Porsi Makan Idealmu Seberapa Banyak?

Porsi Makan Idealmu Seberapa Banyak?

Sering kita lupa bahwa makan dan minum adalah nikmat yang paling utama yang dapat menunjang kehidupan manusia, barangkali di antara hikmah diwajibkannya berpuasa agar manusia tidak melupakan nimat tersebut, sebab suatu aktivitas yang sering kita lakukan dan telah menjadi rutinitas harian terkadang kerap kita menjalaninya tanpa menaruh perhatian yang berarti terhadapnya.

Di antara hal yang sering luput dari perhatian kita adalah larangan Allah atas kita melakukan Al-Israf yakni berlebihan dalam makan dan minum. Allah berfriman:

يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Wahai rang-orang yang beriman gunakanlah perhiasan kalian pada setiap kali di sisi masjid, dan makan minumlah kalian dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Qs: Al-A’raf : 31)

Bukan hanya dalam Ayat ini saja, namun di dalam hadits pun dijelaskan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كلوا واشربوا والبسوا وتصدقوا في غير إسراف ولا مخيلة

“Makanlah kalian, dan minumlah kalian, dan berpakaianlah kalian, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tidak sombong.” [redaksi hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhari pada bagian Tarjamah (penjudulan) Bab, dan dikeluarkan juga oleh Imam An-Nasa’i]

Senada dengan sabda di atas Abdullah bin ‘Abbas radliyallahu ‘Anhu berkata:

كل ما شئت والبس ما شئت ما أخطأتك اثنتان سرف أو مخيلة

 “Makanlah apa yang kamu mau, dan pakailah apa yang kamu mau, selama dua perkara ini dapat engkau hindari, berlebihan dan sombong”. [Disebutkan Imam Bukhari dalam Tarjamah (penjudulan) Bab, dan keluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 25375]

Berlebihan dalam makan dapat mengundang penyakit sedangkan pola makan dan porsi yang ideal merupakan kunci kesehatan, disebutkan bahwa konon sebagian salaf pernah berkata:

جمع الله الطب كله في نصف آية: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا 

 “Allah telah mengumpulkan semua pengobatan ada dalam setengah Ayat : (yaitu firman Allah yang artinya:) “dan makan minumlah kalian dan jangan berlebihan”. [tafsir ibnu katsir 2/283 cet. Mu’assasah Ar-Rayyan]

Porsi ideal makanan yang masuk ke perut kita dapat dibagi menjadi seperti berikut ini; sepertiga untuk makanan, dan sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk aliran nafas.  Pembagian porsi makan ini artinya tidak sampai membuat perut penuh oleh makanan dan minuman karena kekenyangan, dan ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

 ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

“Tidak ada manusia yang memenuhkan bejana (yang ia punya) dengan keburukan (selain) dari (seperti seorang yang memenuhkan) perutnya (dengan makanan dan minuman,) cukup kiranya seorang anak adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang sulbinya dan apabila ia tidak bisa tidak (lebih dari beberapa suap) maka sepertiga dari makanannya, sepertiga dari minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” [Hadits Riwayat Tirmidzi , Ibnu Majah dan Al-Hakim.]

Maka tidaklah jauh dari kesimpulan apabila kita katakan porsi makan dan minum yang melebihi dari pembagian dalam hadits ini terhitung sebagai israf atau berlebihan. Dan pendapat lain yang menyebutkan tentang batasan Israf telah dipaparkan sebelumnya oleh Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, di antara batasan yang beliau sebutkan ialah:

“Memakan yang haram, dan memakan semua yang diinginkan, ini sesuai dengan riwayat hadits yang berbunyi:

إن من السرف أن تأكل كل ما اشتهيت

“Sesungguhnya bagian dari berlebihan kamu makan semua makanan yang kamu inginkan.” [HR: Ibnu Majah, Abu Ya’la, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’at. Menurut Syaikh Al-Albani dalam Dla’if Al-Jam’iush Shaghir hadist ini palsu.]

Di antara bentuk Israf adalah makan setelah kenyang, dan dalam hal ini terdapat satu hikayat dari Lukman ‘Alaihissalam yang menyebutkan bahwa beliau pernah berpesan kepada anaknya: “wahai anakku janganlah kamu makan dalam keadaan kenyang di atas kenyang, sesungguhnya apabila engkau berikan (makanan itu) kepada anjing lebih baik dari pada kamu memakannya.”

Samurah bin Jundub pernah bertanya kepada anaknya tentang apa yang ia perbuat semalam, orang-orang yang menyaksikannya lalu berkata: “dia makan sampai Basyim semalam.” Samurah berkata: “sampai Basyim!” mereka menjawab; “ia”, beliau berkata: “ketahuilah, andai ia mati maka aku tidak akan menshalatinya.” (Basyim maksudnya keadaan orang yang tidak bisa tidur karena terlalu kenyang).

Imam Al-Qurthubi juga menyebutkan kisah seorang shahabat nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang disebut Abu Juhaifah radliyallahu ‘anhu, beliau pernah mengunjungi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan kenyang sehingga akhirnya beliau mengalami sendawa di hadapan nabi. Nabi pun menegurnya dengan bersabda:

اكفف عنا جشاءك أبا جحيفة فإن أكثر الناس شبعا في الدنيا أطولهم جوعا يوم القيامة

“Wahai Abu Juhaifah tahanlah sendawamu maka sesungguhnya manusia yang paling banyak kenyang di dunia adalah orang yang paling lama merasakan lapar pada hari kiamat.”

Abu Juhaifah – setelah peristiwa itu – tidak pernah lagi makan sampai perutnya penuh (kenyang) sampai meninggal dunia, konon apabila beliau telah makan di waktu siang maka beliau tidak makan malam, dan apabila beliau makan malam, maka esoknya beliau tidak makan.” (1) [Dalam Majma’uz Zawaid disebutkan bahwa hadits ini keluarkan oleh Imam Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Al-Kabir]

Musa Abu ‘Affaf, BA.


(1). Semua paparan pendapat tentang batasan makna diintisari dari Tafsir Al-Qurthubi 9/201 -202. Cet. Mu’assasah Ar-Risalah.