Beginilah Sikap Terhadap Penguasa Lalim Menurut Hadits

Teduh.Or.Id – Adanya penguasa yang kelak akan melakukan kemungkaran rupanya telah diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kita, satu Mukjizat tentunya. Lalu bagaimanakah harusnya seorang muslim bersikap dengan penguasa penguasa seperti itu? Mari kita telaah jawabannya melalui Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut: Beliau bersabda:

ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون فمن عرف برئ ومن أنكر سلم ولكن من رضى وتابع قالوا أفلا نقاتلهم قال لا ما صلوا

Artinya: “Akan ada kelak para pemimpin, maka kalian mengenalnya dan mengingkarinya, maka siapa saja yang mengetahui (berarti) ia telah lepas dan siapa saja mengingkari maka ia selamat, akan tetapi (yang tidak selamat adalah) siapa yang rela dan mengikuti.” Mereka berkata: “Tidakkah kami boleh memerangi mereka?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jangan, selama mereka masih Shalat.”

(HR: Muslim 4777/ Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj/ 11-12/445/Darul Ma’rifah. Dan juga diriwayatkan oleh para Imam Hadits lainnya. Penulis mencukupkan dengan riwayat Muslim karena sudah mencukupi disamping juga haditsnya memang sudah jelas Shahih.)

Penjelasan sebagian kalimat Hadits:

  • Kalian mengenalnya dan mengingkarinya.” Maksudnya adalah kalian mengetahui perbuatan-perbuatan para pemimpin tersebut ada yang baik dalam timbangan Syariat dan ada pula yang Munkar. (Ad-Diibaj ‘Ala Muslim Karya Imam as-Suyuthi)
  • Siapa yang mengetahui.” Maksudnya adalah siapa saja yang mengetahui kemungkaran tersebut dengan jelas dan tanpa ada kesamaran dan disertai rasa kebencian atas kemungkaran tersebut maka ia bebas dari dosa. Dan ini sesuai dengan redaksi riwayat hadits lainnya yang menggunakan kata “Faman Kariha” yang artinya : “Siapa saja yang membenci.”
  • Akan tetapi siapa yang rela dan mengikuti.” Maksudnya ia rela dengan kemungkaran yang dilakukan penguasa tersebut dan juga mendukungnya dengan perbuatan.

Makna lebih jelasnya dari Hadits ini telah diuraikan oleh Imam al-Munawy Rahimahullah, beliau berkata:

  فمن كره) ذلك المنكر بلسانه بأن أمكنه تغييره بالقول فقد (برئ) من النفاق والمداهنة (ومن أنكر) بقلبه فقط ومنعه الضعف عن إظهار النكير فقد (سلم) من العقوبة على تركه النكير ظاهرا (ولكن من رضي) أي من رضي بالمنكر (وتابع) عليه في العمل فهو الذي لم يبرأ من المداهنة والنفاق ولم يسلم من العقوبة فهو الذي شاركهم في العصيان واندرج معهم تحت اسم الطغيان

“Siapa saja membenci kemungkaran tersebut dengan lisannya dengan kemungkinan ia bisa merubahnya dengan ucapan maka dia telah lepas dari (sikap) Nifaq dan Mudahanah (menjilat), dan siapa saja yang mengingkari dengan hatinya saja namun ia tertahan memperlihatkan pengingkaran itu oleh karena kelemahannya maka ia telah selamat dari ancaman hukuman atas meninggalkan kemungkaran secara terang-terangan. Namun tetapi siapa saja yang ridlo, yakni maksudya siapa saja yang ridla dengan kemungkaran dan mengikutinya dengan perbuatan maka dia adalah orang yang tidak berlepas dari Mudahanah (menjilat) dan Nifaq, dan dia tidak akan selamat dari hukuman, dan dia adalah orang yang ikut serta dengan mereka dalam kemaksiatan dan bergabung bersama mereka di bawah nama Thughyan (Jama’ dari kata Thoghut yang berarti melampaui batas).” (Faidlul Qadir Versi PDF (4/99) Cetakan ke-2 Darulma’rifah-Libanon.)

Jadi, sikap yang benar terhadap penguasa lalim yang melakukan kemungkaran dengan nyata adalah seperti yang dijelaskan di dalam Hadits di atas. Yaitu:

Pertama: seorang semestinya berlepas diri dengan hati atau pun dengan perbuatan terhadap kemungkaran tersebut. Dan hati harus tetap tidak ridla terhadap kemungkaran itu, dan tidak mengikutinya dengan dukungan dalam bentuk perbuatan apa pun, jika tidak demikian maka seorang dapat terancam dengan hukuman Allah ‘Azza Wajalla.

Maka tidaklah keliru jika masuk ke pintu-pintu dan majelis para penguasa dipandang sebagai cela, semua itu demi menjaga diri dari ketergelinciran sikap sehingga menjadikan seorang berubah menjadi sosok penjilat penguasa, yaitu dengan mendiamkan kemungkaran yang diperbuatnya dan hanya menyampaikan hal-hal tertentu yang dapat membuat si penguasa tetap menjadi senang dan rela terhadap dirinya.

Walaupun tentunya masuk ke pintu-pintu mereka tetap dipandang boleh oleh para Ulama dengan ketentuan seorang terjamin keselamatan Agamanya dan demi menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemungkaran yang dilakukan penguasa tersebut.

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ومن أتى أبواب السلطان افتتن وما ازداد عبد من السلطان قربا إلا ازداد من الله بعدا. رواه أحمد بإسنادين رواة أحدهما رواة الصحيح

Artinya: “Dan siapa saja yang mendatangi pintu-pintu penguasa (maka dia akan menjadi) terfitnah dan tiadalah seorang hamba bertambah dekat dengan penguasa kecuali ia bertambah jauh dari Allah.”

(Diriwayatkan oleh Imam al-Mundziry dalam al-Targhib Wat Tarhib (4/254) Cet. Pertama Darul Imam Ahmad Tahun 1437 H./2010 M. dan beliau berkata: “Hadits ini telah diriwayatkan Ahmad dengan dua jalur periwayatan (Sanad) yang salah satu dari keduanya adalah periwayat-periwayat yang Shahih.” kemudian dinilai Shahih juga oleh Syaikh al-Albany Rahimahullah dalam Shahih al-Targhib Wat Tarhib)

Imam Ibnu Bathhah Al-Hanbaly Rahimahullah menukil beberapa riwayat dalam masalah ini, dan semoga ada baiknya penulis menghadirkannya di sini.

قال يونس بن عبيد ولا تدخلن على أمير ولو أن تعظه

Yunus bin Ubaid berkata: “Dan janganlah sekali-kali kamu masuk ke penguasa walau pun kamu hendak memperingatinya.” (Al-Ibanah bagian Kitab Al-Iman No. 387 (2/442) Cetakan kedua Dar al-Royah- Riyad)

عن كريب الهمداني ، قال : قلت لابن عمر : إنا إذا دخلنا على الأمراء زكيناهم ، وإذا خرجنا من عندهم دعونا الله عليهم قال : كنا نعد هذا النفاق

Dari Kuraib al-Hamadany beliau berkata: “Aku pernah berkata kepada Ibnu ‘Umar : “Sesungguhnya kami apabila telah masuk ke (majelis) para pemimpin kami menyetujui mereka, namun apabila kami telah keluar dari sisi mereka kami mendoakan kepada Allah keburukan atas mereka,” Beliau menjawab : “Ini dulu kami menganggap hal ini dulu adalah (bentuk) Nifaq.” (Al-Ibanah karya Ibnu Bathhah Rahimahullah bagian Kitab Al-Iman No. 923 (2/ 694) Cetakan kedua Dar al-Royah- Riyad)

إن الرجل ليدخل على السلطان ، ومعه دينه ، ويخرج وما معه من دينه شيء ، قيل : لم يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : لأنه يرضيه بما يسخط الله

ِAbdullah bin Umar Radliyallahu ‘Anhuma berkata: “Sesungguhnya seorang masuk ke penguasa dalam keadaan Agamanya menyertai dirinya namun ia keluar dalam keadaan tidak ada sedikitpun dari Agamanya menyertai dirinya, kemudian beliau ditanya: Kenapa wahai Aba ‘Abdirrahman ?” Beliau menjawab : Karena sesungguhnya dia akan membuatnya (si penguasa) menjadi rela dengan dirinya dengan apa-apa yang Allah murkai.” (Al-Ibanah karya Ibnu Bathhah Rahimahullah bagian Kitab Al-Iman No. 924 (2/ 694) Cetakan kedua Dar al-Royah- Riyad)

Sikap yang kedua seorang rakyat terhadap pemimpin zhalim adalah diharamkan Khuruj atau keluar dari pemerintahan penguasa walau pun dia zhalim selama dia masih mendirikan Shalat. Imam Al-Munawy Rahimahullah berkata:

  وفيه حرمة الخروج على الخلفاء بمجرد ظلم أو فسق ما لم يغيروا شيئا من قواعد الدين

“Dan di dalamnya (Hadits pertama yang telah disebutkan sebelumnya) ada pengharaman Khuruj terhadap para Khalifah (pemimpin) dengan sebab hanya sekedar kezhaliman atau kefasikan selama mereka tidak merubah apa pun dari dasar-dasar Agama” (Faidlul Qadir Versi PDF (4/99) Cetakan ke-2 Darulma’rifah-Libanon.)

Dan telah dinukil Ijma’ dalam hal ini oleh para Ulama, di antaranya oleh al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam penjelasan beliau tentang biografi Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. – dimana al-Hasan bin Shalih adalah seorang periwayat hadits yang memiliki pandangan bolehnya Khuruj dengan pedang terhadap pemimpin yang zhalim – beliau Al-Hafizh Rahimahullah berkata:

وهذا مذهب للسلف قديم لكن إستقر الأمر على ترك ذلك لما رأوه قد أفضى إلى أشد منه

“Dan ini adalah pendapat dari ulama salaf yang telah lama, akan tetapi perkara ini telah menjadi ketetapan agar meninggalkan hal itu karena apa yang telah mereka lihat kadang (Khuruj terhadap penguasa yang zhalim) dapat menghantarkan kepada suatu hal yang lebih buruk darinya.” (Tahdzib at-Tahdzib [1/399] Cet. Muassasah ar-Risalah)

Imam Abu Zakariyya An-Nawawy Rahimahullah berkata:

  وأما الخروج عليهم وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقة ظالمين وقد تظاهرت الأحاديث بمعنى ما ذكرته وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق

“Dan adapun Khuruj terhadap mereka (penguasa zhalim) dan memeranginya maka (hukumnya) haram berdasarkan Ijma’ kaum muslimin walau pun mereka fasik dan zhalim dan sebenarnya hadit-hadit telah jelas dengan makna yang telah saya sebutkan dan Ahlussunnah telah berijma’ sesungguhnya penguasa tidak boleh dilengserkan karena kefasikan.”

Beliau juga menegaskan kembali dengan menukil perkataan al-Qadli ‘Iyadl Rahimahullah :

قال القاضي وقيل أن هذا الخلاف كان أولا ثم حصل الإجماع على منع الخروج عليهم والله اعلم

Al-Qadli berkata: “Dan dikatakan bahwa sesungguhnya perbedaan pandangan ini dulu pernah ada pada awalnya, kemudian Ijma’ telah tercapai atas terlarangnya Khuruj terhadap mereka. Wallahu A’lam.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (11-12/432-433) Cet. Darul Makrifah.)

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين

Musa Abu ‘Affaf, BA.