Auliya’ dalam Al-Maidah 51

Teduh.Or.Id – Larangan memberikan tampuk kekuasaan dan kepemimpinan kepada orang kafir adalah satu keniscayaan dalam Islam, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang  yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai Auliya’, Sebagian mereka adalah Auliya’ untuk sebagian lainnya, dan siapa saja di antara kalian yang memperwalikan mereka maka sesungguhnya ia adalah bagian dari mereka, sesungguhnya Allah tiada menunjuki kaum yang zalim.” (QS: al-Maidah 51)

Auliya’ dalam Ayat ini adalah kata plural dari kata Waly yang asalnya adalah dari kata al-Wilayah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan bahwa makna al-Wilayah adalah lawanan dari al-‘Adawah :

و الولاية ضد العداوة وأصل الولاية المحبة والقرب وأصل العداوة البغض والبعد 

 

“Dan “al-Wilayah” adalah lawan kata dari al-‘Adawah, dan makna dasar dari al-wilayah adalah kecintaan dan kedekatan, sedangkan dasar makna dari al-‘Adawah adalah kebencian dan jauh.” [1]

Menurut ar-Raghib al-Ashfahany (W.502) Rahimahullah, Kata Waly digunakan sebagai ungkapan untuk kedekatan dengan sesuatu ditinjau dari sisi tempat, nasab, Agama, saling percaya, atau dalam kedekatan dalam konteks sebagai penolong, dan kedekatan keyakinan. Namun hakikatnya adalah Tawallil Amr  yaitu melimpahkan wewenang urusan. [2]

Maka dapat kita simpulkan bahwa kata Auliya’ dalam Ayat ini dan yang lainnya memiliki makna yang meliputi banyak hal namun yang  terpenting darinya adalah makna Waliyyul Amri (penguasa) seperti yang disebutkan oleh ar-Raghib al-Ashfahany Rahimahullah sebelumnya, sebab telah banyak pihak yang mencoba untuk mengaburkan makna Auliya’ dalam Ayat ini dari makna tersebut dengan berbagai macam alasan untuk meraih keinginan mereka.

Al-Maidah 51 adalah dalil yang sangat terang benderang  yang menegaskan kepada kita akan terlarangnya kaum muslimin menjadikan orang kafir sebagai pemegang wewenang dan kebijakan untuk kaum muslimin.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan Ayat ini berkata;

  ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى الذين هم أعداء الإسلام وأهله

“Allahu Ta’la melarang hamba-hambanya yang beriman dari melimpahkan pemenangan urusan kepada Yahudi dan Nasrani yang mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan pemeluknya.” [3]

Dan larangan ini bukan hanya ditegaskan oleh Imam Ibnu Katsir sendiri, namun juga telah ditegaskan oleh semua Ulama Tafsir dengan berlandaskan pada Ayat di atas, di antaranya adalah Imam asy-Syaukany (W.1250 H.) Rahimahullah, dan beliau berkata:

والمراد من النهي عن اتخاذهم أولياء أن يعاملوا معاملة الأولياء في المصادقة والمعاشرة والمناصرة

“Dan yang dimaksudkan dari pelarangan menjadikan mereka sebagai Auliya‘ adalah (larangan) berinteraksi dengan mereka layaknya interaksi kepada Auliya’ dalam hal kejujuran, pergaulan dan tolong menolong” [4]

Ancaman Atas Siapa Saja yang Memperwalikan Orang Kafir

Sebagai akibat atas siapa saja dari orang  yang beriman yang menjadikan orang kafir sebagai penguasa adalah digolongkannya mereka kepada kelompok orang kafir tersebut. Inilah makna dari firman Allah :

 ومن يتولهم منكم فإنه منهم

Artinya: “Dan siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka Auliya’ maka ia bagian darinya”

Demikian dan semoga bermanfaat.


[1] Al-Majmu’ul Fatawa (1/160) / Maktabah asy-Syamilah.

[2] al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an/590/ Dar Ibnul Jauzy-Mesir.

[3] Tafsir Ibnu Katsir / 2/95/ Cet. Mu’assasah ar-Rayyan.

[4] Fathul Qadir /446/Cet. Maktabatur Rusyd.