Anggapan Konyol Setelah Jerman Kalah Di Fase Grup

 

Setelah Jerman tumbang di kaki Korea sontak netizen penggemar bola ramai – seolah membangun opini kalau tidak dikatakan mengiyakan – membicarkan isu kutukan juara bertahan Pildun tumbang di fase grup.

Kutukan babak fase group atas juara bertahan Pildun tidaklah benar, hal semacam ini hanyalah banyolan orang-orang bodoh, sebab fase grup tidak sama sekali mempengaruhi apa-apa dengan sendirinya terlebih akan dikatakan “mengutuk”.

Hal semacam ini tak ubah dan tak berbeda dengan Tathayyur,  yaitu mengaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar. Disebutkan bahwa orang-orang Jahiliyyah zaman dahulu tatkala hendak bersafar, mereka pergi menuju sekawanan burung tertentu lalu mereka usir burung tersebut. Kalau burung itu terbang ke arah kanan maka mereka akan berangkat, namun kalau burungnya terbang ke arah kiri maka mereka tidak jadi bersafar karena takut akan ditimpa kesialan.[1]

Bentuk lain dari Tathayyur yang banyak dilakoni oleh sebagian masyarakat kita adalah menganggap angka tertentu adalah kesialan dan kutukan sehingga banyak yang enggan dan tidak mau memakai nomor tertentu karena takut tertimpa sial dan kemalangan. Hal-hal semacam ini adalah keyakinan yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa Syirik.

Ketahuilah, bahwa yang mengatur kutukan, kemalangan, dan kesialan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa semata, tidak ada yang lain. Kekalahan Jerman dari Korea, – dan juara bertahan lainnya – bukan karena kutukan fase grup atas juara bertahan, namun hanyalah kekalahan biasa dalam sebuah pertandingan.

Tidak ada yang bertahan di dunia selamanya menjadi juara, karena ini adalah panggung dunia, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 حق على الله أن لا يرتفع شيء من الدنيا إلا وضعه

“Adalah hak Allah, tiadalah sesuatu apa pun yang menjadi tinggi (menang) dalam urusan dunia kecuali Allah akan menundukkannya”. (HR. Bukhari dan yang lainnya)

 


[1] http://firanda.com/index.php/artikel/sirah/1171-sirah-nabi-5-kondisi-keagamaan-sebelum-diutusnya-nabi-muhammad

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.