Benarkah Mencium Tangan Ustadz Tidak Boleh

Mencium tangan berdasarkan keagamaan hukumnya boleh menurut mayoritas ulama, dan adapun jika karena dunia maka diharamkan.

Tentu terdapat nukilan yang Shahih dari sebagian Salaf atas mencium tangan, di antara Atsar yang Shahih tersebut ialah riwayat dari Tholhah bin Musharrif beliau pernah mencium tangan Malik bin Mughawwal. Dan Ibnu ‘Uyainah pernah mencium tangan Husain bin Al-Ju’fiy. semua riwayat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-A’rabiy wafat (340.H) dalam Al-Qublu Walmu’anaqah, Walmushafahah.

Ibnu Muflih mengatakan (Al-Adabusyyar’iyyah (2/258)  :

Al-Marrudziy mengatakan; ‘Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad)  tentang mencium tangan, dan beliau menjawab; ‘Apabila mencium tangannya di atas keagamaan, maka tidak ada masalah, Abu Ubaidah pernah mencium tangan Umar bin Al-Khathhab – radliyallahu ‘anhuma – namun jika atas jalan keduniaan maka jangan, kecuali terhadap lelaki yang ditakuti pedangnya atau cambuknya.”[1]

Di antara Astar lain dari salaf adalah riwayat yang datang dari Imam al-Sya’biy beliau mengatakan :

  عَنِ الشَّعْبِيِّ ؛ قَالَ : رَكِبَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ ، فَأَخَذَ ابْنَ عَبَّاسٍ بِرِكَابِهِ ، فَقَالَ لَهُ : لا تَفْعَلْ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقَالَ هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا . فَقَالَ زَيْدٌ : أَرِنِي يَدَكَ . فَأَخْرَجَ يَدَهُ ، فَقَبَّلَهَا زَيْدٌ وَقَالَ : هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِأَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Zaid bin Tsabit ketika berada di atas kendaraannya bertemu dengan Ibnu ‘Abbas, lalu Ibnu Abbas memegang hewan tunggangannya, beliau berkata kepada Zaid, ‘Jangan lakukan wahai anak paman utusan Allah –shallallahu ‘alaihi wasallam – . Ibnu Abbas berkata; ‘seperti inilah kami telah diperintahkan dengan ulama kami’, maka Zaid berkata; ‘perlihatkan tanganmu kepadaku’, lalu Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya, dan Zaid menciumnya dan beliau berkata; ‘Seperti inilah kami diperintahkan dengan Ahli Bait nabi kami shallallahu ‘alaihi wasallam.”

رواه ابن سعد في الطبقات (2/360) والذهبي في السير (2/437) وابن الجوزي في صفة الصفوة (1/706) وابن عبد البر : المجالسة وجواهر العلم 4/146والحافظ في الإصابة (4/146) وجود إسنادها الحافظ في الفتح (11/57)

Atsar ini telah dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dalam al-Thobaqot (2/360) al-Dzahabiy dalam Siyar (2/437) Ibnuljauziy dalam Shifatushhofwah (1/706) Ibnu Abdilbarr dalam Al-Mujalasah Wa Jawahirulilmi (4/146) Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-‘Ishobah (4/146) dan Sanadnya di anggap baik oleh Ibnu Hajar dalam fathulbariy (11/57).

Di antara bentuk penghormatan seorang murid terhadap gurunya adalah cerita yang datang dari Muhammad bin Hamdun bin Rustum, beliau berkata;

سَمِعْتُ مُسْلِمَ بنَ الحَجَّاجِ، وَجَاءَ إِلَى البُخَارِيِّ فَقَالَ: دَعْنِي أُقَبِّلْ رجليكَ يَا أُسْتَاذَ الأُسْتَاذِين، وَسَيِّدَ المُحَدِّثِيْنَ، وَطبيبَ الحَدِيْثِ فِي عِلَلِهِ

“Aku pernah mendengar Imam Muslim bin Al-Hajjaj beliau menemui Imam Al-Bukhariy dan berkata; ‘Biarkan aku mencium kedua kakimu wahai Ustadznya para Ustadz, dan penghulu para ahli hadits, dan dokter hadits dalam ‘Ilalnya.” (Siyar A’lamunnubala’ 23/425)

Fatwa Lajnah Da’imah

Dan Komite Fatwa Tetap Saudi Arabia pernah ditanya masalah mencium tangan, dan mereka memfatwakan:

إذا قبل إنسان يد إنسان على سبيل التكريم أو لعلم أو أبوية أو نحو ذلك، ولم يتخذ عادة عند كل لقاء- فلا بأس به، أما إذا كان ذلك عادة عند كل لقاء فيكره

“Apabila seorang mencium tangan seseorang atas jalan memuliakan, atau karena keilmuannya, atau kedua orang tua atau semisal dengan itu, namun ia tidak menjadikannya sebagai kebiasaan ketika setiap kali bertemu, maka tidak ada keburukan dengannya, namun adapun jika itu adalah kebiasaan ketika setiap kali bertemu maka dibenci (Makruh).” (Fatwa Lajnah Da’imah Juz 26/ Pertanyaan ke 6448/ Hal. 349) versi Maktabah al-Syamilah.)

Fatwa Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin Rahimahullah

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang hukum cium tangan, lalu beliau menjawab :

 تقبيل اليد احتراما لمن هو أهل للاحترام كالأب والشيخ الكبير والمعلم لا بأس به إلا إذا خيف منه الضرر، وهو أن يعجب الذي قبلت يده ويرى أنه في مقام عالٍ فهنا نمنعها لأجل هذه المسألة

“Mencium tangan karena menghormati orang yang layak dihormati, seperti Bapak, orang yang sepuh usia, atau guru, hukumnya tidak ada keburukan dengannya, kecuali apabila ditakutkan dari mencium tangannya terjadi kemelaratan, yaitu orang yang dicuim tangannya tersebut menjadi Ujub, dan melihat dirinya berada di maqom yang tinggi, maka di sini kita melarangnya karena sebab masalah ini” (Fatawa Albab Almaftuh 2/177)

Fatwa Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah

Syaikh Al-Muhaddits Al-Albaniy dalam Silsilah Ahadits Ash-shahihah (1/159) menjelaskan:

و أما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث و آثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط

“Dan adapun mencium tangan maka di dalam bab ini terdapat beberapa Ahadits dan Atsar yang banyak, semua itu menunjukkan atas benar adanya hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami memandang boleh mencium tangan seorang yang Alim apabila terpenuhi beberapa Syarat.”

Lalu disitu beliau kemudian menjelaskan beberapa syarat , dan kami tidak menyebutkan syarat-syarat tersebut di sini karena yang menjadi fokus bahasannya adalah asal hukum mencium tangan boleh selama tidak ada hal lain yang menjadikannya haram dan demi mempersingk

Dalam Al-Mausu’atulfiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (13/131)  dijelaskan :

يجوز تقبيل يد العالم الورع والسلطان العادل ، وتقبيل يد الوالدين ، والأستاذ ، وكل من يستحق التعظيم والإكرام ، كما يجوز تقبيل الرأس والجبهة وبين العينين ، ولكن كل ذلك إذا كان على وجه المبرة والإكرام ، أو الشفقة عند اللقاء والوداع ، وتدينا واحتراما مع أمن الشهوة

“Dan boleh mencium tangan orang yang Alim, Wara‘, dan penguasa yang adil, dan mencium tangan kedua orang tua, dan guru (al-Ustadz) dan setiap orang yang berhak untuk dihormati dan dimuliakan, sebagaimana boleh mencium kepada, kening, dan bagian yang ada di antara kedua mata, namun semua itu boleh apabila dalam bentuk berbakti dan memuliakan, atau karena kasih sayang ketika bertemu dan berpisah, dan keberagamaan, penghormatan, disertai dengan aman dari fitnah.”

Anggapan Ada Gerakan Inhina’ Kala Mencium Tangan

Sebagian orang menyangka mencium tangan yang biasa dilakukan masyarakat kepada orang tua mereka, Kyai atau Ustadz, adalah tidak boleh karena ketika mencium tangannya terjadi posisi Inhina’ atau menundukkan badan, dan telah diketahui Inhina’ adalah perbuatan yang dilarang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketahuilah, gerakan Inhina’ ketika mencium tangan tidak termasuk ke dalam Inhina’ penghormatan yang dilarang oleh hadits, gerakan Inhina’ di sini hanya gerakan untuk bisa sampai ke tangan orang yang akan dicium tangannya.

Syaikh ‘Utsaimin Rahimahullah dalam Fatwa Liqa’ Bab Mafutuh, berkata :

وأما تقبيل يد الأب أو الأم أو الأخ الكبير أو العالم أو الشيخ الكبير احتراما، فهذا لا بأس به ولا إشكال فيه

السائل: فيه انحناء.  الشيخ : لا يوجد انحناء أبدا, حتى لو فرضنا أن الرجل الذي تريد أن تقبل يده قصير ونزلت رأسك لتقبل يده فهذ ليس انحناء إكرام! هذا انحناء للوصول للتقبيل

“Dan adapun mencium tangan Bapak, atau Ibu, atau saudara yang lebih besar, atau orang yang Alim, atau Syaikh yang sepuh karena menghormati, maka ini tidak ada keburukan padanya dan tidak ada masalah di dalamnya.

Berkata seorang penanya : “ada gerakan (Inhina’) menundukkan badan padanya”

Syaikh Utsaimin Rahimahullah menjelaskan; “Tidak ada (Inhina’) menundukkkan badan sedikit pun di situ, hatta walau pun kita perhitungkan benar terjadi, seorang yang engkau mau cium tangannya itu pendek, dan engkau turunkan kepalamu untuk mencium tangannya, maka gerakan ini bukan termasuk Inhina’ (menundukkan badan) penghormatan, ini Inhina’ agar sampai untuk mencium.” [2]

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, yang merupakan salah satu murid sepuh Syaikh Al-Albaniy pernah ditanya:

هل يجوز تقبيل يدي الوالدين علما أن فيه انحناء للتقبيل

“Apakah boleh mencium tangan kedua orang tua? Sebagai maklumat bahwa di dalamnya ada gerakan Inhina’ untuk mencium?

Beliau menjawab:

الجواب : نعم. هذا الانحناء تبع ، النبي صلى الله عليه وسلم قبِّلت يده وقبِّلت ركبته قبِّل قدمه . إذا أحد قبَّل قدم أمه مثلا هل هذا ممنوع؟ . لا ليس بممنوع شرعا ، تقبيل اليد كذلك ما فيها حرج

“Naam, Gerakan Inhina’ di sini adalah (gerakan) mengikut saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dicium tangannya, dan dicium lututnya, dicium kakinya.

Penanya berkata: “Apabila seorang mencium kaki ibunya misalnya apakah hal ini dilarang?”

Beliau menjawab : “Tidak, itu bukanlah hal yang dilarang dalam syariat, mencium tangan juga demikian, tidak ada di dalamnya Haraj (dosa).” [3]

Dan berikut adalah fatwa Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah :

“ما حكم الانحناء لتقبيل قدم الأم إذا كانت واقفة؟

الجواب

 نعم. الانحناء هذا لا يجوز إلا لله -سبحانه وتعالى- لكن تقبيل يد الأم (اليد لا الرِّجل) يقبِّل يد والدته أو يد والده، أو يد العالِم، أو يد ولي الأمر، فهذا لا بأس به، لكن من غير انحناء. فإذا انخفض يسيراً لأجل التقبيل فلا بأس بذلك. أما أنه ينحني وينزل وهو واقف ليقبل رجل الأم فهذا لا ينبغي، وهذا فيه تكلف أيضاً. نعم، إذا كان لا يحتاج إلى انخفاض، وإنما هو جالس عند قدمها، وقبَّله من باب الإكرام لها فلا بأس بذلك” أ.هـ

“Apakah hukum menunduk (Al-Inhina’) untuk mencium kaki ibu apabila beliau dalam keadaan berdiri?

Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan: “Iya. Menundukkan badan, ini tidak boleh kecuali hanya untuk Allah Subhanahu Watala akan tetapi mencium tangan ibu – tangannya, bukan kakinya – (silahkan) ia mencium tangan ibunya, atau tangan bapaknya, atau tangan orang yang Alim, atau Ulilamri, maka hal ini tidak ada keburukan dengannya, akan tetapi dengan tanpa menundukkan badan. Apabila ia merendahkan badannya sedikit untuk mencium maka tidak ada keburukan dengannya” [4]

Maka menjadi jelas, anggapan tidak boleh menundukkan badan – walau pun hanya sedikit – untuk sampai ke tangan orang yang akan dicium adalah anggapan yang tidak berdasar. Wallahu A’lam.


 

[1] Syaikh Amr bin Mun’im Salim dalam Muqadimah Tahqiq kitab Al-Qublah Walmu’anaqah Walmushofahah (1/26-27)

[2] https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=318219

[3] Fatwa Syaikh Masyhur Alu Salman 

[4] Fatwa Syaikh Shalih Fauzan Via Youtube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.