Adab Membunuh Ular Siluman

Pada awalnya membunuh ular secara umum dianjurkan, dalam hadits disebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

اقتلوا الحيات كلهن فمن خاف ثأرهن فليس منى

“Bunuhlah ular-ular semuanya, maka siapa saja yang takut pembalasannya maka dia bukanlah bagian dari diriku.” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud)

Disebutkan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud bahwa konon di masa jahiliyyah ada semacam keyakinan kalau ular itu bertuah, atau ular siluman, jika dibunuh maka nanti tuannya tersebut datang menuntut balas atas darah ular yang di bunuh tersebut,

قد جرت العادة على نهج الجاهلية بأن يقال لا تقتلوا الحيات فإنكم لو قتلتم لجاء زوجها ويلسعكم للانتقام ، فنهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن هذا القول والاعتقاد

“Ada sebuah adat kebiasaan yang berlaku di atas jalannya kejahiliyyahan bahwa dikatakan agar jangan membunuh ular-ular, jika kalian membunuhnya maka nanti pasangannya akan datang dan menyengat kalian demi pembalasan, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang perkataan dan keyakinan ini.” (‘Aunul Ma’bud)

Dari itulah kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan ancaman keras terhadap keyakinan tersebut, selain merupakan budaya jahiliyyah juga karena dapat membahayakan kemurnian akidah dan tauhid, di mana kemelaratan mutlak hanya berada dan berasal dari kekuasaan Allah, sehingga dengan merasa dan meyakini ada ular siluman yang dapat meneror dan membalas dirinya maka tentu dikhawatirkan ia dapat terjatuh dalam kesyirikan tanpa sadar.

Dalam riwayat hadits lainnya juga disebutkan bahwa Abdullah bin Umar pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar:

اقتلوا الحيات واقتلوا ذا الطفيتين والأبتر فإنهما يطمسان البصر ويستسقطان الحبل

“Bunuhlah ular-ular (terkhususnya) bunuhlah ular yang memiliki pola dua sisik di punggungnya dan ular yang ekornya terpotong (pendek) karena keduanya dapat membutakan mata dan membuat keguguran kandungan (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kedua hadits ini menunjukkan perintah agar langsung membunuh ular secara umum tanpa ada batasan, namun dalam riwayat lain disebutkan terdapat pengecualian pada ular-ular yang yang menempati rumah agar tidak langsung membunuhnya sebelum diberikan peringatan

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhu beliau berkata;

 فبينا أنا أطارد حية لأقتلها فناداني أبو لبابة لا تقتلها فقلت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد أمر بقتل الحيات قال إنه نهى بعد ذلك عن ذوات البيوت وهي العوامر

“Manakala ketika aku mengusir ular untuk membunuhnya, tetiba Abu Lubabah memanggilku sembari berkata; “jangan membunuhnya”, maka aku berkata kepadanya; “Sesungguhnya rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan membunuh ular-ular, (Abu Lubabah) berkata; “sebenarnya beliau melarang setelah itu membunuh yang memiliki rumah, dan mereka adalah Al-‘Awamir (ular siluman).” (Hadits riwayat Al-Bukhari 3298)

Kata Al-‘Awamir dalam hadits ini maksudnya penghuni rumah dari bangsa jin, dinamakan demikian karena sudah sangat lama mereka menempati rumah tersebut, dan penulis menyebutnya dengan ular siluman.

Dalam satu riwayat hadits disebutkan;

عن نافع قال كان ابن عمر يقتل الحيات كلهن حتى حدثنا أبو لبابة بن عبد المنذر البدرى أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- نهى عن قتل جنان البيوت فأمسك

Dari Nafi’ beliau berkata; “Sebelumnya Ibnu Umar membunuh semua jenis ular yang ada sampai akhirnya Abu Lubabah  bin Abdil Mundzir Al-Badri menceritakan kepada kami sesungguhnya Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang membunuh jin-jin rumah, maka beliau pun menahan diri.” (Hadits Riwayat Muslim).

Riwayat ini menjelaskan lebih spesifik maksud dari ular rumah yaitu adalah bangsa jin yang menghuni rumah tersebut yang perwujudannya berbentuk seperti ular, dan ular-ular jelmaan jin inilah yang dimaksud dengan Al-‘Awamir atau ular siluman pada hadits sebelumnya.

Ular-ular rumah yang seperti inilah yang kita dilarang membunuhya langsung tanpa menyampaikan peringatan kepada mereka terlebih dulu, demi menjaga agar kita tidak salah bunuh sehigga kita terjatuh pada membunuh jin yang muslim, dari itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

 إن لهذه البيوت عوامر فإذا رأيتم شيئا منها فحرجوا عليها ثلاثا فإن ذهب وإلا فاقتلوه فإنه كافر

“Sesungguhnya rumah-rumah ini (yang ada dikota madinah saat itu) memiliki ‘Awamir (penghuni lama) maka apabila kalian melihat (penampakan) sesuatu di dalamnya maka ganggulah dia sebanyak tiga kali, maka jika ia pergi (biarkanlah) namun jika tidak, maka bunuhlah sesungguhnya itu jin yang kafir.” (Hadits riwayat Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan;

وفي الحديث النهي عن قتل الحيات التي في البيوت الا بعد الإنذار

“Dalam hadits ini terdapat larangan membunuh ular-ular yang berada di rumah kecuali setelah diberikan peringatan” (Fathulbari 7/583)

Maka dapat disimpulkan, bahwa membunuh ular hukumnya sunnah, kecuali ular siluman, maka boleh dibunuh setelah sebelumnya diberikan peringatan agar mereka pergi dari rumah tersebut, dan jika mereka membangkang, maka bunuhlah karena itu adalah jin yang kafir. Wallahu A’lam.

__

Musa Abu ‘Affaf/Bekasi 21 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.