Antara Shalat Isyraq dan Dhuha

Teduh.Or.Id – Shalat sunnah di waktu Syuruq atau Isyraq yaitu beberapa saat setelah matahari terbit adalah shalat sunnah yang memiliki fadhilah yang besar, dalam sebuah hadits disebutkan :

من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة تامة تامة

“Siapa saja yang shalat di waktu pagi [shalat subuh] dalam berjama’ah kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian dia shalat dua raka’at, pahala untuknya seperti pahala berhaji dan Umrah dengan sempurna”.[1]

Shalat dua rakaat dalam hadits ini yang dimaksdukan dengannya adalah shalat al-Isyraq. dan tentunya pahala tersebut bukan dari dua rakaat itu saja, namun meliputi beberapa ibadah lainnya, yaitu : Shalat subuh berjamaah, duduk berdiam diri di masjid setelah shalat subuh sembari berdzikir kepada Allah, dan shalat al-Isyraq. jadi ingat, tidak cukup hanya dua rakaat al-Isyraq itu saja sehingga mendatangkan pahala sempurna Haji dan Umrah.

Shalat al-Isyraq sebenarnya adalah shalat Dhuha dan merupakan awal dari waktu shalat Dhuha.[2] sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits:

أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : اخبري ابن عباس بما أخبرتينا به فقالت أم هانئ : دخل رسول الله صلى الله عليه و سلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات فخرج ابن عباس و هو يقول : لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة  يسبحن بالعشي و الإشراق  ثم قال ابن عباس : هذه صلاة الإشراق

“Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dulu tidak mendirikan shalat Dhuha sampai kami masukkan beliau ke hadapan Ummu Hani, maka aku (Abdullah bin al-Harits yang meriwayatkan hadits ini) berkata kepada Ummu Hani’: “Beri tahukan kepada Ibnu ‘Abbas apa yang telah engkau beri tahukan kepada kami”. Lalu Ummu Hani pun berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah masuk ke rumahku dan kemudian beliau shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat”. Maka setelah itu Ibnu Abbas pun keluar dan beliau berkata : “Aku telah membaca Ayat-Ayat yang ada di antara papan ini (Al-Qur’an maksudnya; Pent.) dan aku tidak mengetahui adanya shalat al-Isyraq kecuali sekarang ini – kemudian beliau membaca Ayat ke-18 dalam surat as-Shad – ‘..Bertasbih (gunung-gunung itu) pada waktu sore dan waktu Isyraq [pagi]). kemudian Ibnu Abbas berkata : “(delapan rakaat yang dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut) inilah shalat al-Isyraq.”[3]

Diceritakan dalam hadits tersebut Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menghubungkan shalat Dhuha yang dikerjakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kata al-Isyraq yang terdapat dalam sebuah Ayat. dan ini menunjukkan dengan jelas bahwa nama lain dari shalat Dhuha adalah al-Isyraq atau awal dari shalat Dhuha disebut dengan Shalat al-Isyraq.[4]

________________________

#Penulis adalah alumni al-Jami’atul Islamiyyah Madinah Fakultas Hadits. ‘Afallahu ‘Anhu

[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan at-Thabrany. Imam Tirmidzi menilai hadits ini Hasan Gharib, hadits ini juga dinilai hasan oleh al-Mubarak Furiy dalam Tuhfatul Ahwadzi, Ahmad Syakir dan juga oleh Syaikh al-Albaniy rahimahumullah.

[2] Bughyatul Mutathawwi’ Hal.81

[3] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak 4/56 No. 6873 . Dan disebutkan juga oleh Imam ath-Thabary dalam tafsirnya. 21/ 169. dalam tafsir Ayat ke-18 Surat ash-Shad. Hadits ini dinilai Hasan Li Ghairihi oleh Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul.

[4] Tulisan ini diintisari dari kitab Bughyatul Mutathawwi’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul. Bab Shalat al-Isyraq