Apakah Angin Lewat Miss V Membatalkan Wudlu’?

Teduh.Or.Id – Kalau bukan karena hendak menjelaskan sebuah hukum yang terkait dengan sah atau batalnya wudlu’ maka persoalan ini berat rasanya untuk penulis angkat, sebab ia terkait dengan masalah yang sangat rahasia dalam dunia kaum perempuan.

Dari itu penulis hanya membatasi diri hanya dengan menukil pendapat dan fatwa para Ulama dalam masalah ini, seperti apakah pendapat mereka? mari kita baca dengan baik ulasannya sebagai berikut :

  • Ringkasan perbedaan pendapat ulama dari empat Madzhab tentang hukum angin yang keluar dari kemaluan perempuan.

 

واختلفوا في الريح الخارجة من الذكر أو قبل المرأة

فقال الحنفية في الأصح والمالكية وهو رواية عند الحنابلة : لا تعتبر حدثا ، ولا ينتقض بها الوضوء ، لأنها اختلاج وليس في الحقيقة ريحا منبعثة عن محل النجاسة  وهذا في غير المفضاة ، فإن كانت من المفضاة فصرح الحنفية أنه يندب لها الوضوء ، وقيل : يجب ، وقيل : لو منتنة ، لأن نتنها دليل خروجها من الدبر. وقال الشافعية وهو رواية أخرى عند الحنابلة : إن الخارجة من الذكر أو قبل المرأة حدث يوجب الوضوء لقوله صلى الله عليه وسلم : لا وضوء إلا من صوت أو ريح

 

“Dan para Fuqaha’ berbeda pendapat dalam masalah angin yang keluar dari zakar atau kemaluan perempuan: Maka Madzhab Al-Hanafiyyah dalam pendapat mereka yang paling Shahih, dan Madzhab Al-Malikiyyah, dan dia (pendapat ini) adalah salah satu riwayat di sisi madzhab Al-Hanabilah, bahwa: Angin tersebut tidak dianggap sebagai Hadats, dan wudlu’ tidak menjadi batal oleh sebabnya, karena angin tersebut adalah sebuah pergerakan saja dan pada hakikatnya bukan angin yang timbul dari tempat yang najis, dan pendapat ini (berlaku) pada selain Al-Mufdlot (yaitu wanita yang saluran kencing dan saluran tinjanya menyatu atau bercampur menjadi satu). Maka apabila yang mengalaminya adalah dari kalangan perempuan yang Al-Mufdlot maka Al-Hanafiyyah menegaskan bahwa dalam keadaan seperti itu dianjurkan baginya untuk wudlu’, dan ada yang mengatakan wajib wudlu’ dan disebutkan wajib wudlu’ apabila anginnya berbau busuk, karena bau busuknya menunjukkan bahwa anginnya keluar dari dubur . Dan Madzhab Asy-Syafi’iyyah berkata, dan dia (pendapat tersebut) adalah satu riwayat juga di sisi Al-Hanabilah: “Sesungguhnya segala  yang keluar dari zakar atau kemaluan perempuan terhitung sebagai Hadats yang mewajibkan wudlu’, karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tidak ada (kewajiban) wudlu’ kecuali karena suara atau angin”. (Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah versi Pdf 17/112)

  • Fatwa Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiyyah Kerajaan Saudi Arabia dan rincian hukum angin yang keluar dari kemaluan perempuan.

Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiyyah Kerajaan Saudi Arabia pernah mendapatkan pertanyaan serupa dengan kita bahas, bagaimanakah jawabannya? Berikut kami nukilkan secara utuh jawabannya:

Pertanyaan: “Saya seorang perempuan. Sejak dulu, kemaluan saya sering mengeluarkan angin . Ini mengakibatkan saya mengulangi wudlu dan shalat beberapa kali. Saya mengalami kesulitan besar untuk mengulang wudlu. Apa yang mesti saya lakukan?

Apakah angin tersebut membatalkan wudlu? Apabila membatalkan wudlu, angin itu sering sekali keluar, apa yang mesti saya lakukan? Hal itu membuat saya mengulangi wudu sampai 5 kali, bahkan kadang-kadang sampai 8 kali, dan ini mengakibatkan ketidaktenangan ketika salat karena takut keluarnya angin . Dan apa yang wajib saya lakukan terhadap salat yang telah saya kerjakan dengan angin terus keluar, dan itu setelah saya mengulang wudlu beberapa kali? Berilah saya fatwa, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban: “Keterangan medis yang diterima oleh Komite Tetap Fatwa tentang masalah ini menyebutkan sebagaimana berikut:

1- Bahwa angin yang keluar dari kemaluan perempuan adalah penyakit sederhana dan umum dialami oleh kaum perempuan. Hal ini terjadi akibat melebarnya vagina setelah melahirkan berkali-kali pada perempuan. Ketika perempuan duduk atau bertelentang, angin dari dalam kamar atau tempat duduknya masuk ke dalam vagina, begitu juga ketika bersetubuh dan ketika ada tekanan kuat dari dalam perut seperti hendak berdiri dari duduk atau batuk atau mengangkat badan yang berat. Angin akan keluar dari vagina yang menimbulkan suara seolah-olah kentut yang keluar dari usus atau dubur.

Angin yang keluar ini merupakan angin biasa dan tidak ada kaitannya dengan kentut atau sisa makanan atau buang air besar. Hal ini dapat diobati dengan melakukan operasi untuk mempersempit vagina.

 2- Penanya sebaiknya melakukan pemeriksaan untuk menghindari terjadinya vagina fistula (ada kebocoran antara dinding vagina belakang dan usus besar), dimana terjadinya pembocoran gas dari usus besar ke vagina. Dalam hal ini Anda perlu melakukan operasi untuk menutup bagian yang bocor ini, dimana keluarnya gas antara dubur dan vagina melalui bocoran ini dianggap kentut.

Penanya dapat melakukan konsultasi kewanitaan dan persalinan atau bertanya kepada konsultan, dari sana ia dapat mengetahui ada atau tidak adanya tempat/saluran persalinan. Jika saluran tempat persalinan ada maka dapat disembuhkan dengan pembedahan yang dapat menyembuhkan pasien dari keluhan ini. Wallahu A`lam.

Berdasarkan keterangan tersebut, Komite Tetap Fatwa menjawab: Angin yang keluar dari vagina ada dua kemungkinan:

Pertama: Angin muncul disebabkan melebarnya vagina akibat berulangkalinya melahirkan pada seorang perempuan, sehingga angin dapat masuk karena beberapa faktor, diantaranya karena duduk, atau telentang dan sejenisnya. Kemudian angin keluar di saat berubahnya posisi badan yang menimbulkan suara, hal ini tidak ada hubungannya dengan sisa makanan atau usus, dalam kondisi ini angin tidak membatalkan wudlu.

Kedua: Angin keluar akibat merembesnya gas yang muncul dari usus besar menuju vagina, itu disebabkan adanya kebocoran antara dinding vagina belakang dan usus besar. Pada kondisi ini angin tersebut membatalkan wudlu karena pada hakikatnya itu adalah kentut akan tetapi dia keluar bukan pada tempat keluarnya.

Perbedaan kedua keadaan dapat diketahui dengan merujuk kepada petunjuk dokter spesialis.[1]

  • Pendapat Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah.

Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah dalam Syarhul Mumti’ (1/270 al-Maktabatusy-Syamilah) juga menyebutkan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini namun di situ beliau tidak memberikan Tarjih atasnya, akan tetapi dalam satu kesempatan beliau pernah ditanya masalah ini, dan beliau menjawab :

هذا لا ينقض الوضوء لأنه لا يخرج من محل نجس كالريح التي تخرج من الدبر

“Ini tidak membatalkan wudlu’ karena dia tidak keluar dari tempat yang najis seperti (halnya) angin yang keluar dari dubur.” (11/ 197 versi Pdf)

  • Pilihan pendapat Syaikh Mukhtar Asy-Syinqithiy Hafizhahullah

Khilaf atau perbedaan pendapat dalam masalah ini dinilai sebagai satu khilaf yang kuat, artinya kedua pendapat yang ada masing masing memiliki dalil yang kuat, sehingga menurut Syaikh Asy-Syinqithy Hafizhahullah sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh al-Munajjid dalam islamqa.info bahwa yang lebih berhati-hati adalah angin dari kemaluan perempaun membatalkan wudlu’:

 هذه المسألة فيها خلاف بين العلماء رحمهم الله مشهور حول : هل القبل يأخذ حكم الدبر في خروج الريح ؟ فمن أهل العلم رحمهم الله من قال : إن خروج الريح من القبل حكمه حكم خروجه من الدبر ، وهذا من ناحية إلحاق النظير بنظيره ، وهو قول قوي ، ولا شك أنه من ناحية الاحتياط أولى .

“Masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang begitu populer di antara kalangan ulama Rahimahumullah, seputar : apakah kemaluan mengambil hukum dubur ketika keluarnya angin? Maka di antara Ahli Ilmu Rahimahumullah ada yang berpendapat: “Sesungguhnya keluarnya angin dari kemaluan hukumnya adalah hukum keluarnya angin dari dubur, dan ini ditinjau dengan (kaedah) penghubungan sesuatu yang dibandingkan dengan bandingannya, dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat, dan tidak diragukan lagi bahwa dari sisi kehati-hatian ia lebih utama.”

Lalu manakah pendapat yang lebih mendekati kebenaran ? Wallahu A’lam, namun fatwa Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiyyah Kerajaan Saudi Arabia di atas nampak lebih kuat bagi penulis, walau pun demikian mengambil sikap berhati-hati tentunya lebih menenangkan.

Musa Abu ‘Affaf. BA [2]

————-

[1] Redaksi fatwa versi Bahasa Arabnya dapat diakses melalui link ini :   http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=9&PageID=11546

 [2] Penulis adalah Alumni Ma’had Darul Furqan Li Tahfizhil Qur’an dan Takhasshush Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri, Lobar-NTB. Alumni Al-Jami’atul Islamiyyah Bil Madinatil Munawwarah Fakultas Hadits tahun 2010 M. Konsultan Agama Acara Khazanah Trans7 dan Pembina Istiqlal Islamic School Tambun. Bekasi.