Orangtua Lupa, Anak Pun Durhaka

Orangtua Lupa, Anak Pun Durhaka

Jika ingin bepergian kunci kendaraan terlupa dimana meletakkannya, tentu impian plesiran yang diidamkan gagal terlaksana. Bila ingin berolahraga namun alat olahraga yang dibutuhkan rusak adanya, sudah barang tentu usaha menjaga kesehatan dan menurunkan berat badan tak sampai kiranya. Tak sedikit para orangtua yang ingin masuk surga, namun kadang lupa bahwa ada jalan menuju surga yang telah siap ia gunakan berada di rumahnya.

Lupa, kadang menjadi alasan remeh yang sangat serius, suami kadang lupa tanggal pernikahannya, istri tersilap dimana meletakkan pisau dapur yang ternyata sedang dimainkan oleh putri kecilnya pada episode permainan masak-masakan, ayah kadang lupa kalau tenggat waktu membayar listrik telah jatuh tempo, ibu luput untuk menyetrika seragam sekolah yang akan digunakan oleh anaknya berangkat pagi itu. Dan puncaknya ialah seringkali si anak lupa kalau ia baru saja membuat hati dan perasaan orangtuanya terluka. Ini adalah perkara keseharian yang bisa terjadi pada siapa saja.

Banyak hal bisa terjadi gegara lupa, termasuk durhakanya seorang anak pada orangtua. Tak sedikit durhaka itu terjadi karena luputnya perhatian orangtua akan pendidikan agama yang baik dengan cara mendidik yang terbaik bagi anak-anaknya. Mengapa harus mengajarkan yang baik dan melakukan pengajaran yang terbaik? Sebab cara menentukan segalanya, dengan cara sebuah teori bisa kandas tak tersisa kala cara tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Sehingga betul apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud, “Dan kebanyakan anak, kerusakan yang terjadi pada mereka disebabkan oleh orangtuanya, karena ketidakperhatian mereka terhadap anak-anaknya. Mereka tidak mengajarkan anak-anaknya tentang kewajiban-kewajiban dalam agama dan sunnah-sunnahnya. Sehingga merekapun menyianyiakan anaknya ketika masih kecil, lalu anak itu tidak mampu memberi manfaat bagi dirinya sendiri, tidak pula manfaat atas orangtuanya saat tumbuh dewasa.”

Jangan salahkan anak bila kelak saat kita tua nanti ia tak mengingat kita dan bagaimana keadaan kita saat itu. Bukan karena ia sengaja, karena memang sejatinya mereka lupa. Sebagaimana saat sibuk kita lupa untuk mengingatkan mereka tentang momen-momen kebersamaan itu. Karena kita tidak pernah membersamainya saat suka dan duka, kita tak pernah mengajarkannya sekalipun sekedar untuk melafadzkan Al Fatihah.

Tepati, nikmati, dan resapi setiap momen bersama anak-anak kita. Jangan biarkan dunia menggusur semua kebahagiaan sejati dalam hidup kita. Bukankah anak-anak itu adalah anak-anak yang dengannya berharap amal jariah terus mengalir hingga kelak kita tiada? Jika demikian mengapa harus ada lupa untuk keluarga. Lupa sebenar-benarnya lupa untuk mendidik mereka sebaik-baiknya, terlebih lagi bagi seorang ayah. Kemana hilangnya cita-cita luhur untuk menjadikan keluarga sakinah mawaddah saat diikrarkan dihadapan mertua dahulu? Hendak lari mencari dunia seperti apa jika mencecapi rasanya hanya begitu-begitu saja?

Jika demikian sibuknya kita untuk lupa, maka jangan salahkan bila akhirnya anak menjadi durhaka, sebab dikatakan bahwa “Sesungguhnya anakmu itu ibarat salah satu anak panah dari keranjang anak panahmu.” (Kanzul Ummal No. 45915)

Maksudnya ialah, anak-anak adalah hasil cetakan dari orangtuanya, bukan hanya sebatas fisik saja ia mirip. Akan tetapi, meliputi perbuatan, sikap, bahkan hingga keserupaan pola pikir. Maka tak salah dan jangan disalahkan bila si anak mengungkit apa yang telah ia alami dahulu saat dalam naungan pendidikan usia emasnya. Jangan salahkan mengapa anak begitu fasih mencela, usah marah kala si anak menjadi pembantah serba bisa, namun salahkan dan marahi diri kita mula-mula tentang adakah hal terlupa saat masa pendidikan mereka dahulu?

Seorang pendidik bernama Sa’ad Al Faqi didalam bukunya, Akhta’ Syaiah fi Tarbiyatil Awlaad wa Hulul Ilmiyah membawakan sebuah contoh tentang seorang pencuri yang akan dipotong tangannya. Begitu tiba waktu eksekusinya, maka si pencuri mengatakan, “Sebelum kalian memotong tanganku, terlebih dahulu potonglah lidah ibuku, karena saat pertama kali aku mencuri sebutir telur milik tetangga, ibuku tidak mencelaku dan tidak memintaku untuk mengembalikan telur itu, bahkan ia menggeram dan berkata ‘Segala puji bagi Allah, anakku telah menjadi seorang lelaki’. Andaikata ibuku tidak menggeram dan mengatakan hal tadi, tentu aku tidak menjadi pencuri di tengah-tengah masyarakat seperti saat ini.”

Lihatlah para ayah dan ibu, betapa si anak benar-benar menjadi apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Jadi sekali lagi, salahkan diri anda tatkala anak gadis sudah pandai merias dirinya sebelum berangkat menuju pusat perbelanjaan dan kita pun memuji perbuatannya. Tapi beranikah kita memujinya saat ia pulang dalam keadaan hamil tanpa ada ikatan pernikahan dengan siapapun? Koreksi bagaimana cara mendidik kita, ingat baik-baik dan pastikan bahwa tidak ada yang terluput untuk menanamkan benih kebaikan pada anak-anak kita. Sebelum kita menyesal telah mencetak anak durhaka disebabkan oleh lupanya kita.

Sungguh hebat pendidikan yang dilaksanakan di jaman para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipaparkan oleh Usamah bin Zaid. Pada masa Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, harga satu pohon kurma mencapai seribu dirham. Usamah lalu menebang sebuah pohon kurma hanya untuk mengeluarkan lemak kurma untuk diberikan kepada ibunya. Orang-orang pun heran dan berkata padanya. “Kenapa engkau melakukan itu, sementara engkau sendiri tahu harga satu pohon kurma mencapai seribu dirham?” ia menjawab: “Ibuku memintanya kepadaku. Tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu, melainkan aku pasti memberikan permintaan itu kepadanya.” (Ibn Sa’ad dalam Thabaqat al Kubra)

Tentu kita masing-masing bisa menjawab dengan baik bahwa apa yang dilakukan Usamah bin Zaid terhadap ibunya tak terlepas dari adanya curahan perhatian saat ia di masa kanak-kanak. Ada doa, harap, dan tauladan sebaik-baiknya sehingga tidak ada alasan bagi si anak ketika menjadi dewasa untuk menolak apa-apa yang orangtuanya minta.

Mari, mulai saat ini. Bagi para orangtua yang merindukan surga, para ayah sebagai pengayuh bahtera, para ibu sebagai penjaga keseimbangannya. Ingat dan perhatikan dengan baik apa yang diajarkan kepada anak. Jangan sampai tabrak lari dalam mendidik mereka. Apa yang kita lakukan maka itu yang kelak akan kita dapatkan. Terlebih kita tak pernah paham dan tahu, kapan masa lapang dan sempit itu saling silih berganti.

Oleh: Abu Haniina Rizki