Aqiqah Bayi yang Telah Mati

Teduh.Or.Id – Atas takdir Allah anaknya meninggal dunia beberapa hari sebelum di-aqiqah, apakah masih dianjurkan melakukan aqiqah ? Semoga siapa saja yang diberi ujian seperti itu diberikan ketabahan hati dan kesabaran oleh Allah ‘Azza Wajalla. Amiin

Secara umum Aqiqah tetap dianjurkan baik dalam keadaan bayi tersebut masih hidup ataukah telah wafat karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

عن سمرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع  ويحلق رأسه ويسمى. رواه ابن ماجة

 Dari Samurah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda: “Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya, (Aqiqah itu) disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh dan digunduli dan diberi nama.” [HR: Ibnu Majah] [1]

 Makna Tergadai

Kata Murtahin atau tergadai dalam hadits ini dimaknai oleh para Ulama dengan beberapa makna yang berbeda dan nampaknya semua makna tersebut masih sebatas pandangan dan bukan Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah sedikit telah memaparkan hal ini,  beliau berkata :

 قال الخطابي اختلف الناس في هذا وأجود ما قيل فيه ما ذهب إليه أحمد بن حنبل قال هذا في الشفاعة يريد أنه إذا لم يعق عنه فمات طفلا لم يشفع في أبويه وقيل معناه أن العقيقة لازمة لا بد منها فشبه المولود في لزومها وعدم انفكاكه منها بالرهن في يد المرتهن وهذا يقوي قول من قال بالوجوب وقيل المعنى أنه مرهون بأذى شعره ولذلك جاء فأميطوا عنه الأذى. اه

Al-Khathhaby Rahimahullah berkata : “Orang-orang berbeda pendapat dalam hal ini namun pendapat yang paling baik dalam hal ini adalah pendapat yang dipegang Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata: ” Ini dalam (masalah) Syafa’at, maksudnya adalah apabila belum di Aqiqahkan lalu mati masih kecil maka ia tidak dapat memberi Syafa’at terhadap kedua orang tuanya.” Dan ada yang berpendapat: “Sesungguhnya Aqiqah adalah (perkara) yang bersifat lazim (harus) tidak boleh tidak dilakukan, anak tersebut diserupakan pada sisi keharusannya dan tidak dapatnya dipisahkan dari Aqiqah dengan gadaian yang ada pada tangan orang menerima gadai, dan pendapat ini menguatkan pendapat pihak yang berkata wajibnya Aqiqah. Disebutkan juga maknanya adalah : “Bahwa anak tersebut tergadai dengan kotoran pada rambutnya oleh sebab itulah datang (satu riwayat hadits menyebutkan) “Maka hilangkanlah kotoran dari kepalanya.”. [2]

Hadits di atas – sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya – adalah dalil atas tetap dianjurkannya mengaqiqahkan bayi walau pun telah mati, untuk menguatkan kesimpulan tersebut, berikut kami sebutkan beberapa pendapat Ulama:

Imam an-Nawawy Rahimahullah berkata:

 لو مات المولود بعد اليوم السابع وبعد التمكن من الذبح فوجهان حكاهما الرافعي (أصحهما) يستحب ان يعق عنه (والثاني) يسقط بالموت

“Apabila bayi itu mati setelah hari ke tujuh dan setelah ada kesiapan menyembelih maka ada dua wajah pendapat – kedua pendapat tersebut telah diceritakan oleh (Imam) ar-Rafi’i – dan yang paling benar adalah disunnahkan mengaqiqahkannya dan pendapat yang kedua gugur anjuran aqiqah dengan sebab kematian.” [3]

Dan inilah yang menjadi pegangan dalam Madzhab asy-Syafi’iyyah bahwa tetap dianjurkan Aqiqah walau pun bayi tersebut telah mati, Imam ar-Ramly berkata:

ويندب العق عمن مات بعد الأيام السبعة والتمكن من الذبح وكذا قبلها كما في المجموع

“Dan disunnahkan mengaqiqahkan anak yang telah mati setelah hari ke tujuh dan disertai ada kesiapan untuk menyembelih dan demikian juga dengan sebelumnya (mati sebelum hari ke tujuh) sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Majmu’.” [4]

Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah menjelaskan :

 “Dan hikmah dalam ditetapkannya Aqiqah pada hari yang ke tujuh karena hari yang ke tujuh adalah penutup semua hari dalam setahun, apabila seorang anak dilahirkan pada hari kamis, maka hari kamis, jum’at, sabtu, ahad, senin, selasa, dan rabu akan ia lalui, sehingga dengan melewati hari-hari (yang ada) dalam setahun ini ia menjadi tersugesti bahwa bayi tersebut akan tetap ada dan pajang umurnya. Maka atas dasar penalaran Ta’lil [5] ini jika seorang bayi mati sebelum hari ke tujuh maka Aqiqahnya menjadi gugur (tidak dianjurkan), sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Disembelihkan pada hari ke tujuh”.

Akan tetapi Ta’lil ini bisa saja (menjadikan) seseorang ada dalam keraguan tentangnya dan akan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menentukan hari ke tujuh karena di (lain hal keadaan) sana ada beberapa hal yang banyak berkaitan dengan jumlah tujuh dan kita tidak mengetahui apakah itu demi hikmah tertentu ataukah tidak? Maka atas hal ini Aqiqah tetap disunnahkan walau pun bayi itu mati sebelum hari ke tujuh.” [6]

Dan komite Fatwa Saudi Arabia pernah ditanya tentang hal tersebut dan mengeluarkan fatwa yang senada dengan pendapat yang menetapkan kesunnahan Aqiqah walau pun bayi tersebut telah mati, berikut jawabannya:

تستحب العقيقة عن المولود ولو كان ميتًا؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:  كل غلام مرتهن بعقيقته  وهذا يشمل الحي والميت؛ ولأنه صلى الله عليه وسلم أمر أن يعق عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة، ولم يقل إذا كانا حيين أو إذا ولدا حيين

“Disunnahkan mengaqiqahkan bayi walau pun dia mati, karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya dan hal ini meliputi (bayi) yang hidup dan mati, dan karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memerintahkan agar mengaqiqahkan bayi dengan dua ekor kambing dan bayi perempuan dengan satu ekor kambing, namun beliau tidak bersabda dengan: “Apabila keduanya (bayi lelaki dan bayi perempuan) masih dalam keadaan hidup ataukah apabila keduanya dilahirkan dalam keadaan hidup.” [7]

Dengan demikian maka bagi saudaraku yang bayinya meninggal namun belum sempat diaqiqahkan maka kesunnahan atau anjuran mengaqiqahkan bayi tersebut masih tetap ada. Wallahu A’lam.


[1] al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam at-Talkhishul Habir 6/ 3039-3040/ Cet. Adlwa’ussalaf – Riyad. menerangkan bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, dan Ash-habus Sunan (Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nas’i, Ibnu Majah), al-Hakim, dan al-Baihaqy dari al-Hasan dari Samurah. dan dishahihkan oleh al-hakim dan Abdul Haq.

[2] Fathul Bary Syarh Shahihil Bukhary 12/410/Cet. Dar Thayyibah – Riyad.

[3] al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab – Babul ‘Aqiqah

[4] Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj. Imam Syihabuddin ar-Ramly /Kitabul Udlhiyah/ Fashlun Fil ‘Aqiqah/ 27/235/ Maktabah asy-Syamilah.

[5] Ta’lil maksudnya adalah analisa sebab yang menentukan tetapnya sebuah hukum atau tidak atas satu perkara yang tersebut di dalam hadits atau pun al-Qur’an.

[6] Syarhul Mumti’ 7/494/ Bab al-Hadyu Wal Uhlhiyah Wal ‘Aqiqah. ( Maktabah asy-Syamilah.)  berikut redaksi Arabnya :

والحكمة في أنها تكون في اليوم السابع لأن اليوم السابع تختم به أيام السنة كلها، فإذا ولد يوم الخميس مر عليه الخميس والجمعة والسبت والأحد والاثنين والثلاثاء والأربعاء، فبمرور أيام السنة يتفاءل أن يبقى هذا الطفل ويطول عمره فبناء على هذا التعليل لو مات الطفل قبل السابع فإنها تسقط العقيقة؛ لأن الرسول صلّى الله عليه وسلّم قال: «تذبح يوم السابع» ولكن هذا التعليل قد يكون الإنسان في شك منه، ويقول: إن الرسول صلّى الله عليه وسلّم اختار اليوم السابع؛ لأن هناك أشياء كثيرة معلقة بالعدد سبعة، ولا ندري هل لحكمة أو لا؟ وعليه تسن العقيقة ولو مات قبل السابع.

[7] http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=7&PageID=14344