Apabila Khothib dan Imam Shalat Jum’at Berbeda

Teduh.Or.Id – Yang mengisi khothbah dan menjadi imam dalam shalat Jum’at adalah seorang ustadz yang berbeda, hal ini sudah menjadi hal biasa di masyarakat kita, terutama di beberapa daerah tertentu. Masalahnya apakah cara seperti ini dibolehkan?

Bismillah Walhamdulillah,

Pada dasarnya orang yang berkhothbah maka dialah yang menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at, dan inilah amalan yang sunnah yang telah dilakukan Nabi ﷺ dan empat khalifah beliau radliyallahu ‘anhum.

Namun mayoritas ulama menilai bahwa hal itu bukanlah syarat yang menjadi penentu sah atau tidaknya shalat Jum’at, dengan begitu jika terjadi perbedaan antara orang yang berkhuthbah dengan yang menjadi imam, maka shalat Jum’at menjadi sah.

Disebutkan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah :

يستحب أن لا يؤم القوم إلا من خطب فيهم ؛ لأن الصلاة والخطبة كشيء واحد ، قال في تنوير الأبصار : فإن فعل بأن خطب صبي بإذن السلطان وصلى بالغ جاز  ، غير أنه يشترط في الإمام حينئذ أن يكون ممن قد شهد الخطبة

Disunnahkan agar tidak mengimami suatu kaum kecuali orang yang telah (menyampaikan) khuthbah kepada mereka, karena shalat dan khothbah seperti suatu (ibadah) yang satu, dalam kitab Tanwirul-Abshar disebutkan, “Maka jika ia melakukannya, dengan membiarkan anak kecil berkhothbah dengan izin dari sultan (pemerintah) dan orang yang telah baligh yang shalat (menjadi imam) – hukumnya – boleh, namun selain itu tetap disyaratkan pada diri imam ketika itu merupakan seorang yang telah menyaksikan khothbah.“”

Kemudian dijelaskan lagi,

 

قال في البدائع : ولو أحدث الإمام بعد الخطبة قبل الشروع في الصلاة فقدم رجلا يصلي بالناس : إن كان ممن شهد الخطبة أو شيئا منها جاز ، وإن لم يشهد شيئا من الخطبة لم يجز ، ويصلي بهم الظهر ، وهو ما ذهب إليه جمهور الفقهاء

Dalam kitab Al-Bada’ik disebutkan: “Jika seorang imam berhadats setelah khuthbah sebelum ia memulai mendirikan shalat (menjadi imam), maka hendaklah ia mendahulukan seorang lelaki lain menjadi imam, dengan syarat jika lelaki tersebut termasuk ke dalam orang-orang yang telah menyaksikan khothbah, atau sedikit dari khothbah, (hukumnya) boleh, namun jika tidak menyaksikan khothbah sedikitpun maka tidak boleh, dan hendaknya ia shalat mengimami mereka shalat zhuhur, dan dia inilah yang menjadi madzhab mayoritas fuqaha. (ahli fiqh).

Keterangan dari para ulama fiqh ini menunjukkan bolehnya seorang yang menjadi imam shalat Jum’at bukanlah orang yang berkhothbah sebelumnya, namun dengan catatan, imam tersebut haruslah seorang jamaah shalat Jum’at yang telah sempat menyaksikan khuthbah disampaikan walau pun itu hanya sebagiannya saja. Jika tidak maka tidak sah.

Adapun Madzhab Al-Malikiyyah mereka memandang wajib seorang khothib yang menjadi imam, kecuali ada halangan, masih dalam kitab Al-Muasu’ah disebutkan,

وخالف في ذلك المالكية ، فذهبوا إلى وجوب كون الخطيب والإمام واحدا إلا لعذر كمرض ، وكأن لا يقدر الإمام على الخطبة ، أو لا يحسنها

“Al-Malikiyyah menyelisihi akan hal itu, mereka berpendapat kepada wajib seorang khothib dan imam satu orang yang sama kecuali karena ada ‘udzur seperti sakit, dan seperti misalnya imam tidak mampu berkhothbah, atau ia tidak bagus dalam berkhothbah”.[1]

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah juga memfatwakan bolehnya seorang imam shalat Jum’at bukanlah khothib yang berkhothbah, beliau berkata:

فالصواب في هذا أنه لا بأس أن يتولى الإمامة غير من تولى الخطبة هذا هو الصواب؛ لأن هذه عبادة مستقلة وهذه عبادة مستقلة ولكن الأفضل والأولى أن يتولاهما واحد كما فعله النبي ﷺ والخلفاء بعده، السنة أن يكون الإمام هو الخطيب، لكن لو عرض عارض ومنع مانع فصلى غير الخطيب فلا بأس.

“Maka yang benar dalam masalah ini bahwa tidak ada masalah orang yang menjadi imam adalah orang yang tidak berkhothbah, inilah yang benar, karena khothbah adalah ibadah yang tersendiri, dan ini (menjadi imam) adalah ibadah yang tersendiri juga, akan tetapi yang lebih afdal hendaknya yang melakukan keduanya adalah satu orang yang sama seperti yang telah dilakukan Nabi ﷺ dan para Khalifah setelahnya. Yang sesuai sunnah adalah imam adalah yang berkhothbah, akan tetapi jika terjadi suatu hal yang mendadak, dan ada halangan sehingga yang menjadi imam adalah selain yang berkhothbah maka tidak mengapa”. [2]

 


[1] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (27/206)

[2] Lihat fatwa Syaikh bin Baz Rahimahullah di sini : Klik 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.