Pembunuhan Tak Terencana Apakah Ada Qishash Atasnya?

Qatlul Khatha’ atau pembunuhan tak terencana, hukum dan keadilannya tidak luput dari cakupan Syariat Islam, ini sebagai bukti betapa sempurnanya Syariat Islam, dan betapa Islam sangat menjaga kehormatan jiwa manusia.

Qatlul Khatha’ menurut Ibnu Qudamah Rahimahullah ialah;

أن لا يقصد إصابته فيصيبه فيقتله

“Seorang tidak bermaksud menjadikannya sebagai sasaran, (tapi akhirnya) ia terkena sehingga menjadikannya terbunuh”

Juga disebutkan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Qatlul Khatha’ ialah

 مَا وَقَعَ دُونَ قَصْدِ الْفِعْل وَالشَّخْصِ أَوْ دُونَ قَصْدِ أَحَدِهِمَا

“Pembunuhan tanpa maksud melakukannya dan (tanpa maksud ditujukan ke) seorang tertentu, atau tanpa ada maksud dari salah satu dari keduanya (perbuatan dan sasaran orang).

Dapat disimpulkan dari kedua pengertian di atas, bahwa pembunuhan tak terencana memiliki dua point penentu sehingga pembunuhan tersebut sah dikategorikan sebagai pembunuhan tak terencana atau pembunuhan yang tersalah;

Pertama : Tindakan yang tidak pernah direncanakan, dan kedua : Sasaran bunuh yang tidak pernah sama sekali direncanakan atau ditentukan sebagai tujuan bunuh.

Seperti misalnya seorang menembak hewan buruan atau sasaran tembak tertentu lainnya, namun yang kena adalah orang lain dan menjadikannya terbunuh.

Contoh kekinian lainnya adalah kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan karena kelalaian sopir seperti mengantuk namun memaksakan diri mengemudi, atau karena menyalahi aturan resmi lalu lintas setempat, seperti mengendarakan di atas kecepatan yang telah ditentukan sehingga merenggut nyawa orang lain.

Terkait persoalan kematian karena kecelakaan lalu lintas, terdapat beberapa rincian hukum secara Fiqh di dalamnya dan bisa ditelaah dalam tulisan yang berjudul Ahkamu Hawadits As-Sayyarat karya Syaikh Saleh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah.

Lalu apa yang harus ditanggung oleh orang yang melakukan Qatlul Khatha’ ?

Pelaku Qatlul Khatha’ wajib menunaikan dua perkara sebagai Kaffarah (penggugur) kesalahan, dan dalam hal ini disamakan apakah yang terbunuh itu adalah Muslim ataukah Kafir (Kafir Dzimmy, Musta’man dan Mu’ahad):

Pertama: Memerdekakan budak yang beriman, jika budak yang dimerdekakan kafir tidak beriman, maka tidak sah. Dan Ulama berbeda pendapat apabila budak yang akan dimerdekakan tersebut masih kecil, apakah sah menjadi kaffarah atau tidak? Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya menuturkan bahwa mayoritas Ulama berpendapat; “kapan saja budak itu menjadi muslim maka sah dimerdekakan sebagai kaffarah, terlepas apakah dia dewasa atau anak-anak.”

Kedua : Membayar Diyat atau denda yang harus diserahkan kepada keluarga korban. Pembayaran Diyat ditanggung oleh ‘Aqilah yaitu kerabat dari keluarga bapaknya si pelaku. Jumlah Diyat ini sebanyak Akhmas atau seratus onta. Kriteria jenis dan usia onta yang sah menjadi Kaffarah adalah persoalan yang diperselisihkan oleh Ulama.

Kaffarah untuk Qatlul Khatha’ atau pembunuhan tak terencana ini telah disebutkan dengan lugas dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا .

Artinya: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang budak sahaya yang beriman serta membayar Diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar Diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai pertaubatan dari Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS: An-Nisaa’ – 92]

Demikian ulasan sangat ringkas seputar Qaltul Khatha’ atau pembunuhan tak terencana dalam Islam, dan semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam bertindak dan bersikap dan selalu waspada terhadap semua tindakan yang akan kita lakukan, sehingga tidak menjadi penyebab langsung atas melayangnya nyawa manusia.

Abu ‘Affaf