Al-Qailulah, Apa Dan Kapan Waktunya

Al-Qailah atau Al-Qailulah adalah sebutan untuk tidur di pertengahan hari, tepatnya tidur siang dalam bahasa kita. Al-Qailulah hukumnya Mustahab (sunnah) sesuai dengan riwayat hadits yang menganjurkannya, yaitu:

قيلوا فإن الشياطين لا تقيل

“Lakukanlah Qailulah, sesungguhnya para setan tidak Qailulah”.

Hadits ini termasuk hadits yang lumayan populer di kalangan penuntut ilmu dan Syaikh Al-Albani rahimahullah sendiri menilainya sebagai hadits yang Hasan. Seperti dalam kitab Silsilah Ahadits Al-Shahihah No.1648.

Tidak hanya itu, Al-Qailulah juga ternyata adalah amalan yang terpuji di sisi Salaf, sebagaimana yang disebut dari Khawwat bin Jubair Radliyallahu ‘Anhu secara Mauquf, beliau berkata:

نوم أول النهار خُرق وأوسطه خُلق وآخره حمق

“Tidur di awal hari adalah kejahilan, dan dipertengahan adalah Akhlak terpuji, dan di akhir hari adalah kepandiran”.

Alhafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathulbari (14/236) berkata; “Dan Sanadnya Shahih”. Dan Syaikh Al-Albani juga menilainya Shahih seperti dalam kitab Shahih Al-Adabulmufrad.(1/481)

Al-Qailulah adalah anjuran sunnah yang posisinya sebagai wasilah atau perantara, sebab hal yang dikehendaki dibaliknya adalah mewujudkan kegiatan ibadah di malam hari, dari itu jika seorang melakukan Al-Qailulah namun tidak mendirikan shalat tahajjud, maka bisa jadi Al-Qailulahnya hanya tidur biasa yang tidak bernilai Sunnah, apatah lagi jika tujuan ia Al-Qailulah adalah untuk maksiat.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu ‘Abbas Radliyallahu ‘Anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

استعينوا بطعام السحر على صيام النهار وبالقيلولة على قيام الليل

“Jadikanlah makanan sahur kalian sebagai penolong untuk puasa di siang hari, dan dengan Al-Qailulah atas untuk shalat malam.”

(Hadits riwayat Ibnu Majah, Al-Hafizh menilainya Dla’if (Fathulbari 14/236) dan Al-Albani juga demikian menilainya Dha’if (Silsilah Ahadits Al-Dla’ifah No.2758)

Meskipun hadits ini dinilai Dha’if namun maknanya benar, bahwa apabila jiwa telah terpenuhi kebutuhan tidurnya, maka ia akan menjadi kuat untuk berjaga malam. (Al-Munawi dalam Syarh Jami’ush-shaghir.)

Al-Qailulah, apakah sebelum zhuhur ataukah setelah zhuhur?  

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah memberikan pengertian Al-Qailulah sebagai berikut:

وهي النوم في وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد  

“Dia adalah tidur di pertengahan hari ketika waktu Azzawal (yaitu matahari pada posisi tengah bumi) atau mendekati baik sebelum atau sesudahnya” (Fathulbari 14/236)

Definisi ini menunjukkan bahwa Al-Qailulah letaknya bisa sebelum zhuhur dan bisa setelahnya, dan intinya tidur tersebut terjadi masih dalam waktu pertengahan hari.

Dalil yang menjadi alasan jika Al-Qailulah dilakukan setelah zhuhur atau sebelum zhuhur adalah satu hadits yang sama, yaitu:

ما كنا نقيل ولا نتغدى إلا بعد الجمعة

Tiadalah kami melakukan Qailulah dan tidak juga makan siang kecuali setelah shalat Jum’at. (Muttafaq ‘Alaihi)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

وفيه إشارة إلى أنهم كانت عادتهم ذلك في كل يوم

“Dalam Hadits ini ada petunjuk ke arah bahwa sesungguhnya adat mereka (para Shahabat) adalah itu (Setelah shalat jum’at), pada setiap harinya”. (14/236)

Dan dalil yang menjadi alasan Al-Qailulah dilakukan sebelum zhuhur adalah hadits yang sama di atas dengan bentuk pemahaman bahwa Qailulah biasanya dilakukan pada zaman Shahabat sebelum waktu zhuhur, namun pada hari jum’at mereka menundanya sampai setelah shalat jumat agar mendapatkan keutamaan berangkat shalat jumat lebih pagi, sebab kalau dilakukan sebelum jumat khawatir kebablasan

Ibnul Munir berkata, sebagaimana dinukilkan oleh Al-hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah:

 أنه يؤخذ منه أن الجمعة تكون بعد الزوال لأن العادة في القائلة أن تكون قبل الزوال فأخبر الصحابي أنهم كانوا يشتغلون بالتهيؤ للجمعة عن القائلة ويؤخرون القائلة حتى تكون بعد صلاة الجمعة

Disimpulkan dari hadits ini sesungguhnya shalat jum’at dilaksanakan setelah waktu Azzawal, sebab adat kebiasaan mereka dalam melakukan Al-Qailulah adalah sebelum Azzawal, maka Shahabat Nabi ini memberitakan bahwa mereka sibuk mempersiapkan diri untuk jumatan dari Al-Qailulah dan mereka mengakhirkan Al-Qailulah sampai setelah shalat jumat.” (Fathulbari 3/239)[1].

Imam Annawawi rahimahullah juga berkata:

وحمل الجمهور هذه الأحاديث على المبالغة في تعجيلها وأنهم كانوا يؤخرون الغداء والقيلولة في هذا اليوم إلى ما بعد صلاة الجمعة لأنهم ندبوا إلى التبكير إليها فلو اشتغلوا بشيء من ذلك قبلها خافوا فوتها أو فوت التبكير إليها

“Mayoritas Ulama membawa hadits-hadits ini ke atas bentuk ungkapan Mubalagah (kesungguhan yang maksimal) dalam menyegerakan pelaksanaannya, dan sebenarnya mereka (para Shahabat) mengundur makan siang dan Al-Qailulah pada hari ini (jumat) ke waktu setelah shalat jumat, karena mereka memprioritaskan berangkat jumat lebih pagi, jika mereka menyibukkan diri sebentar dengan hal itu sebelum jumat, mereka takut terlewat shalat jumat atau terlewatkan berangkat pagi shalat jumat.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj 6/148 )

Dengan demikian, jika kita memahami haditsnya dengan pemahaman Jumhur Ulama maka waktu Al-Qailulah tepatnya adalah sebelum zhuhur, dan jika memahami haditsnya secara zhahir texnya, maka waktu Al-Qailulah tepatnya dilakukan setelah jum’at.

Namun apabila keduanya bisa digabung maka itulah yang terbaik, dan inilah metode yang ditempuh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah sehingga beliau menetapkan waktu Al-Qailulah bisa sebelum zhuhur dan bisa juga setelahnya. Dan inilah yang kuat kepada kebenaran. Wallahu A’lam.

Bekasi, Musa Abu ‘Affaf

—————————————-

[1] Fathulbari edisi cetakan 1 tahun 2005 Dar.Thaibah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.