Anak Gadis Mantan Istri Dari Suami Barunya, Apakah Mahram Untuk Mantan Suaminya ?

Masalah ini telah difatwakan oleh para Ulama Kibar dan di antaranya adalah komite Tetap Riset Ilmiah dan Kefatwaan Saudi Arabia, atau yang lebih dikenal dengan Lajnah Da;imah dengan No pertanyaan 1289;

س‏:‏ مضمونه‏:‏ أن رجلا تزوج امرأة وفارقها، ولم يحصل له منها أولاد، وتزوجت زوجا آخر، وولد له منها بنت، فهل هذه البنت تعد ربيبة لزوج أمها الأول وتحرم عليه أو لا‏؟‏

Pertanyaan : Isinya : “Seorang lelaki menikahi perempuan dan kemudian ia menceraikannya namun ia tidak mendapatkan anak-anak darinya, dan perempuan ini menikah dengan lelaki lain, dan ia diberikan anak perempuan darinya, maka apakah anak perempuan ini terhitung sebagai Arrabibah untuk (mantan) suami ibunya yang sebelumnya? Dan apakah menjadi haram atasnya (menikahinya) ataukah tidak?”.

ج‏:‏ إن كان زوج المرأة الأول قد طلقها بعد الدخول بها فبنتها من الزوج الثاني حكمها حكم الربيبة للزوج الأول، فيحرم عليه أن يتزوج بها؛ لقوله‏:‏ سورة النساء الآية 23 ‏{‏حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ‏}‏ إلى أن قال‏:‏ سورة النساء الآية 23 ‏{‏وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ‏}‏‏.‏ وذكر كونها في حجر زوج أمها لبيان الغالب لا مفهوم له، وإن لم يكن الزوج الأول دخل بها، بل طلقها قبل الدخول، فليست في حكم الربيبة، فيجوز له أن يتزوج بها لتقييد تحريم البنت في الآية على زوج أمها بدخوله بأمها

Jawaban ; “Apabila suami pertama perempuan ini menceraikan dia dalam keadaan telah disenggamai (jima’) maka anak perempuannya dari suami yang kedua (saat ini) hukumnya adalah hukum Arrabibah untuk suami pertama (mantan suaminya.) sehingga haram atas mantan suaminya menikah dengan anak perempuan tersebut, karena Allah ‘Azza Wajalla berfirman dalam surat Annisa Ayat 23 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ‏

“Telah diharamkan atas kalian (menikahi) Ibu kalian, dan anak perempuan kalian,‏”,

Sampai kepada firmanNya:

‏وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ

‏‏”Dan (diharamkan) Raba’ib kalian yang ada di dalam rumah kalian dari perempuan-perempuan kalian yang kalian telah mensenggamai mereka”

Dalam Ayat disebutkan Arrabibah itu berada di dalam bilik rumah suami ibunya demi menjelaskan fakta yang banyak terjadi, keadaan ini tidak ada Mafhum untuknya,

Dan jika suami pertama (mantan) tidak pernah menggaulinya, akan tetapi ia menceraikannya sebelum disenggamai, maka anak perempuan itu tidak termasuk ke dalam hukum Arrabibah, sehingga hukumnya boleh ia menikah dengannya, karena dalam Ayat di atas pengharaman anak perempuan dinikahi suami ibunya dikaitkan dengan keadaan si suami pernah menggauli ibunya (si anak perempuan itu). [1]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم‏.‏

Jadi kesimpulannya, anak perempuan si mantan istri yang didapat dari suami barunya hukumnya sebagai Arrabibah yang tidak boleh dinikahi oleh mantan suami sebelumnya walau pun sudah terjadi perceraian di antara mereka. namun dengan syarat yang perlu diingat, yaitu telah terjadi hubungan senggama antara mereka sebelum bercerai. semoga bermanfaat.

 

[1] Fatwa Lajnah Da’imah (18 Bag. 1 /214-215) Cet. Dar Muayyid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.