Aku dan Teman

Teduh.Or.Id – Memilih dengan siapa kita berteman dekat bukan berarti pilih-pilih teman yang konotasinya adalah sikap sombong. Menjauh dari apa yang membuat seorang terjerembab ke dalam dosa adalah jati diri seorang yang mampu membuat keputusan untuk kebaikan dirinya.

Memilih teman dekat dengan alasan menjaga diri dari terjerumus ke dalam dosa justeru adalah karakteristik terpuji seorang muslim, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

 Artinya: “Seorang di atas Agama teman dekatnya maka kalian perhatikan dengan siapa ia berteman dekat”.

  • Syaikh al-Albany Rahimahullah berkata [1] : Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/293) at-Tirmidzi (2/278) dan al-Hakim (4/171) dan Ahmad (2/303 dan 334) dan al-Khathib (4/115) dan Abdun bin Humaid dalam al-Muntakhab Minal Musnad (1/154). Hadits ini juga disebutkan oleh Imam an-Nawawy Rahimahullah dalam Riyadlush-Shalihin (1/121/ No. 368) Dar Ibnul Jauzy.

Baik buruk yang ditimbulkan dari jalinan pertemanan sangat bergantung dengan keadaan teman itu sendiri, dan tentunya pengaruh pasti akan nampak dari jalinan pertemanan tersebut, jika teman dekat itu baik maka yang akan timbul juga adalah kebaikan, dan demikian juga sebaliknya. Dan hal ini telah dipermisalkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

عن أبى موسى عن النبى صلى الله عليه وسلم قال إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة

Dari Abi Musa dari Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – beliau bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seumpama orang yang membawa minyak wangi dan peniup puputan besi (tukang besi), maka (berteman dengan) pembawa minyak wangi (pilihannya) bisa jadi ia memberimu dan bisa jadi kamu membeli darinya, dan bisa jadi kamu mendapatkan aroma yang wangi (darinya), sedangkan (duduk dengan) peniup puputan besi (pilihannya) bisa jadi percikan api membakar pakaianmu dan bisa jadi kamu mendapatkan bau yang busuk”. (HR: Muslim)

Hadits ini begitu jelas menerangkan dampak yang akan diakibatkan dari sebuah hubungan pertemanan, dan sekaligus juga membimbing kita agar selektif memilih teman dekat dalam bergaul.

Hubungan teman dekat sesungguhnya kelak akan menjadi permusuhan apabila tidak dijalin dan dijalani dengan ketaqwaan, Allah ‘Azza Wajalla berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Pertemanan-pertemanan pada hari (kiamat) sebagian mereka dengan yang lainnya adalah musuh kecuali pertemanan orang-orang yang bertaqwa”. (QS: az-Zukhruf : 67)

Imam Ibnu Katsir berkata [2]:

كل صداقة وصحابة لغير الله فإنها تنقلب يوم القيامة عداوة إلا ما كان لله

“Setiap jalinan saling percaya dan persahabatan selain karena Allah maka sessungguhnya pada hari kiamat akan berbalik menjadi permusuhan kecuali yang karena Allah.”

Dan bahkan pertemanan yang tidak di dasari dengan Agama Allah sehingga membuat seorang menjadi jauh dari tuntunan syari’atNya adalah penyebab atas penyesalan orang-orang yang rugi di hari kiamat. Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

يَاوَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا 

 “Duhai celakalah aku, Andai saja dulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat. Sungguh dia telah menyesatkanku dari al-Qur’an setelah begitu (al-Qur’an) datang kepadaku dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia”. (QS: al-Furqan : 28-29)

Dan kalau pun sudah kedung berteman dengan orang yang jauh dari Agama, maka tugasmu adalah mengajak dia ke jalan hidayah Allah, dan bukan sebaliknya ikut terlena dengan dunia maksiatnya, lebih baik mengorbankan rasa tidak enak dari pada mengubur Iman dengan mengikuti maksiat seorang teman.

Musa Abu ‘Affaf. B.A

———————————

[1] Silsilah Shahihah (2/597)

[2] Tafsir Ibnu Katsir (7/237) Versi al-Maktabatusy Syamilah.