Antara Cadar Dan Menutup Wajah

 

Anjuran menutup wajah untuk kaum perempuan tentunya adalah suatu masalah yang telah diketahui hukumnya oleh pembaca , yakni antara wajib atau Mustahabb (Sunnah). Yang menjadi persoalan lain dalam bab ini adalah bagaimana dan dengan model seperti apakah yang sah digunakan sebagai sarana penutup wajah? Dan apakah dengan niqab atau cadar dibolehkan? Dan ini insyallah yang menjadi tema dalam artikel yang sangat singkat ini.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa antara menutup wajah dan memakai niqab sendiri terdapat perbedaan di antara keduanya, kira-kira lebih mudahnya, perbedaannya itu adalah menutup wajah adalah suatu syariat sedangkan niqab atau cadar adalah salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mewujudkan syariat menutup wajah.

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

والنقاب: لباس الوجه، وهو أن تستر المرأة وجهها وتفتح لعينيها بقدر ما تنظر منه، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه حرم على المحرمة تغطية وجهها، وإنما حرم عليها النقاب فقط؛ لأنه لباس الوجه وفرق بين النقاب وبين تغطية الوجه

“Niqab adalah pakaian wajah, dan ialah dimana perempuan menutup wajahnya dan membuka kedua matanya seukuran ia dapat melihat, dan tidak pernah datang dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam – bahwa beliau mengharamkan atas perempuan yang berihram menutup wajahnya, yang beliau haramkan hanyalah memakai niqab saja, karena niqab adalah pakaian wajah, dan berbeda antara niqab dan menutup wajah.”[1]

Niqab sendiri seperti yang dijelaskan di atas adalah pakaian untuk wajah yang modelnya menutup wajah kecuali kedua mata, sehingga dengan demikian niqab bisa disamakan dengan cadar yang sudah biasa dipakai kaum muslimah di berbagai belahan negeri islam termasuk di tanah air kita yang subur ini.

Niqab boleh dipakai untuk mewujudkan anjuran menutup wajah, dan inilah fatwa yang telah diputuskan oleh komite tetap riset ilmiah dan kefatwaan Saudi Arabia atau Lajnah Adda’imah, berikut kami nukilkan secara utuh fatwa tersebut:

س1: حكم الإسلام في: النقاب؟

Pertanyaan : Hukum Niqab Dalam Islam?

ج1: أما النقاب فقد قال أبو عبيد في صفة النقاب عند العرب: هو الذي يبدو منه محجر العين، وكان اسمه عندهم الوصوصة والبرقع  وأما حكمه فالجواز، والأصل في ذلك ما جاء من حديث ابن عمر -رضي الله عنهما-، أنه -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تنتقب المرأة المحرمة، ولا تلبس القفازين  » رواه أحمد والبخاري والنسائي والترمذي وصححه . وفي رواية قال: «سمعت النبي -صلى الله عليه وسلم- ينهى النساء في الإحرام عن القفازين والنقاب  » الحديث رواه أحمد وأبو داود ونهيه -صلى الله عليه وسلم- المحرمة أن تنتقب يدل على جوازه في غير حال الإحرام،

 ثم إنه لا يفهم من هذا الحديث أن المحرمة يجوز لها كشف وجهها إذا كان الرجال الأجانب يرونها، بل يجب عليها أن تسدل الخمار أو النقاب إلى أن يجاوزوها، والأصل في ذلك ما رواه الإمام أحمد وأبو داود وابن ماجه عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: «كان الركبان يمرون بنا ونحن مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- محرمات، فإذا حاذونا سدلت إحدانا جلبابها من رأسها على وجهها، فإذا جاوزونا كشفناه

Jawab : “Adapun Niqab maka Abu ‘Ubaid dalam penjelasannya terhadap sifat Niqab di sisi Bangsa Arab, beliau mengatakan; (Niqab) Ialah (penutup wajah) yang menampakkan bagian mata, dan namanya di sisi mereka adalah Al-Washushah dan Al-Burqu’.” Dan ada pun masalah hukumnya maka adalah Al-Jawaz (boleh), dan dalil dalam hal itu adalah riwayat yang datang dari hadits Ibnu ‘Umar – Radliyallahu ‘Anhuma – , sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda; “Janganlah perempuan yang berihram memakai Niqab, dan janganlah ia memakai sarung tangan”, hadits ini telah dikeluarkan Ahmad, dan Al-Bukhariy, dan Annasa’i, dan Al-Tirmidzy dan ia menshahihkannya.

Dan dalam riwayat lainnya beliau berkata; “Aku pernah mendengar Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – melarang perempuan memakai sarung tangan dan Niqab ketika sedang Ihram”. Hadits ini telah dikeluarkan Ahmad dan Abu Dawud.

Larangan Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – terhadap perempuan yang berihram memakai Niqab menunjukkan atas bolehnya memakai Niqab pada selain keadaan Ihram, kemudian hadits ini tidak dapat dipahami dengan (makna) kalau perempuan yang berihram itu boleh baginya membuka wajahnya ketika para lelaki Ajanib (bukan Mahram) melihatnya. Akan tetapi wajib atasnya menjulurkan Khimar atau Niqab sampai para lelaki itu berlalu melewatinya.

Dan dalil dalam hal itu adalah hadits yang telah diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Aisyah – Radliyallahu ‘Anha – beliau berkata; “Dulu para arRukban[2]  itu mereka berjalan bersama kami dan kami ketika itu bersama Rasulullah – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – dalam keadaan berihram, maka apabila kami berpapasan dengan mereka, salah seorang dari kami menjulurkan jilbabnya dari kepalanya menutup wajahnya, dan apabila mereka telah melintas berlalu maka kami membukanya”. “.

Wabillahittaufiq, Washallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Washahbihi Wasallam.

Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Kefatwaan (No. Fatwa 5438)[3]

Fatwa ini sekaligus meluruskan anggapan sebagian orang yang menyangka bahwa niqab adalah Muhdats, (perkara bid’ah). Demikian semoga bermanfaat.

 


[1] Al-Syarhul Mumti’ (7/134)

[2] Arrukban adalah sekelompok orang Arab yang membawa barang dagangan

[3] Fatwa Lajnah Adda’imah (17/171- 172)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.