Bagaimana Jika Suami Mengingkari Kebaikan Istri?

Teduh.Or.Id – Dosa seorang istri mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya sudah barang tentu suatu hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Hampir semua suami mengetahui hal tersebut. Dalam hadits disebutkan. Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma beliau berkata,”Nabi ﷺ pernah bersabda,

رأيت النار فإذا أكثر أهلها النساء يكفرن قيل أيكفرن بالله قال يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر ثم رأت منك شيئا قالت ما رأيت منك خيرا قط

Aku pernah melihat neraka maka penduduk yang paling banyak di dalamnya adalah perempuan, mereka adalah perempuan-perempuan yang ingkar”, lalu ada yang bertanya kepada Nabi ﷺ , apakah karena mereka ingkar kepada Allah?”, Nabi ﷺ bersabda, “mereka mengingkari suaminya, dan mengingkari kebaikan-kebaikannya, apabila engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat sesuatu kesalahan darimu maka ia akan berkata, “aku tidak pernah melihat kebaikan apa pun darimu.[1]

Nah, sekarang bagaimana jika yang terjadi adalah hal sebaliknya, yaitu suami mengingkari kebaikan-kebaikan istrinya, apakah ancaman dalam hadits itu juga berlaku kepada para suami?

Menjawab pertanyaan tersebut, berikut kami nukilkan pandangan ilmiah dari syaikh Salman Al-Majid hafizhahullah[2] yang pernah mendapat pertanyaan serupa seperti di atas.

Pertanyaan: “Kita telah ketahui akibat dari pengingkaran istri terhadap suaminya – seperti yang disebutkan dalam hadits, lalu apakah akibat dosa ini juga berlaku terhadap lelaki atas pengingkarannya terhadap kebaikan istrinya?

Beliau menjawab:

فإن القاعدة التي ذكرها أهل العلم في هذا المقام هي: “أن كل خطاب لأحد الجنسين موجه للآخر إلا بدليل يستثنيه”، ومعنى هذه القاعدة أنه إذا وجه الخطاب للمرأة فهو خطاب للرجل إلا بدليل يدل على عدم شموله بهذا الخطاب، وكذلك إذا وجه الخطاب للرجل فهو يشمل للمرأة . ومعنى كفران العشير أن لا يُعرف فضله، أو تنسى كل فضائله بسبب خطأ واحد زوجا أو زوجة. فعليه إذا جحد الزوج فضائل الزوجة الكثيرة بسبب أخطاء قليلة فهو من كفر العشير. والله أعلم

Sesungguhnya kaidah yang telah disebutkan ulama dalam dataran masalah ini adalah, “Sesungguhnya semua arah pembicaraan yang ditujukan kepada salah satu dari dua jenis (maka pembicaan tersebut) diarahkan (pula) kepada yang lainnya (dan keumuman ini menjadi tidak berlaku) kecuali dengan dalil yang mengecualikannya”, dan makna (penerapan) dari kaidah ini adalah, apabila suatu pembicaan diarahkan kepada perempuan maka hal itu juga adalah pembicaraan kepada lelaki, kecuali dengan dalil yang menunjukkan atas tidak adanya keumuman cakupan dengan pembicaraan itu, dan demikian juga apabila pembicaraan diarahkan kepada lelaki maka dia meliputi perempuan.

Dan makna dari Kufranul-‘Asyir (mengingkari suami) adalah tidak mengakui keutamaannya, atau ia melupakan semua kebaikan-kebaikannya dengan sebab satu kesalahan baik dari arah suami atau pun istri.

Maka atas hal itu, apabila seorang suami mengingkari kebaikan-kebaikan istri karena sebab beberapa kesalahan yang sedikit maka dia termasuk ke dalam kufrul-‘asyir (mengingkari kebaikan pasangan). Wallahu A’lam.”

Wah, mulai sekarang para suami mesti berhati-hati ya, jangan melupakan kebaikan dan pengorbanan istri.


[1] Hadits Riwayat Imam Bukhariy

[2] Lihat fatwa beliau di web pribadi beliau , melalui ini : Klik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.