Qadla’ Shalat Sunnah Qabliyah Subuh Bolehkah Lansung Setelahnya?

Dua rakaat sebelum subuh atau yang kerap disebut dengan shalat sunnah qabliyah subuh adalah suatu amalan yang sangat besar keutamaannya, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik dari pada dunia dan apa apa yang ada di dalamnya”. (Hadits riwayat Ahmad dan Muslim).

Namun dalam satu keadaan bila seorang muslim luput mengamalkan dua rakaat ini pada waktu asalnya, maka sebagai bentuk menjaga shalat sunnah rawatib secara konsisten dan terus menerus, diperbolehkan melaksanakan qabliyah subuh setelah mendirikan shalat fardlunya, dan ini berlaku bukan hanya pada shalat sunnah qabliyah subuh saja, namun juga pada semua shalat sunnah qabliyah, Imam Annawawi –rahimahullah- berkata:

أن السنن الراتبة إذا فاتت يستحب قضاؤها

“Sesungguhnya shalat-shalat sunnah ratibah (qabliyah dan ba’diyah) apabila luput pada waktu asalnya disunnahkan mengqadla’nya”.[1]

Waktu Qadla’ Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Tapi apakah boleh melaksanakan qadla’ qabliyah subuh ini langsung setelah shalat subuh, ketika matahari belum terbit, ataukah harus menunggu sampai matahari terbit dan waktu terlarang telah hilang?

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini;

Pendapat pertama menetapkan boleh melakukan qadla’ qabliyah subuh pada waktu terlarang, yaitu sebelum matahari terbit. Pendapat ini berasal dari Madzhab Al-Syafi’iyyah, dan satu riwayat dari madzhab Alhanabilah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lebih menguatkannya, dan pendapat ini juga telah dipilih oleh Ibnulqayyim dan Ibnu ‘Utsaiminrahimahumullahu jami’an -. [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah- berkata:

أما إذا فاتت السنة الراتبة . مثل سنة الظهر . فهل تقضى بعد العصر ؟ على قولين هما روايتان عن أحمد : أحدهما : لا تقضى وهو مذهب أبي حنيفة ومالك . والثاني : تقضى وهو قول الشافعي وهو أقوى

“Adapun apabila shalat sunnah ratibah luput, seperti sunnah qabliyah zhuhur, apakah diqadla’nya setelah ashar? Para imam madzhab berbeda pendapat di atas dua pendapat, kedua-duanya adalah dua riwayat dari Ahmad, yang pertama; tidak diqadla’ dan ini juga madzhab Abu Hanifah, dan Malik. Yang kedua; diqadla’ (boleh diqalha’ setelah ashar) dan itu adalah pendapat al-Syafi’i dan itu lebih kuat.”[3]

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini menunjukkan bahwa beliau membolehkan melakukan qadla’ shalat sunnah qabliyah subuh pada waktu yang dilarang (yakni setelah shalat subuh), itu diketahui dengan ketetapan beliau yang membolehkan mengqadla’ pada waktu yang terlarang setelah asar, karena setelah subuh dan setelah asar adalah dua waktu yang sama-sama terlarang untuk melakukan shalat sunnah, termasuk shalat sunnah rawatib (qabliyah) .

Pendapat kedua tidak diperkenankan melakukan qadla’ qabliyah subuh setelah shalat subuh, yakni pada waktu masih dalam batasan waktu terlarang untuk shalat di dalamnya.

Dan ini merupakan pendapat dalam madzhab Al-Hanabilah, Imam Ibnu Qudamah –rahimahullah- mengatakan:

 فأما قضاء سنة الفجر بعده فجائز إلا أن أحمد اختار أن يقضيهما من الضحى وقال أن صلاهما بعد الفجر أجزأ وأما أنا فأختار ذلك

“Maka adapun mengganti shalat sunnah subuh setelahnya maka hukumnya boleh, hanya saja Imam Ahmad memilih mengganti dua rakaat tersebut pada waktu dluha, dan beliau berkata; “jika seorang melakukannya setelah subuh maka mencukupi, sedangkan aku, maka itulah yang aku pilih.”[4]

Dalam Syarh Muntahal Iradat  ditegaskan tidak boleh, bahkan haram hukumnya mengqadla’ shalat sunnah subuh setelah shalat subuh.

(ويحرم إيقاع تطوع) بصلاة (أو) إيقاع (بعضه) أي: التطوع (بغير سنة فجر قبلها) أي: صلاة الفجر فلا تجوز بعدها حتى ترتفع الشمس قيد رمح (في وقت من) الأوقات (الخمسة 

“Dan diharamkan melaksanakan shalat sunnah atau melaksanakan sebagiannya pada lima waktu yang telah dilarang kecuali (shalat) sunnah subuh sebelumnya, – yakni sebelum shalat subuh – maka tidak boleh melakukan setelahnya sampai matahari meninggi seukuran anak panah.”

Dan inilah yang Mu’tamad dalam Madzhab Al-Hanabilah dan sesuai dengan pilihan Imam Ahmad – rahimahullah -, pendapat ini menjadi lebih kuat karena didukung dengan amalan dari sebagian Salaf, yaitu Abdullah bin ‘Umar – radliyallahu ‘anhu-;

 عن ابن عمر أنه جاء إلى القوم وهم في الصلاة ولم يكن صلى الركعتين فدخل معهم ، ثم جلس في مصلاه فلما أضحى قام فقضاهما

“Dari Ibnu Umar- Radliyallahu ‘Anhuma – sesungguhnya beliau pernah datang ke sekelompok kaum muslimin yang sedang dalam keadaan shalat (shalat subuh berjamaah) , sementara beliau belum shalat (qabliayah) dua rakaat, maka beliau pun masuk ke dalam shalat bersama mereka, kemudian (setelah selesai) beliau tetap duduk di tempat posisi shalatnya, maka ketika beliau telah sampai di waktu dhuha, beliau berdiri dan mengqadla’ dua rakaat (qabliyah subuh).”

Atsar (hadits) Ibnu Umar – radliyallahu ‘anhuma– ini dikeluarkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2/95) dan menurut Syaikh ‘Amr bin Abdilmun’im SalimHafizhahullah–  Sanadnya Hasan.[5]

Tidak melakukan qadla’ shalat sunnah qabliyah subuh pada waktu yang diharamkan (yaitu setelah fajar terbit sampai matahari terbit) adalah pendapat yang kami ikuti dan yakini ,sebagai bentuk keluar dari khilaf yang terjadi di dalamnya,  dan melakukan qadla’nya pada waktu dluha adalah jalan keluar yang paling aman dari kritik dan pelemahan. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

—-

[1] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (Jilid 3 Bagian ke 5, Hal. 360). Cet. Dar Al-Makrifat Bairut.

[2] Lihat : dorar.net

[3] Majmu’ Fatawa (23/127)

[4] Al-Mughni

[5] Shifat Tathawwu’unnabi Shallallahu ‘alaihi wasallam 1/16.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.