Begitu Mudahnya Proses Hidup

Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan pada suatu hari, ada seseorang yang sedang berjalan ditengah padang pasir. Dalam kesendiriannya ia terkejut. Dengan jelas, ia mendengar suara yang berasal dari atas awan sana, “Siramilah kebun si fulan”, demikian suara itu terdengar.

Pemandangan aneh pun ia saksikan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat awan-awan itu bergerak menuju suatu tempat. Awan-awan itu menuju bukit berbatu hitam, dan menurunkan airnya disana. Air hujan turun demikian deras hingga airnya memenuhi saluran air yang ada di bukit tersebut.

Orang ini sungguh heran. Segera ia ikuti alur air sampai akhirnya bertemu dengan seorang petani. Ia melihat seorang petani sedang sibuk dengan cangkulnya, mengalirkan air yang datang tersebut ke ladangnya. “Wahai Hamba Allah, maaf nama anda siapa?” sapa orang tersebut kepada petani.

“Namaku fulan”, jawab si petani yang menyebut namanya persis dengan nama yang orang tersebut dengar dari suara awan. “Wahai Hamba Allah, mengapa engkau menanyakan namaku?” Tanya si petani.

“Sebenarnya aku telah mendengar namamu disbut pada awan yang membawa air yang sedang engkau atur ini.’Siramilah kebun si fulan’, ucapnya dengan menyebutkan namamu. Sebenarnya apa yang engkau lakukan dengan tanaman-tanaman ini?”

“Karena engkau menanyakannya, maka aku jawab. Bahwa aku selalu memperhatikan hasil panen kebunku. Aku menjadikannya 3 bagian. Bagian pertama untuk sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Sepertiga berikutnya untuk kelangsungan hidup keluargaku. Dan yang terakhir untuk modal tanam selanjutnya.”

Hari ini mungkin bising, ramai dan hiruk-pikuk dunia merupakan medium kelelahan yang terhantarkan pada rutinitas tanpa henti. Bak mesin-mesin pabrik dengan ritme istirahat tersesuaikan jeda tertentu, saling berkait dari sebuah sistem kerja dunia umumnya. Pergi sejak pagi, kembali belum tentu petang layaknya para petani di desa-desa. Pekerja keras, mereka bekerja untuk memberikan yang terbaik bagi para keluarga mereka. Dari segenggam harapan keberhasilan dan kesuksesan di dunia yang konon anggapannya bisa menjadi perantara akhirat yang akan kekal selamanya.

Diantara banyaknya orang-orang yang berlelah-letih untuk dunia mereka masing-masing. Tetap ada bagian dari manusia-manusia yang walaupun jumlahnya tak lebih banyak dari pencari dunia, disana tetap ada yang bersemangat justru bukan untuk dunianya, akan tetapi untuk membangun dunia-dunia orang lain. Sejarah tidak pernah berhenti mencatat dari orang-orang yang bisa jadi memiliki kekurangan namun kekurangannya itu membangun kelebihan bagi orang lain untuk tidak berhenti bermimpi.

Seperti petani yang dituturkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam diatas. Petani yang mencukupkan dirinya atas dunia. Lelahnya terhitung sedekah, kerjanya berbuah pahala, dan bahagianya ialah bisa melanjutkan kehidupan selanjutnya. Terus berputar dan begitulah kebaikan dari Allah Ta’ala, tak pernah mengenal kata henti. Selalu ada rejeki tercurah dari kerja-kerja kebaikan yang terlaksana sehari-hari.

Tak perlu sulit untuk berbuat baik bagi orang lain. Kala kemauan berjumpa dengan proses-proses kebaikan, maka Insya Allah akan datang kemudahan diiringi keberhasilan. Semoga kita yang masih sempurna akal pikiran serta raganya, diberi kemudahan dan kemampuan untuk berbagi kepada banyak orang dan menjadi pemberi manfaat, bukan sekedar penerima dan penengadah manfaat saja.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan penuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang mengangkat kesusahan seorang muslim, maka Allah akan mengangkat darinya kesulitan dari kesulitan yang ada pada hari kiamat. Dan bagi siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Oleh: Rizki Abu Haniina