Saat Cinta Terpisah Agama

Saat Cinta Terpisah Agama

Sejarah mencatat dirinya sebagai seorang diplomat yang pernah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam utus kala ke Mekah, berunding guna pembebasan beberapa kaum muslimin yang ditawan oleh musyrikin Quraisy. Ia adalah lelaki cerdas bernama Martsad Al Ghaznawi.

Saat perkaranya telah selesai, ia hendak kembali lagi bersama kaum muslimin di Madinah, melanjutkan kisah hidupnya sebagai salah seorang sahabat Rasulullah dan membersamai sahabat lainnya guna mengokohkan keimanan dan menuntut pelajaran dari Nabi mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, naluri lelakinya berbicara lain. Tanpa ada perjanjian dan saling tunggu sebelumnya, berjumpalah ia dengan seorang gadis bernama Inaq. Sosok gadis jelita yang pernah menoreh kenangan panjang bersama dengan dirinya di masa jahiliyah . Nostalgia bermula.

Inaq pun memiliki keinginan mengulangi kembali romansa jahiliyahnya kala itu bersama dengan seorang Martsad. Merajut kembali hubungan percintaan dibawah naungan asmara yang kian membara demi menyuluh makna yang sebelumnya tak pernah ada.

Gadis jelita itu terus merayu dan merajuk, bahkan siap melakukan tipu daya yang barangkali bisa melebihi tipu daya dari makhluk pembuat tipudaya sejati. Martsad tetap bergeming, keimanan telah mendidiknya bahwa terlarang bagi seorang lelaki dan wanita bukan dalam balutan mahram untuk saling khalwat (berduaan) apalagi melakukan hubungan suami istri laiknya manusia-manusia jahiliyah. Martsad menjelaskan panjang lebar soal etika percintaan yang diridhai Allah hanya dalam naungan pernikahan.

Inaq bukan tidak dengar, panca inderanya semua berfungsi dengan baik. Telinganya normal, namun ucapan itu hanya sekedar lewat saja. Masuk dari telinga kanan lalu membiarkan telinga kiri mengeluarkan kembali. Bahkan ia pun mengatakan, “Apakah engkau telah bosan kepadaku” dengan nada jengkel pada Martsad. Martsad sedikit goyah, ia pun berjanji akan menyampaikan urusan ini kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekembalinya ia ke Madinah, diceritakanlah apa yang terjadi di Mekah dan tak lupa soal perjumpaan dirinya dengan sang mantan saat jahiliyah dulu. Hasrat untuk menikahinya pun menyala. Imam As Suyuthi, mengatakan bahwa karena peristiwa inilah Allah menurunkan ayat “Janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik sehingga perempuan itu beriman, dan sungguh budak yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik, walaupun dia itu menarik hatimu… “ (QS. Al Baqarah : 221). Sejak itu pula Martsad mengurungkan untuk melanjutkan kisah cintanya dengan Inaq.

Tak dipungkiri memang, bahwa hari ini tidak sedikit diantara pemuda Islam yang merajut kasih dengan pemudi non Islam, pun sebaliknya. Dibelantara media sosial sangat mudah didapatkan hal demikian, tersebab pergaulan yang dijalani sehari-hari. Entah di sekolah atau di tempat kerja. Janji suci sulit terwujud karena adanya dinding pembatas dalam urusan keyakinan. Tarik-ulur diantara kedua pihak orangtua atas anaknya tak bisa terelakkan.

Pilihannya ialah antara mengalah atau memenangkan atas pasangannya. Sekalipun boleh menikahi wanita non Islam namun hal ini memiliki konsekuensi yang sangat berat dan tidak sepele. Bila bertempat tinggal sekampung dengan orang-orang musyrik bisa mengakibatkan rusaknya agama, apalagi mengawini mereka; ujar T.M Hasbi Ash Shidiqie dalam tafsirnya saat menjelaskan kandungan ayat diatas.

Maka pilihlah calon pendamping hidup dari golongan wanita mukminah. Di masa ini tentu yang demikian banyak jumlahnya, terlebih kita hidup di negara dimana Islam menjadi mayoritas. Hampir setiap orang di jalan yang kita temui apabila ditanya perihal agamanya mungkin akan menjawab Islam.

Urusan cinta memang urusan perasaan, ia selalu menempati nomor mula-mula, apalagi bagi yang sudah terkena sakitnya. Jika sakit pada tubuh saja rasanya sampai pikiran, bagaimana dengan yang sakit perasaan? Tentu berat untuk mengakhiri, tak semudah saat mengawali. Namun yakinlah bahwa menikahi seorang wanita non Islam, memiliki konsekuensi yang sangat berat. Terlebih bagi suami nantinya yang kerapkali banyak menyerahkan berbagai urusan keluarga kepada istrinya termasuk dalam hal ini ialah pendidikan bagi anak-anaknya.

Sebelum semua terlambat, lalu akhirnya berat untuk berpisah. Upaya mengajak kepada agama Islam pun telah dilancarkan tanpa henti oleh si lelaki, namun apa daya ancaman berat dari orangtua si wanita tak kecil nilainya. Maka mundur ialah jalan terbaik, mengakhiri dan melupakannya sambil berikhtiar dan bertawakal untuk mendapatkan pasangan seagama jauh lebih baik dibanding memaksakan dengan berbagai cara yang hasilnya sudah sama-sama dipahami.

Yakinlah bahwa Allah memiliki jawaban terbaik bagi seorang hamba yang menguatkan imannya. Sebab, menurut Hamka dalam tafsirnya, iman menyempurnakan agama sedangkan harta dan kemegahan (kecantikan) hanya menyempurnakan dunia. Memelihara agama lebih diutamakan daripada memelihara dunia, jika keduanya tak bisa disatukan.

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ini adalah perkara iman, jika seorang Martsad mampu bertahan padahal betapa sangat cintanya terhadap Inaq, apatah lagi anda yang sama muslimnya, sama lelakinya. Terlebih ini adalah perkara masa depan, bukan hanya berhenti di dunia saja, namun urusan yang terus berlangsung hingga akhirat kelak. Tentang rumahtangga, anak-anak, dan kehidupan selanjutnya. Jadi, untuk apa saat ini mempertahankan jalinan cinta yang jelas terlarangnya tersebab berpacaran, terang terlarangnya karena perbedaan agama yang sulit disatukan, dan banyak hitungannya soal dosa yang jika terus dipaksa akanmenggerus pundi pahala keseharian. Sudahilah duhai lelaki yang sampai hari ini menikmati dosanya dari hubungan tak diridhai Allah, saat dirimu berkasih mesra dengan yang bukan mahram pun jua beda agama

Rizki Abu Haniina