Sudut Pandang Ulama Membolehkan Kurban Khusus Ke Mayit

Sudut Pandang Ulama Membolehkan Kurban Khusus Ke Mayit

Berkurban untuk seorang yang telah wafat dengan dasar ia telah berwasiat agar dikurbankan sebelum wafatnya, atau dia pernah bernadzar semasa hidupnya untuk berkurban, namun kematian mendahuluinya, maka kasus seperti ini telah disepakati hukum bolehnya berkurban untuk orang yang wafat tersebut, bahkan hukumnya menjadi wajib.

Berkurban untuk seorang yang telah wafat namun tanpa wasiat darinya untuk dikurbankan, inilah perkara yang melahirkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Dan inilah topik utama dari coretan ini.

فذهب الحنفية والمالكية والحنابلة إلى جواز التضحية عنه إلا أن المالكية أجازوا ذلك مع الكراهة وإنما أجازوه لأن الموت لا يمنع التقرب عن الميت كما في الصدقة والحج

“Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah, dan Al-Hanabilah mereka berpendapat boleh berkurban untuk orang yang telah wafat, kecuali Madzhab Al-Malikiyyah mereka membolehkannya disertai dengan hukum Makruh, dan mereka membolehkannya karena sesungguhnya kematian tidak dapat menghalangi (pahala) ibadah untuk orang yang telah wafat seperti halnya dalam sedekah dan haji.” [Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 5/106]

Mereka berdalil dengan sabda Nabi ketika akan menyembelih  :

 باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد

Artinya : “dengan nama Allah, Ya Allah terimalah (kurban ini) dari Muhammad dan Aali Muhammad dan dari ummat Muhammad.” [HR: Muslim]

Dalam hadits ini rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammemperuntukkan kurbannya untuk seluruh ummat beliau, sedangkan ummatnya juga meliputi semua yang telah wafat, maka hal itu menunjukkan bahwa boleh berkurban untuk orang yang telah wafat walau pun tanpa berwasiat.

Di samping itu, hal yang memperkuat bolehnya berkurban untuk orang yang telah wafat adalah sampainya pahala amal orang yang hidup bila diniatkan untuk orang yang telah wafat, persoalan ini telah disepakati oleh para Ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menukil adanya Al-Ijma’ bahwa orang yang telah wafat dapat menerima manfaat dari amalan orang lain yang masih hidup , beliau berkata:

من اعتقد أن الإنسان لا ينتفع إلا بعمله  فقد خرق الإجماع

“Siapa saja yang meyakini sesungguhnya seorang manusia tidak mendapatkan manfaat kecuali dengan amalannya sendiri saja maka dia telah menyelisihi Al-‘Ijma’.” [  أسباب رفع العقوبة عن العبد  ]

Terlebih lagi khususnya dalam perkara sedekah, maka telah disepakati oleh semua ulama akan sampainya pahala sedekah tersebut kepada orang yang telah wafat, dan diketahui bahwa berkurban adalah bagian atau jenis dari sedekah sehingga hal ini semakin menguatkan bolehnya berkurban untuk orang yang telah wafat walau pun ia tidak berwasiat sebelumnya.

Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

أما التضحية عن الميت، فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها؛ لأنها ضرب من الصدقة، والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالإجماع

“Adapun berkurban untuk mayit maka Abul Hasan al-‘Abbadiy menghukumi secara mutlak kebolehannya karena berkurban bagian dari bentuk bersedekah, sedangkan sedekah menjadi sah untuk mayit dan bermanfaat untuknya dan sampai (pahala) kepadanya dengan Ijma’.” [Al-Majmu’ 8/380]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah juga berkata :

وتجوز الأضحية عن الميت كما يجوز الحج عنه والصدقة عنه ويضحى عنه في البيت ولا يذبح عند القبر أضحية ولا غيرها

 “Dan boleh berkurban untuk mayit sebagaimana boleh menghajikannya dan bersedekah untuknya, dan (hendaklah) kurban untuk si mayit dilaksanakan di rumah dan janganlah ia menyembelihkan kurban ataupun (jenis) sembelihan lainnya di sisi kuburan (si mayit)” [Majmu’ Fatawa 26/ 306]

Imam Al-Baghawiy rahimahullah berkata :

ولو ضحى عن ميت جاز ، روي عن حنش عن علي أنه كان يضحي بكبشين أحدهما عن النبي صلى الله عليه وسلم ، والآخر عن نفسه, فقيل له ؟ فقال : إن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  أوصاني أن أضحي عنه ، فأنا أضحي عنه

“Apabila dikurbankan untuk mayit (hukumnya) boleh, telah dirwayatkan hadits dari Khanasy, dari Ali radliyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah menyembelih dua ekor kambing kurban, salah satunya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang lainnya untuk dirinya sendiri, dan ketika ditanya akan hal tersebut beliau berkata : “Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepadaku agar menyembelih kurban untuknya dan aku sekarang menyembelih untuknya.”[1] [Syarhus-Sunnah 4/ 358]

Al-Mubarakfuriy rahimahullah menegaskan bahwa berkurban khusus untuk mayit secara tersendiri tanpa mengikut ke orang yang masih hidup hukumnya boleh, dalam hal ini beliau menukil dari kitab Ghun-yah (salah satu kitab dalam Madzhab Al-Hanafiyyah) :

 قال في غنية الألمعي ما محصله إن قول من رخص في التضحية عن الميت مطابق للأدلة ولا دليل لمن منعها

“Dalam kitab Ghun-yatul Al-Ma’iy disebutkan – yang kesimpulannya adalah – bahwa pendapat yang membolehkan berkurban untuk mayit sesuai dengan dalil-dalil yang ada dan tidak ada dalil yang melarangnya.” [Tuhfatul Ahwadziy]

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Bekasi 14 Dzul Qa’dah 1438 / 7 Agustus 2017


 

 

[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam At-Tarmidziy, Abu Dawud, dan Ahmad. namun dalam Sanadnya ada periwayat dengan inisial Abul Hasna’, beliau dinyatakan Majhul oleh ulama, dan inilah sepertinya alasan hadits ini dinilai Dla’if (lemah).