4 Hal Ini Patut Anda Ketahui Dalam Isra’ Wal Mi’raj

Isra’ Wal Mi’raj yang kemudian di sini kami sigkat dengan IWAM adalah salah satu Mu’jizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang terbesar. Dan telah dijadikan sebagai salah satu hari besar di negeri kita ini. Ada beberapa hal berikut ini telah kami kumpulkan yang Insyallah dapat kiranya menambah wawasan kita terkait IWAM. Semoga bermanfaat:

  1. Isra’ Wal Mi’raj kapan terjadi

Peristiwa Isra’ Wal Mi’raj (IWAM) terjadi pada waktu sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhijrah ke Madinah, atau tepatnya setahun sebelum peristiwa Hijrah terjadi. Dan inilah pendapat yang paling dikuatkan oleh mayoritas Ulama termasuk Imam an-Nawawiy dan bahkan Imam Ibu Hazm menyatakan adanya Ijma’ atas hal tersebut.

 Adapun bulan terjadinya IWAM sendiri terdapat beberapa pendapat berbeda dari kalangan Ulama. Imam Ibnul Atsir dan sekelompok Ulama termasuk Imam an-Nawawiy menetapkan bahwa IWAM terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal. Pendapat lain menyebutkan pada bulan Rajab, namun sayangnya pendapat ini diceritakan dalam Shighah Tamridh , Qiila. Yang mengisyaratkan makna kurang kuatnya satu pendapat.

 (Lihat : Muhammad bin Yusuf ash-Shalihiy asy-Syamiy. Sabilul Huda War Rasyad Fii Siirati Khairil ‘Ibad. Jilid 3. Hal. 95-96. Terbitan Kementrian Waqaf Mesir. Pdf. )

  1. Hukum Mengingkari Isra’ Wal Mi’raj

IWAM adalah Mu’jizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah termaktub di dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Isra’ Ayat ke-1 dan Surat an-Najm Ayat 1-18. Juga telah disebutkan dalam hadits-hadits Shahih akan detil peristiwa tersebut. Semua itu mengharuskan siapa saja yang beragama Islam untuk meyakininya dengan jujur dan mengimaniya dengan tulus, sehigga menjadi sempurna Imannya terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun jika ada yang mengingkari atau tidak percaya dan tidak meyakini peristiwa IWAM setelah ia megetahui ketetapannya ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits maka ia bisa menjadi kafir dan dikategorikan keluar dari Islam. Dan inilah yang telah difatwakan oleh komite fatwa yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dengan No. Fatwa bidang Aqidah 19048. (Klik di sini)

  1. Melihat Allah ‘Azza Wajalla

Ahlussunnah Wal Jama’ah telah menetapkan bahwa penghuni surga kelak akan dapat melihat Allah ‘Azza Wajalla. Inilah Aqidah yang benar dan wajib diyakini setiap muslim, sehingga ia berada di atas keyakinan yang hak.

Sedangkan di dunia, tak seorang pun yang pernah melihat Allah ‘Azza Wajalla dengan mata kepalanya, walau pun pada hakikatnya hal itu tidak mustahil terjadi.

 Namun hal ini tidak berlaku dengan apa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dimana beliau melihat Rabbnya ketika Mi’raj. Dan Perbedaan pendapat pun terjadi kemudian dalam masalah ini, apakah beliau melihat Allah dengan mata kepala ataukah dengan hatinya? Dan semoga pendapat yang lebih kuat adalah pendapat; Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat Allah dengan hati.

(Ibnu Abil Izzi Al-Hanafiy. Syarh Al-Aqidatuth-Thahawiyyah. Hal. 188 dan 196. Al-Maktabul Islamiy. Bairut.)

  1. Al-Buraq

Transportasi yang mengantar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam peristiwa IWAM adalah Buraq. Seperti yag telah dijelaskan dalam Shahih Bukhari dalam Kitab Manaqibul Anshar Bab Al-Mi’raj, beliau bersabda;

ثم أوتيت بدابة دون البغل وفوق الحمار أبيض فقال له الجارود : هو البراق يا أبا حمزة ؟ قال أنس نعم .

“Dan didatangkan kepadaku seekor hewan (yang bentuknya) bukan Bagal dan melebihi keledai berwarna putih.” Al-Jarud bertanya (kepada Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini) apakah dia al-Buraq wahai Aba Hamzah? Anas berkata: “Ia”.

 Kata Buraq sendiri berasal dari kata al-Barq yang berarti kilat, hewan ini disebut dengan Buraq sesuai dengan kecepakatan yang ia miliki seperti halilintar atau karena memiliki warna yang sangat putih.

 Al-Buraq hanya ditunggangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya dalam Isra’ saja, yaitu perjalanan dari masjid al-Haram menuju ke Masjid al-Aqsha. Ada pun perjalanan Mi’raj beliau ke langit, selanjutnya menggunakan transportasi lain selain Buraq yaitu Mi’raj. Ini sesuai dengan riwayat yang disebutkan oleh Imam Al-Baihaqiy dan lainnya. (Al-Hafidz Ibnu Hajar. Fathul Bariy Bi Syarhi Shahih Al-Bukhariy. Jilid 8. Hal. 636. Dar Thayyibah. Riyadh. Saudi Arabia.)

وصلى الله نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين

 

Musa Abu Affaf.

Comments

comments