Takut Menikah Karena Miskin?

Takut Menikah Karena Miskin?

Menikah merupakan sunnatullah, Perintah Allah dan RasulNya. Menikah merupakan kebutuhan para hambaNya. Begitu pentingnya pernikahan ini hingga Allah mensyari’atkannya kepada seluruh ummat, tidak hanya ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Namun, banyak kita temukan saudara-saudara kita yang sudah layak dan pantas untuk menikah, akan tetapi masih menunda pernikahan yang semestinya ia langsungkan. Banyak diantara mereka takut menikah dengan beribu macam alasan. Alasan yang paling sering kita dengar adalah takut tak mampu memberi makan istrinya atau karena takut miskin. .

Pemikiran semacam ini kuranglah tepat, Allah -yang mensyari’atkan menikah itu- lebih tahu dari kita tentang apa yang baik dan buruk bagi kita. Lagi pula, Allah lah yang menjanjikan kekayaan bagi orang yang menikah dan memberikan rizki kepada semua makhluk-Nya di dunia ini.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٣٢

Artinya: “Dan nikahilahlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Dermawan lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur Ayat 32)

Orang yang mau menikah juga termasuk diantara golongan yang akan ditolong oleh Allah ta’ala. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam:

((ثلاثة حق على الله عونهم: المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الأداء، والناكح الذي يريد العفاف))

Artinya: “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (Hadits hasan, dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

((ﻟﻮ ﺃﻧَّﻜﻢ ﺗﻮﻛَّﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻖَّ ﺗﻮﻛﻠﻪ ﻟﺮﺯﻗﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﻳﺮﺯﻕ ﺍﻟﻄﻴﺮ، ﺗﻐﺪﻭ ﺧﻤﺎﺻﺎً، ﻭﺗﺮﻭﺡُ ﺑﻄﺎﻧﺎً))

Artinya: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikan rezeki kepada seekor burung. Dia pergi (dari sarangnya) di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong (lapar), dan kembali (ke sarangnya) di sore hari dalam keadaan perut yang penuh (kenyang)” (Hadits Hasan Shohih)

Setidaknya ada tiga pelajaran dari Hadits ini:

  1. Wajibnya bertawakal kepada Allah dan bersandar kepadanya dalam usaha mencari segala yang dibutuhkan, dan mencegah segala yang tidak Allah inginkan.
  2. Wajibnya Mengambil sebab (melakukan usaha) dengan tetap bertawakal kepada Allah, dan hal itu tidak bertentangan dengan (makna) tawakal itu sendiri.
  3. Jika binatang saja masih diberi rizki oleh Allah, maka kita manusia yang beriman dan beribadah kepadanya lebih berhak untuk diberikan rizki olehNya.

Imam Ibrohim An-Nakha’i Rahimahullah berkata kepada seorang pemuda:

تزوج فإن اللذي يرزقها قي بيتها هو اللذي يرزقها وإياك في بيتك

Artinya: “Menikahlah Sesungguhnya Dzat yang memberi rizki kepadanya (calon istri itu) dirumahnya, Dia juga yang akan memberikan rizki kepada kalian nanti dirumahmu”. (Tarikh Ibnu Mihraz 105)

Setelah kita mengetahui dan meyakini bahwasanya Pemberi rizki itu adalah Allah yang Maha kaya. Jika kita mau berfikir secara kritis, Allah ta’ala memberikan rizki kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas membangkang dan enggan untuk beribadah kepadaNya, maka akan lebih berhak lagi untuk diberikan rizki oleh Allah bagi orang-orang yang beribadah kepadaNya dan senantiasa mentauhidkanNya.

Selanjutnya yang tertinggal hanyalah bagaiamana usaha kita untuk mencari dan menuntut rizki itu dibumi Allah yang sangat luas ini setelah memohon pertolongan Allah ta’ala. Setelah do’a dan usaha barulah kita serahkan semuanya kepada Allah (tawakkal).

Semoga bermanfaat. Allahu a’lam

Penulis: Al-Faqir Ilallah Muhamad Fajri bin Muhammad Zaini Hafizohullah

Bekasi, 14 Robi’il Akhir 1436 H