Asal Usul Bacaan “Li Khamsatun” Penangkal Wabah

Wabah covid-19 sontak telah membungkam manusia manusia sombong sehingga membuat mereka menjadi makhluk yang begitu tak berdaya, bahkan kehadirannya di bumi ini seolah tidak begitu penting jika hanya merusak bumi dan berbuat dosa saja.

Mungkin inilah salah satu hikmah dari coid-19 muncul, menyadarkan kembali manusia agar mereka ingat kepada Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, Rabbul ‘Izzah Wal Jalal.

Di tengah keadaan mencekam ini, kaum beriman dituntut agar mereka memperbanyak amal saleh, berdoa dan berdzikir, sebab spritual sebenarnya adalah salah satu jalan utama meraih penjagaan diri dari segala mara bahaya termasuk wabah covid-19.

Namun di antara dzikir yang beredar dan telah diwasiatkan oleh pihak tertentu untuk dibaca oleh ummat Islam, adalah bait syair yang muatan dan asal usulnya mengundang kontoversial, dzikir tersebut berbunyi;


 لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة    المصطفى والمرتضى وابناهما والفاطمة


Sebatas penelusuran penulis, ternyata ucapan ini berasal dari seorang tokoh yang bernama Ahmad Ridlo Al-Brilawiy Wafat 25 Safar 1340 H./ 1921 M.

Menurut ulama ahli Firaq, Ahmad Ridlo adalah pendiri kelompok yang belakangan kemudian dikenal dengan sekte Al-Brilawiyyah, yang konon berpusat di India –Pakistan pada zaman penjajahan inggris.

Lebih jauh kelompok ini (Al-Brilawiyyah) tergolong ke dalam sekte Shufi namun memiliki kemiripan keyakinan dengan sekte Syi’ah, sebab Ahmad Ridlo tercatat memiliki ucapan perendahan terhadap Ummulmukminin ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha.

Prof. Dr. Yusuf bin ‘Abdirrahman dalam kitabnya Mashadir al-Dirasat Al-Islamiyyah (2/960) ketika membedah sekte Al-Brilawiyyah menukil secara utuh ucapan dan wasiat Ahmad Ridlo yang terdapat di dalamnya bacaan “Lii Khamsatun” di atas  ;

Ahmad Ridlo Al-Brilawi berkata:

“Sesungguhnya urutan para wali Ghauts dimulai dari Ali, dan sesungguhnya Ali mampu menolak bencana dan menyingkap kesusahan, dan di antara doanya (Ahmad Brilawi)  adalah :

ناد عليا مظهر العجائب    تجده عونا لك في النواب

لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة    المصطفى والمرتضى وابناهما والفاطمة

“Panggillah Ali ia akan menampakkan keajaiban, Engkau akan temukan ia menolongmu dalam kesusahan”

“Aku punya lima (Ghauts) dengannya aku akan mematikan panasnya wabah yang melahap, Al-Mushthofa, Al-Murtadlo, Dan kedua anaknya, dan Fathimah.” (AlFatawa al-Radlawiyyah)

Dan bacaan ini mengandung beberapa penyimpangan

  1. Susunan Kata-katanya kurang beradab.

Meskipun pembuat bacaan tersebut meyakini Allah yang Maha Kuasa menyembuhkan, namun kita temukan bacaan tersebut sama sekali tidak menyebutkan nama Allah sebagai pemadam wabah, padahal hanya Allah ‘Azza Wajalla yang berkuasa memadamkan wabah secara hakikat, dan kesembuhan itu hanya dalam kehendak Allah ‘Azza Wajalla, Allah berfirman memberitahukan kepada kita ucapan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam :


وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”, (QS : al-Syu’ara 80)


Imam Ibnu Katsir – Rahimahullah – berkata ;

إذا وقعت في مرض فإنه لا يقدر على شفائي أحد غيره ، بما يقدر من الأسباب الموصلة إليه

 “Apabila aku jatuh sakit maka tidak ada yang akan mampu atas kesembuhanku selain Allah dengan apa apa yang telah ditentukannya dari sebab-sebab yang menghantar kepada kesembuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/147)

Dalam ayat ini terdapat adab dan tatakrama yang sangat penting untuk diingat, yaitu dalam masalah mengembalikan dan menyandarkan suatu harapan dan nikmat maka wajib hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Sementara bacaan di atas justru janggalnya malah tidak sama sekali menyebut nama Allah ‘Azza Wajalla yang merupakan Maha Penyembuh segala penyakit dan wabah.

Maka bagaimana bisa bacaan ini patut disebut dzikir yang dapat menghilangkan penyakit wabah sedangkan ia sunyi dan hampa dari Nama Allah? Dan mengapa justru nama nama selain Allah, yang dijadikan sebagai bacaan yang disuruh untuk diperbanyak membacanya. ? Sungguh hal ini adalah suatu adab yang sangat jauh dari tuntunan Islam yang telah mengajarkan kita agar berdzikir menyebut dan mengagungkan Allah dalam keadaan sempit dan susah, Allah berfirman:


الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS: al-Ra’d 28)


Nabi ﷺ juga pernah berpesan agar kita selalu berdzikir menyebut nama Allah;

لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله

 “Senantiasa lisanmu basah menyebut Allah”. (Hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, Al-Albaniy menilainya Shahih.) 

  1. Istigatsah kepada selain Allah.

Ungkapan ini sebenarnya selain bermuatan pengharapan, juga terdapat di dalamnya keyakinan bahwa wabah penyakit menjadi musnah apabila seorang bersandar kepada lima nama yang disebutkan di atas, yaitu Nabi Muhammad ﷺ , Almurtadla ( Ali bin Abi Thalib), Hasan, Husain, dan Fathimah.

Inilah makna yang tersirat secara lahiriyyah darinya, dan ini masuk ke dalam kategori Istighatsah (meminta pertolongan dalam keadaan genting) kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang sudah wafat.

Bahkan Nabi ﷺ sendiri pernah berdoa kepada Allah agar wabah yang ada di kota Madinah agar dipindahkan ke daerah Juhfah yang merupakan wilayah hunian bangsa yahudi, dalam hadits disebutkan Nabi ﷺ berdoa;

اللهم حبب إلينا المدينة كما حببت إلينا مكة أو أشد وانقل حماها إلى الجحفة

“Ya Allah jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau telah menjadikan kami mencintai Makkah atau lebih lagi darinya, dan pindahkanlah wabah demamnya ke daerah Al-Juhfah. (Hr. Bukhari dan Muslim).

Maka hendaklah kita mengikuti cara Nabi ﷺ ini dalam menghilangkan wabah, yaitu dengan mengharap dan memohon hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla, bukan kepada selainnya.

  1. Memerintahkan orang banyak mengamalkan suatu bacaan tanpa landasan dari al-Qur’an dan Al-Hadits

Menganjurkan orang-orang secara luas agar membacanya sebagai dzikir penolak wabah adalah perkara yang keliru, sebab tidak boleh ada siapa pun menganjurkan suatu bacaan yang ia buat sendiri kepada orang banyak serta diiming-imingkan dengan keutamaan tertentu sehingga orang-orang menjadi beralih kepadanya dan meninggalkan dzikir-dzikir atau bacaan yang telah datang dari Nabi ﷺ , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – rahimahullah – berkata;

  ومن أشد الناس عيبا من يتخذ حزبا ليس بمأثور عن النبي صلى الله عليه وسلم وإن كان حزبا لبعض المشايخ ويدع الأحزاب النبوية التي كان يقولها سيد بني آدم وإمام الخلق وحجة الله على عباده

“Dan orang yang paling tercela adalah orang-orang yang menjadikan suatu Hizb (bacaan tertentu) yang tidak pernah datang dari Nabi ﷺ , walau pun Hizb tersebut milik sebagian para syaikh-syaikh, dan ia meninggalkan Haib-Hizb yang berasal dari Nabi ﷺ yang di mana Hizb-Hizb tersebut pernah dibaca oleh penghulu manusia , imam seluruh makhluk, dan hujjah Allah atas hambanya.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/525)

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.