Belajar dari Sang Katak dan Kecebongnya

Teduh.Or.Id – Katak dan kecebong seringkali jadi tamsil,  atau perumpamaan, yang buruk bagi sebagian orang. Bahkan akhir-akhir ini, dua kata itu menjadi semacam olok-olok bagi pendukung salah satu kontestan dalam pemilihan umum di negeri ini.

Tentu saja, tulisan ini tak hendak masuk ke dalam hiruk pikuk politik pilpres. Tulisan ini hanya akan menguak sedikit fenomena alam ciptaan Allah ‘azza wa jalla, yang semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita, khususnya para orang tua dan pendidik. Agar kita lebih giat mencurahkan waktu tenaga, pikiran, dan harta untuk keperluan pendidikan.

Dengannya, kita berharap Allah akan menganugerahkan generasi yang shalih dan shalihah. Generasi yang akan membawa negeri ini menjadi negeri yang aman, tenteram, adil dan makmur karena diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Perjuangan Orangtua Katak

Ada fenomena menarik yang dikisahkan oleh Syaikh Amin Al Anshori, seorang penulis dan praktisi pendidikan anak dari Mesir, saat Daurah Pendidikan Anak beberapa waktu lalu. Pada awal penyampaian, beliau menayangkan sebuah film dokumenter tentang dunia hewan. Hal yang paling menarik adalah segmen yang menayangkan perilaku satu jenis katak yang sangat unik dalam mengasuh dan membesarkan anaknya.

Adalah satu spesies katak yang disebut Strawberry Poison Dart Frog (Dendrobates pumilio, Oophaga pumilio) dalam bahasa kita bisa diterjemahkan sebagai “Katak Racun Panah Stroberi”. Katak jenis ini hidup di wilayah hutan tropis Amerika Tengah khususnya Panama dan Kosta Rika.

Ketika bertelur, katak betina meletakkan telurnya di dedaunan yang lembab. Lalu sang bapak menjaga telur-telur ini agar tetap lembab, membersihkannya dari jamur. Untuk itu setiap hari sang Bapak perlu mengairi telur-telur itu dengan air seninya untuk menjaga kelembaban.

Saat telur-telur mulai menetas menjadi kecebong (Inggris: tadpole), muncul tantangan baru. Kecebong-kecebong itu tak mungkin hidup di air yang keruh. Bahkan beberapa kecebong tak mungkin saling bersaing merebutkan makanan di satu kolam air yang sama.

Sang Ibu kemudian menggendong kecebong itu satu persatu, membawanya mencari seceruk air jernih, satu-satunya habitat yang dapat menopang hidup mereka. Sang Ibu mendapatkannya pada pokok daun Bromelia yang hidup menumpang pada pohon-pohon tinggi hutan hujan tropis. Nun jauh tinggi di atas sana. Sang Ibu harus memanjat pohon tinggi itu, sembari menggendong anak di atas punggungnya.

Bayangkan kita sebagai Ibu katak, itu sama saja dengan kita memanjat menara gedung tinggi, setinggi Empire State Building di Amerika Serikat, sembari menggendong bayi di atas punggung. Ingat, memanjat ya, bukan naik lift atau ekskalator! (Menurut laman skyscrapercenter.com, tinggi Empire State Building sampai lantai terakhir yang berpenghuni adalah 373 meter). Tak terbayang betapa berat upaya yang harus dilakukan ibu katak itu.

Katak Racun Panah Stroberi memanjat pohon sambil menggendong anaknya. (sumber: screenshot Youtube)

Tak cukup sampai di situ. Usaha yang sama harus dia lakukan untuk kecebong-kecebong lainnya. Satu kolam di daun Bromelia untuk setiap ekor kecebong. Jika dia punya tiga kecebong, maka dia harus memanjat pohon nan tinggi sebanyak tiga kali, mencari kolam air di daun Bromelia. Seberapa banyak anaknya, sebanyak itulah sang ibu harus memanjat pohon. Padahal, seekor katak racun panah bisa menetaskan sampai 6 ekor kecebong.

Usai mengantarkan anak-anaknya ke kolam tinggi di atas pohon, ternyata perjuangan pun belum selesai. Kecebong tidak mungkin hidup tanpa makanan, sementara di kolam kecil di pohon Bromelia itu tak tersedia makanan. Karena itu sang Ibu setiap hari harus datang kembali, memanjat pohon-pohon tinggi itu, untuk meletakkan sebutir telur yang tidak terbuahi (unfertilized eggs) sebagai makanan bagi anak-anaknya.

Beberapa hari kemudian, sang Ibu harus kembali lagi untuk memberikan sebutir telur lagi, demikian seterusnya hingga si kecebong selesai bermetamorfosis menjadi katak dan siap mencari makanan sendiri. Proses ini berlangsung antara 6 sampai 8 pekan.

 

Katak Racun Panah Stroberi bersiap meletakkan anaknya pada kolam kecil di tengah daun Bromelia. (sumber: screenshot video BBC One Life)

Saatnya bagi kita untuk bertanya, seberapa besar usaha kita untuk mendidik anak-anak kita? Seberapa payah jika dibandingkan dengan usaha sang katak memelihara kecebongnya?

 

Subhanallah.. Lihatlah betapa seekor katak berjerih payah untuk memelihara anak-anaknya. Betapa berat dan keras usaha yang dia lakukan untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.

Saatnya bagi kita untuk bertanya, seberapa besar usaha kita untuk mendidik anak-anak kita? Seberapa payah jika dibandingkan dengan usaha sang katak memelihara kecebongnya? Padahal kita tahu, sang katak tidak akan mendapatkan pahala apapun atas jerih payahnya itu. Sedangkan bagi kita, tidak ada kebaikan sekecil biji zarrah sekalipun, kecuali Allah akan berikan balasannya. Maka pantaslah kiranya kita bercermin dan belajar dari kisah sang katak dan kecebongnya. (Aboe Hazimah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.