Shaff Makmum Di Antara Tiang Masjid

Shaff Makmum Di Antara Tiang Masjid

Menyambung Shaff adalah kewajiban dalam shalat berjamaah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

عن ابن عمر: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أقيموا الصفوف، وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله، ومن قطع صفا قطعه الله

 Dari Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhu, Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Luruskanlah Shaff , dan sejajarkanlah antara pndak-pundak, dan tutuplah celah-celah (dalam shaff), dan lemaskanlah diri kalian terhadap tangan-tangan saudara kalian, dan janganlah kalian membiarkan celah-celah untuk para setan, dan siapa saja yang menyambung Shaff, Allah akan menyambungkannya, dan siapa saja yang memutuskan Shaff, Allah niscaya akan memutusnya.” [1]

Lalu bagaimana hukumnya membuat shaff di antara tiang sehingga shaff nampaknya seperti terputus oleh tiang tersebut ?

Masalah ini oleh para Ulama ditinjau dari dua sisi keadaan:

Pertama : Keadaan di mana Masjid sudah tidak bisa menampung lagi jumlah para jamaahnya.

Kedua : Keadaan masjid masih memiliki ruang kosong selain area yang ada di antara kedua tiang untuk menampung jamaahnya.

Keadaan pertama hukumnya boleh membuat Shaff di antara dua tiang, dan hal ini telah disepakati oleh para Fuqaha’ dan bahkan dinukil adanya Ijma’ ulama atas hal ini.

Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“الصف بين السواري جائز إذا ضاق المسجد ، حكاه بعض العلماء إجماعاً وأما عند السعة ففيه خلاف ، والصحيح : أنه منهي عنه لأنه يؤدي إلى انقطاع الصف ، لا سيما مع عرض السارية” انتهى .

“Shaff di antara tiang-tiang hukumnya boleh apabila masjid sempit, sebagian ulama telah menceritakannya sebagai Ijma’, adapun ketika masjid (dalam keadaan) luas maka ada perbedaan pendapat, namun yang Shahih hal itu dilarang karena mengakibatkan terputusnya Shaff, terlebih dengan ukuran tiang tersebut.” Selesai. [2]

Di antara yang menukil tidak adanya perbedaan pendapat (Ijma’ Sukuty) atas bolehnya bershaff di antara tiang apabila dalam keadaan jumlah jamaah meluap sehingga masjid tidak bisa menampungnya adalah Lajnah Ifta’ (Komisi Fatwa) Yordania, di dalamnya disebutkan :

لم يختلف الفقهاء في جواز الصلاة بين السواري إذا قامت الحاجة إلى ذلك، كضيق المسجد مثلا، كما لم يختلفوا في جواز صلاة المنفرد والإمام بين الساريتين. وإنما اختلفوا في صلاة المأمومين بين السواري إذا كان في المسجد فسحة

“Fuqaha’ tidak berbeda pendapat dalam sahnya shalat di antara tiang-tiang apabila ada hajat mendesak untuk hal itu, seperti sempitnya masjid contohnya, sebagaimana mereka tidak berbeda pendapat dalam bolehnya shalat bersendiri dan seorang imam di antara dua tiang. (letak) perselisihan mereka hanyalah dalam masalah shalatnya para Makmum di antara tiang apabila keadaan masjid masih luas.” [3]

Ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah (komite fatwa Ulama saudi Arabia)  – walau pun tidak menukil Ijma’ – namun juga menfatwakan tidak makruhnya bershaff di antara dua tiang jika masjid sudah dalam keadaan sempit, mereka menjelaskan:

“(يكره الوقوف بين السواري إذا قطعن الصفوف ، إلا في حالة ضيق المسجد وكثرة المصلين” انتهى . “فتاوى اللجنة الدائمة” (5/295

“Di-Makruhkan berdiri (bershaff) di antara tiang-tiang apabila memutuskan shaff-Shaff, kecuali dalam keadaan masjid sempit sementara orang-orang yang shalat banyak.” Selesai. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah 5/295)

Keadaan kedua hukumnya diperselisihkan oleh para Fuqaha, Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah berkata:

 كره قوم من أهل العلم أن يصف بين السواري وبه يقول أحمد و إسحق وقد رخص قوم من أهل العلم في ذلك

“Sekelompok ulama memakruhkan bershaff di antara tiang-tiang, dan dengannya (Imam) Ahmad dan Ishaq berpendapat, dan sekelompok ulama (lainnya) memandang Rukhshah dalam perkara itu.”

Almubarakfury rahimahullah berkata : “Dan dengannya (pendapat makruh) An-Nakha’iy berpendapat, dan Sa’id bin Manshur dalam Sunannya meriwayatkan hukum larangan atas hal itu dari Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas, dan Hudzaifah.” Beliau juga menjelaskan: “Sekelompok ulama memandang ada keringanan dalam hal itu, Yakni shalat di antara tiang-tiang. Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ibnul Mundzir, mereka memandangnya ada Rukhshah (tidak dilarang). [4]

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:

أما المأمومون : فقد اتفق الفقهاء على أنه إذا لم تقطع الأسطوانة الصف فلا كراهة لعدم الدليل على ذلك . أما إذا قطعت ففيه خلاف . فالحنفية والمالكية لا يرون به بأسا ، لعدم الدليل على المنع . والحنابلة يرون الكراهة ، لما ورد من النهي عن الصف بين السواري إلا أن يكون الصف قدر ما بين الساريتين ، أو أقل فلا يكره 

“Adapun Makmum, maka Fuqaha’ telah bersepakat bahwa apabila tiang tidak memutuskan shaff maka tidak makruh karena tidak ada dalil atas hal itu, adapun apabila memutuskan shaff maka ada khilaf (perbedaan pendapat ulama) dalam hal ini. Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah tidak memandang hal itu sebagai perkara yang buruk (makruh) karena tidak ada dalil atas pelarangannya. Dan sedangkan Al-Hanabilah memandangnya Makruh dengan dalil adanya hadits yang melarang bershaff di antara tiang-tiang, kecuali keadaan shaffnya seukuran jarak antara kedua tiang atau lebih sedikit, maka tidak Makruh. [5]

Adapun Madzhab Ays-Syafi’iyyah memandang tidak Makruh, Imam Ar-Ramliy Asy-Syafi’i Rahimahullah pernah ditanya masalah ini:

 هل يكره للإنسان أن يصلي بين عمودين من أعمدة المسجد؟ فأجاب: بأنه لا تكره الصلاة المذكورة، سواء كان المصلي منفردا، أم إماماً، وكذا المأموم، إلا أن يكون منفرداً عن الصف” انتهى

“Apakah dimakruhkan bagi seorang untuk shalat di antara dua tiang dari tiang-tiang masjid yang ada?

Beliau menjawab : “Tidak Makruh shalat yang dilakukannya tersebut, baik ia dalam keadaan shalat sendiri, atau menjadi Imam, demikian pula dalam keadaan ia menjadi makmum, kecuali kalau dia bersendiri dari Shaff yang telah ada.” Selesai. [6]

Madzhab Al-Hanabilah berpendapat Makruh, Ibnu Muflih Rahimahullah berkata:

 وَيُكْرَهُ لِلْمَأْمُومِ الْوُقُوفُ بَيْنَ السَّوَارِي قَالَ أَحْمَدُ : لِأَنَّهَا تَقْطَعُ الصَّفّ

“Dan dimakruhkan bagi makmum berdiri (bershaff) di antara tiang-tiang, Imam Ahmad berkata: “karena memutuskan Shaff.” [7]

Dalil para ulama yang menunjukkan atas Makruh adalah riwayat berikut ini:

  1. Riwayat Anas bin Malik radliyallahu ‘Anhu dalam Sunan Tirmidzi.

عن عبد الحميد بن محمود قال : صلينا خلف أمير من الأمراء فاضطرنا الناس فصلينا بين الساريتين فلما صلينا قال أنس بن مالك كنا نتقي هذا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم . قال أبو عيسى حديث أنس حديث حسن صحيح

 Dari Abdil Hamid bin Mahmud beliau berkata: “Suatu waktu kami shalat bermakmum di belakang seorang Amir (pemimpin) orang-orang ketika itu (Shaffnya) tidak beraturan maka kami akhirnya shalat di antara tiang, manakala kami telah selesai shalat Anas bin Malik berkata: “Kami menghindari ini pada zaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Hadits ini riwayat Imam At-Tirmidziy dan beliau berkata: “Hadits riwayat Anas Hasan Shahih.”

  1. Hadits riwayat Mu’awiyah bin Qurrah Radliyallahu ‘Anhu.

عن معاوية بن قرة عن أبيه قال : كنا ننهى عن الصلاة بين السواري على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ونطرد عنها طردا

“Dari Mu’awiyah bin Qurrah dari Bapaknya (bapaknya Mu’awiyah yakni Qurrah itu sendiri) berkata: “Kami dulu dilarang (bershaff) shalat di antara tiang, dan kami diusir darinya.” [8]

Adapun sebab atau ‘illah larangan Makruh bershaff di antara tiang-tiang  karena dapat membuat shaff menjadi terputus, hal ini seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad pada paparan di atas, sedangkan telah kita ketahui bersama bahwa memutuskan shaff telah dilarang seperti dalam hadits sebelumnya.

Al-Mubarakfury rahimahullah menukil dari Ibnu ‘Arabiy rahimahullah berkata:

والعلة في الكراهة ما قاله أبو بكر بن العربي من أن ذلك إما لانقطاع

“Dan ‘Illah pada kemakruhan adalah seperti yang telah disebutkan Abu Bakr ibnul ‘Arabiy bahwa larangan itu karena memutuskan Shaff”. [9]

Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa mendirikan Shaff di antara tiang harus dilihat keadaannya sebelum menghukuminya seperti yang dirincikan di atas, sehingga tidak menjadi keributan di dalam masjid karena tidak melihat keadaan. sebab sebagian orang terkadang kaku dalam masalah ini sehingga melarang siapa pun shalat di antara tiang walau pun masjid pada hakikatnya sudah tidak menampung jumlah jamaah, dan membiarkan area kosong yang ada di antara tiang dan tembok masjid. padahal kalau pun jamaah bershaff di tempat tersebut maka tidak akan membatalkan shalat mereka sebab jika area tersebut diisi dengan shaff sampai penuh maka pada saat itu mereka tidak terhitung bersendiri di belakang Shaff. Wallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا 

Musa Abu ‘Affaf. BA.

Bekasi 10 September 2017.


 

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Syaikh Al-AlBaniy rahimahullah, berkata dalam Shahih Abu Dawud: “Hadits ini Sanadnya Shahih, demikian juga yang dikatakan oleh An-Nawawiy. Dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan sebagian dari hadits ini dalam kitab Shahihnya, yaitu sabda nabi “Man Washala, hingga sampai akhir hadits. Dan Al-Hakim berkata: “Hadits (ini) Shahih atas Syarath Muslim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy, dan memang hadits ini seperti apa yang dikatakan oleh beliau berdua.” Beliau juga mentakhrij Hadits ini dalam Silisilah Ash-Shahihah No. 743.

[2] Majmu’ Fatawa Warasa’il Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin (13/34)

[3] Dikutip dari Website resmi Darul Ifta Yordania : http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=520#.WbM9UHYjHIU

[4] Tuhfatul Ahwadziy Syarh Sunanit Tirmidziy 1/486 Cet. Darul Hadits-Kaero

[5] Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah

[6] Fatawa Ar-Ramliy 1/232

[7] Al-Furu’ 2/39

[8] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, Ibnu Majah, Imam Ahmad, An-Nasa’i dalam Sunanul Kubra, Ibnu Hibban, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’anil Atsar, dan ditakhrij juga oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silisilah Shahihah (No. 1405.)

[9] Tuhfatul Ahwadziy Syarh Sunanit Tirmidziy 1/487 Cet. Darul Hadits – Caero.