Pendapat Ulama Tentang Menarik Makmum Dari Shaffnya

Pendapat Ulama Tentang Menarik Makmum Dari Shaffnya

Sebelumnya hadits tentang menarik makmum dari shaffnya telah dibahas secara khusus di sini, dan bagi pembaca yang mulia yang belum sempat membacanya maka jangan khawatir, bahasan tersebut masih bisa dibaca di lain waktu di sini.

Adapun tulisan ini, insyallah akan membahas pendapat Fiqh para ulama terhadap masalah menarik orang lain dari shaffnya agar dia tidak menjadi hanya sendiri dibelakang shaff. dan berikut penjelasannya:

Disebutkan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah : “Dan siapa saja yang tidak mendapatkan tempat kosong di bagian shaff mana pun dalam pelaksanaan shalat jama’ah, maka Fuqaha’ berbeda pendapat dengan apa yang semestinya dilakukan saat itu.

Al-Hanafiyyah berkata: “Siapa saja yang tidak mendapatkan Furjah (celah luang dalam shaff) maka seyogyanya dia menunggu orang yang masuk ke masjid untuk menemani dirinya bershaff di belakang, namun apabila dia tidak menemukan siapa-siapa dan ia khawatir tertinggal rakaat, (boleh) ia menarik orang yang ia ketahui berilmu dan berakhlak dari shaff (depan) ke (posisi) dirinya  supaya (orang yang ditarik) tidak marah terhadap dirinya, apabila ia tidak mendapatkan (orang yang layak ditarik dari shaff depan) maka ia berdiri di belakang shaff sejajar dengan imam, dan tidak ada kemakruhan saat itu karena itu adalah keadaan yang mendesak (‘udzur)

Seperti demikianlah Al-kasaniy menyebutkan dalam (kitab) Al-Bada’i, akan tetapi Al-Kamal bin Hammam telah menyebutkan dalam (kitab) Al-Fath : “Bahwa siapa saja yang datang namun shaff telah penuh (maka) ia menarik serang dari Shaff yang ada, supaya orang tersebut menemaninya dalam shaff yang lain, kemudian beliau berkata: “Dan seyogyanya bagi yang demikian itu (yaitu bagi orang yang ada dalam shaff) agar tidak memenuhi tarikan orang yang menarik, maka dengan hal itu hukum makruh menjadi hilang dari hal ini (tarikan orang yang dibelakang) karena ia melakukan (mundur ke belakang) berdasarkan keluasan usahanya dirinya. (bukan karena tarikan orang)”

Al-Malikiyyah berpendapat : “Siapa saja yang tidak mungkin masuk ke dalam Shaff, maka ia shalat menyendiri dari para makmum (bershaff sendiri), dan janganlah ia menarik seorang pun dari shaff depan, dan jika ia menarik orang maka orang yang ditarik janganlah mau menurutinya, karena masing-masing dari menarik dan mentaatinya adalah Makruh.”

Dan pendapat yang Shahih di sisi Asy-Syafi’iyyah bahwa siapa saja yang tidak mendapatkan Furjah (celah luang) dan tidak juga keluasan tempat, maka dianggap baik (Yustahabb) menarik seorang ke posisi diriya agar orang tersebut bershaff bersamanya, akan tetapi hal ini (seyogyanya) disertai dengan memperhatikan bahwa orang yang ditarik tersebut akan menyepakatinya, jika tidak, maka janganlah ia menarik seorang pun demi mencegah fitnah, dan apabila ia menarik seorang maka di-Mandub-kan (disunnahkan) bagi yang ditarik agar membantunya agar mendapatkan keutamaan saling tolong-menolong di atas kebaikan dan ketaqwaan.”

“Dan pendapat yang bersebrangan dengan pendapat yang shahih – adalah pendapat yang telah disebutkan secara Nash (lugas) dalam Al-Buwaithiy dan yang telah dipilih oleh Al-Qadliy Abuth Thayyib – Bahwa ia hendaknya berdiri (bershaff) sendiri, dan janganlah dia menarik seorang pun, agar ia tidak mengalangi orang lain dari keutamaan shaff depan.”

Al-Hanabilah berpendapat : “Siapa saja yang tidak mendapatkan tempat dalam shaff untuk ia tempati, maka ia berdiri di samping kanan Imam apabila hal itu memungkinkan, karena daerah itu adalah tempat orang yang sendiri, dan jika tidak mungkin berdiri disamping kanan imam maka (boleh) baginya memberitahukan  seorang di shaff (depannya) untuk berdiri bershaff bersamanya, dan ia (boleh) memberitahukan dengan ucapan, atau berdehem, atau isyarat dan (seyogyanya) orang yang diberitahu mengikuti orang yang memberitahukannya, dan zhahir (hukumnya) adalah wajib, sebab hal ini termasuk ke dalam urusan “perkara yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya.”  Dan makruh memberitahukannya dengan cara ditarik secara Nash (dalam madzhab) dan Imam Ahmad dan Ishaq menganggapnya buruk karena di dalamnya ada perbuatan yang dilakukan dengan tanpa izinnya.”

Ibnu ‘Aqil Al-Hanbaliy berkata: “Ash-hab kami membolehkan menarik seorng bersamanya untuk bershaff, dan Ibnu Qudamah membenarkan hal itu, karena keadaan yang mendorong untuk melakukannya, maka hukumnya boleh, sama seperti sujud di atas punggungnya atau kakinya dalam keadaan ramai, dan ini bukanlah bentuk perlakuan tanpa izin namun hanya sebagai pemberitahuan agar ia keluar dari shaff untuk bersama dirinya, maka hal ini berlaku seperti permintaannya shalat bersamanya, dan telah datang hadits dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Dan lenturkanlah tangan-tangan saudara kalian”. Namun jika orang yang ditarik tidak mau keluar dari shaff untuk bersamanya, maka ia tidak boleh memaksanya dan (hendaklah) ia shalat sendiri.” [Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 27/185]

Nampaknya Madzhab Al-Hanafiyyah dan Asy-Syafi’iyyah memandang boleh menarik makmum dari shaffnya, Al-Malikiyyah dan Al-Hanabilah memandangnya Makruh, dan terdapat satu pendapat dari Al-Hanabilah yang sejalan dengan pendapat boleh menarik.

Imam Asy-Syaukaniy rahimahullah juga menceritakan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini, namun beliau tidak menjelaskan pendapat manakah yang lebih kuat menurut beliau, walau pun di akhir penjelasan beliau mendatangkan dalil pendapat yang membolehkan menarik orang dari shaffnya dan menjelaskan bahwa status dari hadits-hadits tersebut lemah. [Lihat Nailul Authar 3/258-259/Cet. Maktabah Al-Taufiqiyyah]

Al-Amir Ash-Shan’aniy Rahimahullah dalam Subulussalam (2/33) juga tidak menyebutkan pendapat yang kuat dari para Fuqaha’ dalam masalah ini, Beliau hanya menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan perintah untuk menarik orang dari shaffnya yang kemudian beliau hukumi Dla’if.

Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah berpendapat tidak boleh menarik makmum dari shaffnya, dan hadits yang menjelaskan bolehnya menarik adalah hadits yang Dla’if yang tidak dapat dijadikan sebagai Hujjah. (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il 15/191)

Komite Fatwa Saudi Arabia (Lajnah Da’imah) fatwa No. 6365 memfatwakan tidak boleh menarik makmum dari shaffnya, namun dia seyogyanya menunggu sampai ada orang lain datang shalat sehingga bershaff bersamanya, jika tidak maka dia bershaff di samping kanan imam. (Fatawa Al-Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’. 8/7)

Pendapat yang membolehkan menarik makmum dari shaffnya sebatas pemahaman yang penulis sampai padanya adalah pendapat yang lebih berdasar, walau pun hadits yang menjadi dasar pijaknya dinilai lemah namun itu lebih didahulukan dari pada sekedar pendapat namun tanpa di dasari oleh hadits, dan di sini sangat perlu diingat, bahwa hukum menarik makmum dari shaffnya hanya sampai ke Makruh, bukan sampai kepada Haram di sisi ulama Madzhab yang empat walau pun tentu ada dari kalangan ulama kontemporer yang mengharamkannya, akan tetapi – seperti diketahui – bahwa mengharamkan tentu butuh dalil yang pasti untuk menegakkannya. Wallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسلميا كثيرا

Bekasi 3 Oktober 2017

Musa Abu ‘Affaf