Antara Kahfi Atau Yasin di Malam Jum’at

Teduh.Or.Id – Bacalah Al-Qur’an, kelak di hari pembalasan ia datang sebagai penolong untuk pembacanya. Inilah satu di antara banyak keutamaan membaca Al-Qur’an yang termaktub di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

Perintah membaca Al-Qur’an juga tersirat dengan lugas di dalam Al-Qur’an sendiri. Seperti yang tersebut di dalam Surat Al-Muzzammil;

فاقرؤوا ما تيسر من القرأن

Maka bacalah oleh kalian Ayat-Ayat yang mudah (bagi kalian) dari Al-Qur’an.” (73)

Betapa semua ini menunjukkan berlimpahnya kebaikan pahala dan manfaat duniawi pada bacaan Al-Qur’an. Namun demikian, sebagian kaum muslimin terkadang hanya sempat membaca Al-Qur’an pada hari jum’at saja. Entah apa yang menyebabkan hal seperti itu terbentuk, butuh pendalaman peristiwa secara terbuka dan detil untuk mengungkap jawabannya.

Namun apa pun itu, yang menjadi tanda tanya besar sesungguhnya adalah pilihan surat yang dibaca pada malam jum’at yang selalu jatuh pada Surat Yasin. Dan hal ini nampaknya telah mendarah daging dalam rajutan budaya sebagian kaum muslimin di tanah air tercinta.

Di sini kami tidak sedang ingin menghujat atau tunjuk hidung orang yang membaca Surat Yasin pada malam jum’at secara personil, apatah lagi dengan ‘pukulan rata’. Namun ingin sekedar mengungkap tuntunan sebenarnya yang datang berdasarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Ulama dalam hal pilihan surat yang dibaca pada malam jum’at.

Adalah Imam an-Nawawy Rahimahullah seorang Ulama terkemuka lagi tersohor di sisi para Ulama asy-Syafi’iyyah maupun Ulama lainnya dari lintas Madzhab yang ada, beliau menyatakan dengan tegas bahwa yang dianjurkan (disunnahkan) untuk dibaca pada malam atau siang hari jum’at adalah Surat Al-Kahfi.

وأن يقرأ الكهف يومها و ليلتها

“(Disunnahkah) agar membaca Al-Kahfi pada siangnya (hari jum’at) dan pada malamnya.”
Muhammad bin Al-Khathib asy-Syarbiny Rahimahullah sebagai Syaarih (Ulama yang memberikan penjelasan) atas perkataan Imam an-Nawawy di atas menukil satu wejangan dari Imam asy-Syafi’i Rahimahullah;

وأحب الإستكثار في قراءة الكهف في ليلة الجمعة

“Dan aku menyukai memperbanyak bacaan Al-Kahfi pada malam Jum’at.”  (Mughnil Muhtaj Ilaa Ma’rifati Ma’ani Al-fazhil Minhaj /1/ 440)

‘Abdul Aziz Al-Mulibary Al-Fannany asy-Syafi’i juga menyebutkan hal yang sama dengan apa yang telah ditetapkan oleh Imam an-Nawawy di atas. Beliau menyebutkan;

وسن قراءة سورة كهف يوم الجمعة وليلتها لأحاديث فيها

“Dan disunnahkan membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at atau malamnya karena adanya beberapa Hadits di dalamnya.”  (Haysiyah I’anah at-Thalibin ‘Ala Halli Alfazhi Fathil Mu’in./ 2 / 164.)

Berdasarkan ketetapan ini, bisa dikatakan bahwa tidak ada pertentangan dalam internal Madzhab asy-Syafi’iyyah atas kesunnah-annya membaca surat Al-kahfi pada hari jum’at atau pun malamnya. Dan hal ini sesungguhnya satu sikap kepatuhan terhadap Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menganjuran membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat. Hadits yang dimaksud sebagai landasan anjuran khusus untuk membaca Al-kahfi adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalany:

قَوْلُهُ وَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ انْتَهَى دَلِيلُهُ مَا رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا “مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ” وَرَوَاهُ الدَّارِمِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا قَالَ النَّسَائِيُّ بَعْدَ أَنْ رَوَاهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَقْفُهُ أَصَحُّ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ فِي تَفْسِيرِ ابْنِ مَرْدُوَيْهِ.

“Perkataannya Penulis (Imam ar-Rafi’i asy-Syafi’i); ‘Dan dianjurkan membaca Surat Al-Kahfi’. Selesai. Dalilya adalah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari Abi Sa’id secara Marfu’: “Siapa saja yang membaca Surat Al-Kahfi pada hari jum’at, Allah cahayakan untuknya cahaya antara dua jum’at.” Dan (Hadits ini) telah diriwayatkan oleh ad-Darimyy dan Sa’id bin Manshur secara Mauquf. An-Nasa’i mengatakan – setelah beliau meriwayatkannya (Hadits di atas) secara Marfu’ dan Mauquf – ; “Riwayat yang Mauquf lebih Shahih dan ia memiliki Syahid dari Hadits Ibnu Umar dalam Tafsir Ibnu Marduwaih.”  (at-Talkhishul Habir Fii Takhriji Ahaditsi ar-Rafi’il Kabir.)

Dalam sudut pemanfaatan moment maka membaca surat Al-Kahfi inilah yang lebih utama dan lebih tepat dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Walau pun pada dasarnya telah ditetapkan membaca Al-Qur’an adalah satu bentuk anjuran Sunnah yang termasuk di dalamnya membaca Surat Yasin. Maka sampai pada titik kesepakatan ini, tidak ada kekeliruan jika kemudian ada yang membaca Al-Qur’an selain dari Surat Al-kahfi pada hari Jum’at, seperti misalnya seorang santri Hifzhul Qur’an mengulang (Muraja’ah) hafalannya pada hari Jum’at dengan memilih surat-surat yang dianggapnya masih belum kuat dalam hafalannya. Hingga Muraja’ah itu pun akhirnya membuatnya luput membaca Surat Al-Kahfi.

Keadaan seperti dalam contoh ini tidak pernah ada seorang pun dari Ulama yang menilainya sebagai satu kekeliruan dalam penerapan amalan anjuran membaca Al-Qur’an. sebab Muraja’ah yang dilakukannya telah dinaungi oleh dalil yang menganjurkan untuk membaca Al-Qur’an secara umum, juga oleh anjuran agar menjaga hafalan Al-Quran.

Sebenarnya masalah muncul ketika seorang membaca Surat Yasin pada malam Jum’at namun dengan motiv lain yang lebih dari sekedar membaca Surat Yasin itu sendiri, seperti misalnya dengan keyakinan bahwa membaca Surat Yasin adalah amalan yang Sunnah pada malam jum’at secara khusus. Sehingga berdasar dengan motiv ini kemudian dia membaca Surat Yasin hanya pada setiap malam jum’at saja secara khusus. Maka keyakinan atau motiv seperti ini tentu berbeda dan menyelishi anjuran Sunnah yang telah ditetapkan untuk dibaca pada hari atau malam jum’at, yaitu membaca Surat Al-kahfi.

Menetapkan keutamaan (Fadhilah) atas satu amalan atau atas Surat tertentu dari Al-Qur’an yang selain atau lebih dari keutamaan dasarnya yang kuat – dalam hal ini adalah keutamaan membaca (Tilawah) Al-Qur’an atau lainnya yang sesuai dengan dalil yang menunjukkannya – tentunya akan membutuhkan landasan dalil yang sah untuk kemudian sempurna ditetapkan sebagai satu amalan di atas Sunnah pada moment dan waktu tertentu secara khusus. Namun apabila tidak terdapat dalil yang sah dalam hal itu, maka tentunya kembali kepada amalan yang memilki keutamaan (Fadhilah) yang didukung dalil yang sah akan lebih baik dan terjamin untuk dikuti. Dalam hal ini Imam Ibnu ‘Abdil Barr Al-Malikiyy mengatakan:

وَالْفَضَائِلُ لَا تُورَدُ بِقِيَاسٍ وَإِنَّمَا فِيهَا التَّسْلِيمُ لِمَنْ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ بِمَا غَابَ عَنْهُ. إنتهى

“Dan keutamaan-keutamaan itu tidak dapat dimunculkan dengan Qiyas. Dalam penetapannya (Fadha’il) hanya terbatas pada (sikap) penyerahan (menyerahkannya secara total) kepada orang yang telah diturunkan wahyu kepadanya, dan dengan apa-apa yang ghaib darinya.” Selesai.   (Al-Istidzkar)

Di lain kesempatan, beliau juga mengatakan:

وَالْفَضَائِلُ لَا تُدْرَكُ بِقِيَاسٍ، وَلَا مَدْخَلَ فِيهَا لِلنَّظَرِ وَإِنَّمَا هُوَ مَا صَحَّ مِنْهَا، وَوَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهَا

“Dan keutamaan-keutamaan itu tidak didapati dengan Qiyas, dan tiada jalan masuk padanya untuk akal pikiran. Keutamaan-keutamaan itu hanya bisa didapat dengan dalil yang Shahih darinya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengetahuinya.”  (at-Tamhid Limaa Fil Muwathha’ Minal Ma’any Wal Asanid.)

Diakhir kata dari tulisan singkat ini, maka sebaiknya kita mendahulukan membaca Surat Al-kahfi pada hari jum’at atau malamnya dari bacaan-bacaan lainnya. Sehingga semoga saja amalan tersebut walau pun hanya membaca satu Surat diterima di sisi Allah sebagai satu ibadah yang sesuai dengan Sunnah. Wallahu A’lam.