Pelajaran Penting Dari Kepergian Musa dari Negeri Fir’aun

Pelajaran Penting Dari Kepergian Musa dari Negeri Fir’aun

Setelah lama Nabi Musa ‘Alaihis Salam tinggal di negeri Mesir dan di sana beliau menegakkan hujjah-hujjah Allah dan dalil-dalil-Nya terhadap Fir’aun dan para pengikutnya, namun mereka sombong dan membantah dakwah nabi Musa , sehingga tidak ada yang tersisa lagi untuk mereka selain menunggu siksa dan balasan dari Allah atas sikap mereka. [1]

Maka dari itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk segera pergi meninggalkan Mesir bersama hamba-hamba Allah yang beriman, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

Artinya: “Dan kami telah wahyukan kepada Musa agar pergi bersama hamba-hambaku sesungguhnya (kepergian kalian) diikuti (oleh Fir’aun dan pasukannya.) (Qs: Al-Syu’ara 52)

Allah juga menceritakan perintah yang dilimpahkan kepada Musa untuk meninggalkan mesir dalam Surat Thaha Ayat 77, Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى

Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa agar pergi (pada waktu malam) bersama hamba-hambaku maka buatkanlah jalan yang kering untuk mereka di laut, janganlah kamu (wahai Musa) takut tersusul dan jangan kamu (wahai Musa) khawatir.”

Kepergian Nabi Musa bersama Banu Isra’il telah diketahui oleh Fir’aun, dan akhirnya fir’aun membuat perintah untuk menyusul mereka agar mereka kembali dan tidak keluar dari Mesir. Dari itulah Allah berfriman di akhir Ayat dengan firmanNya:

إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kalian diikuti mereka” (Qs: Asy-Syu’ara 52)

Dan ini sebagai petunjuk yang jelas bahwa Fir’aun bukan Ulil Amri Syar’i seperti yang disebutkan oleh orang-orang Jahil yang berbicara tanpa Ilmu.

Seandainya Fir’aun adalah Ulil Amri maka tidaklah pantas Nabi Musa keluar dan menentang kekuasaan Fir’aun, karena sejatinya kepergian Nabi Musa bersama Banu Isra’il dari wialayah kekuasaan Fir’aun tidak lain adalah satu sikap penentangan dan perlawanan terhadapnya. Maka berpikirlah.

Fir’aun dengan sombong menganggap kekuasaannya yang besar dan hebat pasti mampu mencegah kelompok kecil yang tengah dipimpin Nabi Musa itu, dan Al-Qur’an memang telah membenarkan, bahwa jumlah kelompok itu memang sedikit, Allah berfirman :

  إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya mereka (Banu Isra’il) adalah kelompok yang sedikit” (Qs: Al-Syu’ara’ 54.)

Jumlah sedikit tentunya bukan lawan sebanding dengan kekuatan yang dimiliki Fir’aun, walau pun kadang kemenangan dapat terwujud dengan jumlah sedikit, akan tetapi Allah mengajarkan kita untuk realistis terlebih dahulu dalam semua urusan , jika tidak demikian lalu apa makna perintah Allah kepada kita untuk mempersiapkan kekuatan !? (baca Qs: At-Anfal 60 ).

Dan inilah alasan yang paling dekat untuk menjawab perkataan sebagian orang yang semangatnya lebih banyak ketimbang Ilmunya, ia menyangka : “bahwa Nabi Musa tidak memberontak atau mengkudeta Fir’aun karena dia Ulil Amri Syar’i !!”,

Kami katakan, Nabi Musa tidak mengajak Banu Isra’il melakukan kudeta terhadap Fir’aun karena jumlah mereka sedikit, tidak sebanding dengan kekuatan Fir’aun, bukan karena Fir’aun adalah Ulil Amri yang Syar’i. Dan Allah telah memberikan mereka jalan lain yang lebih baik demi kejayaan dan kemenangan, yaitu hijrah dari Mesir.

Inilah Manhaj yang benar yang harus ditempuh ketika kaum beriman yang tidak memiliki kemampuan yang mencukupi untuk menurunkan sebuah rezim kafir dan mereka juga tidak dapat dengan leluasa menegakkan Agamanya di negeri tersebut dengan berhijrah.

Dan Syari’at ini juga yang diperitahkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka berada di Makkah dalam keadaan tidak aman dan leluasa agar berhijrah, walau pun Makkah adalah tempat yang paling berkah dan suci.

Allah berfirman :

  إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka, (kepada mereka) malaikat bertanya: “dalam keadaan bagaimana kamu ini?” mereka menjawab : “adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (makkah)” para malaikat berkata: “bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu,” orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs: An-Nisa 97)

Imam Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan Ayat ini berkata:

هذه الآية الكريمة عامة في كل من أقام بين ظهراني المشركين وهو قادر على الهجرة، وليس متمكنا من إقامة الدين، فهو ظالم لنفسه مرتكب حراما بالإجماع، وبنص هذه الآية

“Ayat yang Mulia ini (maknanya) meliputi pada setiap orang yang berdomisili di antara orang-orang Musyrikun dan dia (dalam) keadaan mampu untuk hijrah, dan dia tidak leluasa menegakkan Agama, maka dia zhalim terhadap dirinya sendiri, dia melakukan yang haram menurut Ijma’ Ulama dan dengan Nash dari Ayat ini.”[2]

konsep hijrah atau berpindah tempat juga berlaku untuk siapa saja yang mengalami kesulitan dalam menjalankan ajaran Sunnah dan lemah untuk merubah keadaan di lingkungannya sehingga dialah yang terancam dirubah oleh lingkungan, maka hijrah adalah solusinya.

Abu ‘Affaf Musa Mulyadi BA.


[1] Tafsir Imam Ibnu Katsir 6/142

[2] Tafsir Imam Ibnu Katsir 2/389