Anjuran Menuangkan Air Ke Ubun-Ubun Dalam Wudlu’, Begini Penjelasannya

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib – radliyallahu ‘anhu – ketika mengajarkan Ibnu Abbas cara wudlu’nya Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – maka di antara amalan yang beliau lakukan ketika adalah menuangkan air pada ubun-ubun kepala sehingga air tersebut mengalir ke wajah ;

  ثم أخذ بكفه اليمنى قبضة من ماء فصبها على ناصيته فتركها تستن على وجهه

“Kemudian beliau mengambil air dengan telapak tangan kanannya, dan beliau menuangkannya di atas ubun-ubunnya, dan beliau membiarkannya mengalir ke wajahnya.”

(Hadits riwayat Abu Dawud (177) , Ahmad (1/82), Ibnu Khuzaimah (153), dan Al-Baihaqi 1/45,47. Al-Albani menilainya shahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Redaksi hadits ini disikapi berbeda oleh para ulama, sebagian menafsirkannya sebagai bentuk meratakan basuhan pada wajah saja, dan sebagiannya lagi mengambilnya secara mentah sehingga ditetapkan sebagai suatu amalan tersendiri di dalam wudlu’.

Para ulama yang menetapkannya sebagai suatu sunnah tersendiri dalam wudlu’ adalah al-Syaukani, al-hafizh al-Suyuthi, dan Syamsulhaq Al-‘Azhim Al-Abadi, ulama yang mensyarahkan ‘Aunul Ma’bud.[1]

Imam al-Syaukani – rahimahullah – berkata;

وفيه أيضا استحباب إرسال غرفة من الماء على الناصية لكن بعد غسل الوجه لا كما يفعله العامة عقيب الفراغ من الوضوء

“Dan pada hadits ini juga ada anjuran (Istihbab) melepaskan air seukuran satu telapak tangan di atas ubun-ubun, akan tetapi amalan ini dilakukan setelah mencuci wajah, tidak seperti yang dilakukan oleh orang awam setelah selesai dari berwudlu’. (Naiul Authar 1/279 )

Al-Hafizh al-Suyuthi – rahimahullah– berkata;

وعندي وجه ثالث في تأويله ، وهو أن المراد بذلك ما يسن فعله بعد فراغ غسل الوجه من أخذ كف ماء وإسالته على جبهته

“Dan saya memiliki bentuk pandangan yang ketiga dalam memaknakannya, yaitu; bahwa yang dimaksudkan dengan yang demikian itu adalah suatu hal yang disunnahkan melakukannya setelah selesai dari mencuci wajah dengan mengambil air setapak tangan dan mengalirkannya di keningnya.”

Setelah kesimpulan ini, maka terjadi perbedaan antara mereka mengenai waktu melakukannya, apakah setelah mencuci wajah ataukah setelah selesai dari wudlu’.

Al-Syaukani dan al-Suyuthi menetapkannya setelah mencuci wajah, tentunya dengan dalil hadits di atas, sementara Al-‘Azhim Al-Abadi menetapkannya setelah selesai berwudlu’, beliau berdalil dengan hadits yang beliau nilai Hasan, yaitu ;

عن الحسن بن علي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا توضأ فضل ماء حتى يسيله على موضع سجوده

“Dari Al-Hasan bin Ali, sesungguhnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – apabila telah selesai berwudlu’ beliau menuangkan air sampai mengalir di atas tempat sujudnya”. (HR: al-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir 3/85)

Perbedaan waktu ini sebenarnya tidak begitu berpengaruh karena keduanya tidak saling menafikan, dan bisa digabungkan sehingga ditetapkan bahwa terkadang Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – pernah melakukannya setelah mencuci wajah, dan pernah juga setelah selesai berwudlu’.[2]

Adapun para ulama yang menafsirkannya bukan sebagai suatu amalan tersendiri dalam wudlu’ melainkan hanya sebagai upaya meratakan basuhan wajah dengan sebenar-benarnya, mereka adalah;

Imam Annawawi – rahimahullah – , beliau berkata:

هذه اللفظة مشكلة ، فإنه ذكر الصب على الناصية بعد غسل الوجه ثلاثا وقبل غسل اليدين ، فظاهره أنها مرة رابعة في غسل الوجه وهذا خلاف إجماع المسلمين ، فيتأول على أنه كان بقي من أعلى الوجه شيء ولم يكمل فيه الثلاث ، فأكمل بهذه القبضة

“Lafazh hadits ini bermasalah, karena menyebutkan menuangkan air di atas ubun-ubun setelah mencuci wajah tiga kali dan sebelum mencuci kedua tangan, maka secara zhahirnya ia adalah basuhan yang ke empat  dalam mencuci wajah, dan ini menyelisihi kesepakatan kaum muslimin. Maka ditafsirkan sebagai bahwa pada arena paling atas wajah masih ada tersisa sedikit bagian yang belum dibasuh dan belum sempurna sampai tiga kali basuhan, sehingga beliau menyempurnakannya dengan seukuran telapak tangan tersebut.”

Waliyuddin Al-‘Iraqi berkata;

الظاهر أنه إنما صب الماء على جزء من الرأس ، وقصد بذلك تحقق استيعاب الوجه كما قال الفقهاء ، وإنما يجب غسل جزء من الرأس لتحقق غسل الوجه

“Secara zhahir beliau hanya menuangkan air pada sebagian kepala, dan beliau memaksudkan dengan hal itu agar meratakan basuhan pada wajah betul-betul telah dilakukan sebagaimana yang telah disebutkan para ulama fiqh, dan sebenarnya membasuh sebagian dari kepala dilakukan hanya demi memastikan basuhan wajah betul betul merata.”

Arahan ini kuat dan perlu dipertimbangkan, sebab hadits-hadits lain yang menjelaskan sifat wudlu’ Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – rata-rata tidak menyebutkan amalan ini sebagai basuhan sunnah yang tersendiri dalam wudlu’ sehingga kemungkinan kalau itu dilakukan dalam rangka upaya meratakan basuhan wajah adalah kemungkinan yang kuat. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

[1] Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (1/ 200)

[2] Lihat Al-Manhal Al-‘Adzbul Maurud Syarh Sunani Abi Dawud (1/37)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.