Tidak Ada Penularan Penyakit, Benarkah !?

Tidak Ada Penularan Penyakit, Benarkah !?

Penularan penyakit bisa terjadi, namun dalam sebuah hadits disebutkan bahwa tidak ada penularan penyakit sama sekali, dan di sisi lain terdapat juga hadits yang menyebutkan agar kita menghindar dari penyakit menular dan wabah menular.

Seolah terjadi kontradiksi antara kedua hal tersebut, lalu bagaimanakah sesungguhnya jalan untuk mengkompromikan keduanya ?

Menjawab pertanyaan ini, kali ini kami kutipkan secara utuh penjelasan Ulama Komite Fatwa Saudi Arabia atau yang populer dengan Lajnah Da’imah :

Pertanyaan: Mohon penjelasan tentang hadits berikut:

فر من المجذوم كما تفر من الأسد

“Berlarilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.

Jawaban:

Hadits ini adalah potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah bersabda:

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر, وفر من المجذوم كما تفر من الأسد

“Tidak ada penularan (penyakit) dan tidak ada kesialan, dan tidak ada Hammah (arwah gentayangan) dan tidak ada kesialan bulan safar dan berlarilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

  • Al-Bukhari dengan sanadnya dalam kitab Shahihnya pada kitab At-Thib bab Al-Judzaam
  • Ibnu Hiban dengan penambahan (ولا نوء), begitu juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim pada kitab At-Thib pada hadits Al-A’raj dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu dengan lafaz:

اتقوا المجذوم كما يتقي الأسد

“Takutlah kalian dari penyakit kusta sebagaimana engkau takut kepada Singa”

  • Ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tawakkal dari ‘Aisyah رضي الله عنها dengan lafaz:

لا عدوى, وإذا رأيت المحجزوم ففر منه كما تفر من الأسد

“Tidak boleh meyakini bahwa penyakit itu menular (tanpa ijin Allah), dan jika engkau melihat ada yang terjangkit kusta maka larilah darinya sebagaimana engkau berlari dari singa”

  • Dan Imam Muslim meriwayatkan hadits yang semakna dengan hadits tersebut dalam kitab Shahihnya pada akhir bab At-Thib dari hadits ‘Amr bin Asy-Syuraid dari bapaknya ia mengatakan:

كان في وفد ثقيف رجل محذوم فأرسل إليه النبي : إنا قد بايعناك فارجع

“Dalam sebuah peperangan, ada seorang laki laki berpenyakit kusta utusan Tsaqif yang kemudian Nabi berpesan (melalui seorang utusannya),”Aku telah membaiatmu dan kembalilah ke (rumahmu)”

Kesimpulan Makna Hadits

Dan paling bagusnya ungkapan tentang perkara ini adalah apa yang dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi رحمه الله dan diikuti oleh para imam setelahnya seperti Ibnus Shalah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu Muflih dan selainnya. Beliau menjelaskan makna dari “Tidak ada penyakit menular” adalah:

“Tidak ada penyakit menular sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah dahulu yang mereka menyandarkan perbuatan (penularan) kepada selain Allah dan perkara ini berjalan begitu saja (tanpa campur tangan Allah)”.

Akan tetapi Allah telah menjadikan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memiliki sebab dengan kehendakNya untuk terjadi, oleh karenanya Rasulullah bersabda:

فر من المجذوم كما تفر من الأسد

“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.

Rasulullah juga bersabda:

لا يورد ممرض على مصح

“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”

Rasulullah juga mengatakan tentang penyakit Tha’un (wabah menular yang mematikan):

من سمع به من أرض فلا يقدم عليه

“Barang siapa yang mengetahui ada yang terjangkit penyakit Tha’un disuatu tempat maka janganlah masuk ketempat tersebut”

Dan semua ini terjadi karena takdir Allah Ta’ala.

Semoga Allah memberikan Taufiq, dan Shalawat serta salam kepada NabiNya, Nabi Muhammad dan keluarga serta para sahabanya.

Alih Bahasa : Muhammad Fajri, M.Pd.I Waffaqahullah 


[1] Sumber Fatwa: Fatwa Lajnah Da’imah