Apa Keindahan Ramadhan yang Tersisa di Rumahmu?

Teduh.Or.Id – Jika ditanyakan kepada kita hari ini tentang Ramadhan yang sudah terlewat hitungan bulan ini, maka jawaban apakah kiranya yang sudah disiapkan? Soal keberlangsungan dan semangat ibadah yang terus terjaga, tentang kekuatan berbuat baik serta bersedekah yang masih tetap adanya, ataukah tentang kebersamaan dengan keluarga yang semakin berkualitas dalam setiap rentang masa yang ada, atau justru malah perubahan drastis yang membuat kita jauh dari keimanan dan ketaqwaan tidak serupa dengan saat Ramadhan?

Tentu setiap kita memiliki pilihannya sendiri, sebagai orangtua atau sebagai pribadi hari ini. Setidaknya diantara ibadah dan nilai sedekah yang terjaga, maka tetaplah kita memiliki kualitas kebersamaan dengan keluarga sebagaimana saat Ramadhan lalu mengisi hari kita.

Jika Ramadhan adalah sebuah momentum perbaikan, maka semestinya lepas Ramadhan kita tetap tidak pernah berhenti untuk berbuat kebaikan. Dan sebaik-baiknya kebaikan bagi kita sebagai orang yang berkeluarga adalah memberikan nilai-nilai baik itu pada keluarga kita. Mari kita mengingat apa yang dilalui bersama dengan keluarga saat Ramadhan lalu.

Keajaiban sahur mempertemukan seluruh angota keluarga dalam aktivitas yang sama. Didalamnya ada ritual makan bersama yang bisa jadi takkan ditemukan di hari lainnya, pada sesi yang sama pula satu sama lain saling membangunkan dan mengingatkan agar terjaganya kondisi tidak kesiangan saat sahur menjelang. Ketika menjelang waktu berbuka, tentu tak didapati kudapan lezat saling terhidang di meja yang tak juga dijumpai selain Ramadhan itu sendiri. Makanan khas tersaji dan disana biasanya makanan favorit ayah disantap hampir setiap hari, ada manisan kesukaan bunda, selera pedasnya kakak, dan tak lupa es beraneka warna yang membuat gairah adik untuk berpuasa lagi di hari selanjutnya.

Ramadhan, selain melatih seorang untuk bertakwa, juga mengajak keluarga belajar bersama dalam menikmati indahnya berbagi. Sungguh beruntung mereka yang ditinggalkan Ramadhan berada dalam kebaikan. Berbahagia pula mereka yang membersamai Ramadhan dalam hangatnya nuansa kekeluargaan.

Hari ini, bagaimana keluarga kita setelah Ramadhan? Adakah jejak-jejak kerinduan yang masih tersisakan dalam sudut tempat makan kita di rumah? Adakah tapak-tapak bisu dalam ketukan kamar yang sebulan penuh selalu tak pernah ditinggalkan? Adakah nilai-nilai kehangatan yang tersisa dalam senda gurau seperti bulan itu? Jika iya, berbahagialah mereka yang terus mengekalkan Ramadhan untuk selalu hidup dalam setiap anggota keluarga mereka.

Adanya Ramadhan, menyiratkan banyak pembelajaran mahal bagi keluarga kita seharusnya. Nuansa kebersamaan dan saling tolong menaungi rumah tangga untuk selalu harmonis dan bersinergi. Terikat dengan tali-tali kasih sayang, dililit dalam balutan harapan agar Ramadhan membuahkan banyak kebaikan bagi keluarga tersebut, nuansa saling mengingatkan dalam candaan serta tanya kabar tentang keajaiban-keajaiban anggota keluarga yang bisa jadi belum diketahui oleh anggota yang lainnya. Maka itulah yang dipesankan oleh Allah Ta’ala dalam firman-nya:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah : 71)

Mari memaknai Ramadhan kita untuk keluarga, merekam momentum yang dapat disimpan untuk keluarga kita selanjutnya dan menjadikan senyum kebahagiaan untuk ditularkan bagi banyak pihak yang kita bagikan kisahnya. Jika itu semua belum terwujud, tentu hal demikian belum terlambat adanya, kita mulai hari ini dan dipupuk hingga jumpai Ramadhan masa nanti.

Semoga Ramadhan lalu masih menyisakan dalam lorong rindu keluarga untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan, meneruskan teladan sekalipun itu sepekan, mendengarkan kisah istri tentang keseharian, dan menyimak cerita anak-anak terkasih sekalipun hanya sebentar, semata-mata agar kebaikan terus bertahan adanya, seperti pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sebaik-baik kalian, adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmizi).