Om Telolet Om Dalam Timbangan

Om Telolet Om Dalam Timbangan

Kalau saja “Om Telolet Om” adalah perkara terpuji dalam Islam maka orang-orang fasiq dan bahkan kafir tidak akan menyambutnya dengan gembira.

Trend ini adalah bagian dari perbuatan kejahilan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang kita dari berbuat jahil, beliau bersabda:

ولا يجهل

Artinya: “Dan janganlah dia berbuat kejahilan” (HR: Bukhari, Muslim dan lainnya)

Larangan ini sebenarnya disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terkait dengan adab-adab untuk orang yang berpuasa, namun walau pun demikian makna pelarangan tersebut tidak menjadi terbatas hanya untuk orang yang berpuasa saja, namun juga berlaku untuk keadaan diluar puasa, Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

ولا يجهل أي لا يفعل شيئا من افعال أهل الجهل كالصياح والسفه ونحو ذلك ولسعيد بن منصور من طريق سهيل بن أبي صالح عن أبيه فلا يرفث ولا يجادل قال القرطبي لا يفهم من هذا أن غير الصوم يباح فيه ما ذكر وإنما المراد أن المنع من ذلك يتاكد بالصوم

“Dan janganlah ia berbuat jahil, yakni maksudnya jangan dia melakukan perbuatan apa pun yang tergolong dari perbuatan-perbuatan pelaku kejahilan seperti berteriak dan perbuatan yang bodoh dan semisalnya. – dan satu riwayat milik Sa’id bin Manshur dari jalur Suhail bin Abi Shalih dari Bapaknya (disebutkan dengan redaksi) “janganlah dia berbuat Rafats dan Janganlah dia berdebat”.-  Al-Qurthuby berkata: “Dari ucapan ini tidaklah dipahami bahwa selain keadaan puasa maka akan dibolehkan padanya apa apa yang telah disebutkan (dari larangan-larangan tersebut) dan sebenarnya yang dimaksudkan dari larangan tersebut hanyalah sebagai penguatan larangan terhadap yang berpuasa.”[1]

Tidak diragukan, bahwa menunggu bus lewat kemudian berteriak-teriak kepada supirnya agar membunyikan klaksonnya adalah perbuatan yang jahil, dan menempatkan sesuatu bukan pada pungsi sebenarnya, dan bahkan bisa membuat pengguna jalan atau orang yang berada disekitar lokasi bus terkejut dengan suara klakson telolet tersebut.

Jika dikatakan bahwa ini sekedar selingan dan membuat supir menjadi senang dan terhibur, dan kita ketahui bahwa membuat orang lain senang adalah hal yang baik dalam Islam..!!

Jawabnya adalah, kita sepakat dengan anjuran membuat orang lain senang dan itu adalah kebenaran, namun alat atau perbuatan yang membuat orang lain senang juga telah diatur dalam Syari’at, sehingga tidak semua perbuatan menjadi sah dan boleh dilakukan untuk menyenangkan orang lain, namun harus dikaitkan dengan hukum dasar dari perbuatan tersebut, kalaulah tidak demikian, maka tentu mencium pacar yang sudah jelas bukan Mahram juga dapat membuat si lelaki atau pun perempuan menjadi hapy, namun apakah akan lantas menjadi boleh dengan dalih membuat senang !!?. Dan adapun hal yang dibenarkan dalam hal ini hanyalah perbuatan yang Mubah dan Halal, bukan perbuatan yang sifatnya telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

—————————————————————————

[1] Fathul Bary Bisyarhi Shahihil Bukhary. ( 5/213) Cet.Dar Tahyyibah