari Abdullah bin ‘Abbas sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Janganlah kalian menutup tembok, siapa yang melihat kitab saudaranya dengan tanpa izinnya maka sebenarnya dia melihat di neraka, Mintalah kepada Allah dengan perut (telapak) tangan kalian dan janganlah kalian memintaNya dengan punggung telapak tangan kalian, dan apabila kalian telah selesai maka usaplah wajah kalian dengannya.”

قال أبو داود روى هذا الحديث من غير وجه عن محمد بن كعب كلها واهية وهذا الطريق أمثلها وهو ضعيف أيضا

Imam Abu Dawud berkata : “Hadits ini telah diriwayatkan dari bentuk (jalur periwayatan) yang lain dari Muhammad bin Ka’b, semua jalur tersebut Wahiyah (lemah) dan jalur riwayat yang ini yang paling Amtsal (mending) namun dia juga Dla’if.”

Namun ada riwayat lain yang Shahih dengan redaksi (Matn) lebih khusus, yaitu riwayat Malik bin Yasar Assukuniy bahwa Rasulullah bersabda :

إذا سألتم الله ، فاسألوه ببطون أكفكم و لا تسألوه بظهورها

“Apabila kalian meminta kepada Allah maka mintalah Ia dengan perut telapak tangan kalian dan jangan memintanya dengan punggungnya.” (Hr: Abu Dawud dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Shahihah )

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ini kemudian diikuti dan dianggap kuat oleh sebagian ulama kontemporer di antaranya adalah Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah , beliau berkata :

وهذا هو الأصح، وأنه ليس من المشروع أن يدعو الإنسان بظهر كفيه، بل إنما يدعو ببطون كفيه

“Dan inilah yang paling sahih (benar) , bahwa bukanlah bagian dari yang syari’atkan seorang berdoa dengan punggung kedua telapak tangannya, akan tetapi (hendaknya) ia berdoa dengan perut kedua telapak tangannya.”

[ Fathu Dzil Jalali Wal Ikram Syarh Bulughil Maram (2/468)]

Juga oleh Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah dalam Tash-hihuddua’. (1/118).

Akan tetapi Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah menegaskan :

وقد تأول بعض المتأخرين حديث أنس على أن النَّبيّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لم يقصد قلب كفيه، إنما حصل لهُ من شدة رفع يديه انحاء بطونهما إلى الأرض. وليس الأمر كما ظنه، بل هوَ صفة مقصود لنفسه في رفع اليدين في الدعاء

“Dan sungguh sebagian (ulama) Muta’akkhirin telah menta’wil hadits Anas ke atas suatu hal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memaksudkan (tidak sengaja) membalik kedua telapak tangannya, hal itu terjadi hanya karena sangat begitu tegaknya beliau mengangkat kedua tangannya (sehingga) perut kedua telapak tangannya mengarah ke bumi. Dan namun persoalan ini bukanlah seperti anggapannya, melainkan dia (menengadahkan punggung telapak tangan) adalah sifat (posisi) yang dimaksdukan sendiri dalam mengangkat kedua tangan dalam berdoa.”

[Fathulbariy – Ibnu Rajab (9/222/ Al-Maktabatusy-Syamilah)]

Adapun Syaikh Al-Albaniy rahimahullah beliau membatasi posisi punggung telapak tangan ke arah langit dalam berdoa cukup dalam lingkup doa Istisqa’ saja, beliau berkata :

فبينت هذه الرواية أن ذلك كان في الاستسقاء ، وليس في الاستعاذة ، ولا في كل دعاء

“Maka riwayat (Anas) ini menjelaskan bahwa hal itu (menengadahkan punggung telapak tangan ke langit) terjadi dalam Istisqa’, dan bukan dalam (do’a) Isti’adzah dan tidak dalam setiap doa.” (Sislsilah Ahadits Dla’ifah Wal Maudlu’ah 9/214)

Kesimpulan

  1. Posisi menghadapkan punggung kedua telapak tangan dalam berdoa ketika Istisqa’ adalah posisi tangan yang diceritakan secara lahiriyyah oleh hadits yang shahih. Dan pendapat ini kuat karena berpindah dari makna lahiriyyah hadits membutuhkan dalil yang jelas.
  2. Lahiriyyah makna dari hadits tersebut menjadi titik perbedaan pendapat, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan oleh ulama lain yang mengikuti pendapat beliau mengatakan bahwa posisi tersebut tidak dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan yang menjadi sandaran adalah berdoa dengan perut kedua telapak tangan secara umum.
  3. Tidak memalingkan makna Lahiriyyah hadits, membiarkannya secara Lahiriyyah, namun membatasi lingkup cakupannya hanya pada doa Istsqa’ saja, sehingga tidak tepat diterapkan pada konteks semua doa. Pendapat ini nampaknya adalah pertengahan, namun selain melemahkan kaedah yang telah disimpulkan Madzhab Asy-Syafi’iyyah, pembatasan ini tentunya akan menafikan perberlakuan kaedah Qiyas secara khusus dalam masalah ini, sedangkan Qiyas adalah proses pendalilan yang kuat dan diakui oleh para Ulama. Namun  Qiyas posisi tangan dalam Istisqa’ ke setiap do’a yang berisikan mengangkat bencana perlu ditinjau kembali, sebab dalam moment yang sama mengangkat bencana atau lebih berat dari Istisqa’ ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mnghadapkan punggung telapak tangan beliau – seperti yang diutarakan Ibnu Taimiyyah rahimahullah – dan menjadi sulit untuk menerapkan qiyas tersebut ke atas keadaan yang telah disebutkan secara Nash, maka dari itu pembatasan menghadapkan punggung telapak tangan hanya pada ketika doa Istisqa’ saja menjadi nampak lebih tepat, Wallahu A’lam.

 Bekasi 27 Rajab 1439 H. 

Musa Abu ‘Affaf BA,.

Comments

comments