Waduh! CR7 Bawa Ibu Ke Penganugerahan Ballon D’Or

Waduh! CR7 Bawa Ibu Ke Penganugerahan Ballon D’Or

Kehadiran Cristiano Ronaldo (CR7) dalam acara Ballon d’Or 2014 bersama ibunya mejadi topik yang santer diberitakan. Pemain beragama Nasrani ini biasanya selalu tampil mesra bersama kekasihnya, namun dalam ajang bergengsi kali ini, dia justru tampil bersama ibu dan anaknya.

Hal tersebut sontak menuai pujian dari para penggemarnya, sisi baik yang berhak mendapat apresiasi dan pujian, menurut mereka, adalah sikap mendahulukan sang ibu ketimbang urusan pacar. Mereka menganggap ini adalah bentuk bakti kepada Ibu.

Penilaian yang dianggap adil oleh para penggemar CR7 tanpa melihat corak agama yang dianutnya. Sebab mungkin menurut penggemarnya, masalah agama tidak boleh turut campur dalam olahraga. Karena satu-satunya yang dijunjung tinggi dalam dunia olahraga dan sepakbola pada khususnya, adalah sportivitas. Walaupun keyakinan bisa berbeda dengan apa yang terjadi, bahkan dunia sepakbola adalah salah satu ajang bisnis judi terbesar, dan ajang sandiwara yang kerap disebut dengan pengaturan skor.

Dunia olahraga tidak hanya soal sportivitas, akan ada juga unsur ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya pengaruh agama yang dibawa oleh orang-orang yang terlibat. Dan melihat peristiwa yang dilakoni CR7 dari cara berbeda, bisa menghadirkan perspektif lain yang lebih jelas terutama bagi kaum muslimin.

Dalam kisah yang faktual dari Kitab Sahih Muslim yang sangat terkenal itu, menyebutkan satu riwayat bahwa Aisyah – Semoga Allah Meridhainya – pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang adalah suami Aisyah binti Shiddiq sekaligus;

“Wahai Rasulullah! Ibnu Jud’an dimasa jahiliyyah adalah seorang yang menyambung tali silaturrahim, dan suka memberi makan orang miskin.”

“Apakah hal itu bermanfaat baginya?”

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab,

“(Hal itu) tidak bermanfaat untuknya”

Ibnu Jud’an mati dalam keadaan kafir, ini sesuai dengan judul bab yang tertulis di atas hadisnya, “Bab dalil atas siapa saja yang mati di atas kekafiran, amalan baik tidak akan bermanfaat untuknya.”

Walaupun begitu, namun Aisyah Radhiyallahu Anha menyebut beberapa kebaikan yang telah dilakukan oleh Ibnu Jud’an di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan hal itu tidak diingkari oleh Nabi.

Menunjukkan, bahwa menyebut kebaikan orang kafir walaupun dalam lingkup sanjungan – dan memang kebaikan seseorang tidaklah disebut kecuali sebagai lingkup pujian atasnya – adalah perkara yang tidak dilarang dalam Syariat Islam, selama sanjungan tersebut bukan sebagai penguat dan pembenar atas kekafiran orang terkait.

Mengakui kebaikan orang lain, terlepas dari latar belakang agama yang dia anut adalah sendi keadilan dan akhlak terpuji, dan itulah hakikat ajaran Islam dan budi pekerti Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sikap yang ditunjukkan oleh sebagian penggemar CR7 tidaklah salah, yaitu ketika mereka mengatakan “salut”, bahwa memang sesungguhnya mendahulukan ibu dari pada urusan pacar adalah sikap berbakti yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Namun janganlah dilupakan, bahwa sebaik apa pun orang kafir maka amal baik tersebut tidak akan berguna untuknya kelak di alam akhirat jika dia mati dalam keadaan tidak beriman. #SaveImanmu.

Ditulis oleh: Musa Mulyadi, Lc

Sumber gambar dari:

http://www.ogrenburada.com/wp-content/uploads/2015/01/Ballon-dOr.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>