Menuai Damai Dari Fatwa Ulama Sepuh

Menuai Damai Dari Fatwa Ulama Sepuh

Kasus pelecehan al-Maidah 51 terus bergulir, semakin hari kian ramai dan berhasil menjadi topik hangat di berbagai majelis, hingga akhirnya muncullah kesepakatan dari sebagian kaum muslimin untuk melakukan aksi bela al-Qur’an yang hendak dihelat nanti pada tanggal empat November.

Namun di sini terjadi perbedaan pendapat dalam menyikapi aksi tersebut, sebab aksi tersebut bentuknya tidak lain adalah dengan long march atau demonstrasi, dimana persoalan demonstarsi ini sendiri sudah bukanlah persoalan baru dalam khazanah lautan ilmu fikih islami, maka suguhan fatwa dari kedua belah pihak pun tidak terelakkan, masing-masing mencoba mempertahankan pendapatnya dengan menyertakan fatwa-fatwa Ulama.

Adalah seorang Ulama sepuh karismatik dan ahli hadits terkemuka saat ini yang masih hidup dan berdomisili di kota Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-Badr Hafizhahullah mengeluarkan fatwa terkait hal tersebut setelah pertanyaan sampai di majelis beliau di Masjid Nabawy, untuk lebih jelasnya berikut isi tanya jawab tersebut :

يقول السائل : إن رئيس مدينة جاكرتا يستهزئ بالقرأن وعلماء المسلمين وهو نصراني، وفي الرابع من نوفمبر سوف تقام مظاهرة لطلب محاكمته؛ فهل يجوز لنا الخروج فيها؛علما بأنه كافر لا بيعة له والمظاهرة يراعى فيها الأدب وعدم إفساد المرافق العامة ؟

فأجاب الشيخ حفظه الله : المظاهرات والمشاركة فيها غير صحيح, ولكنهم يعملون ما يمكنهم من غير المظاهرات مثل: يكتبون أو يذهب أناس لمراجعة المسؤول الأكبر الذي فوقه. وأما استعمال مثل المظاهرات التي هي فوضى العصر فما جاءت به المسلمين إلا من الكفار

Artinya: Seorang penanya bertanya: “Sesungguhnya gubernur kota Jakarta memperolok-olok al-Qur’an dan ulama kaum muslimin walhal dia adalah seorang nasrani, dan pada tanggal 4 November ini akan dilakukan demonstrasi untuk menghakiminya, maka apakah boleh bagi kami keluar di dalamnya, sebagai permakluman bahwa dia adalah kafir yang tiada Baiat kepadanya, dan demonstrasi tersebut nanti akan diperhatikan di dalamnya adab dan tidak ada perusakan fasilitas umum?”

Maka Syaikh Hafizhahullah menjawab : “Demonstrasi dan ikut serta di dalamnya tidaklah benar, dan akan tetapi mereka hendaknya melakukan apa saja yang memungkin untuk mereka selain dari demonstrasi, seperti menulis (surat) atau ada orang-orang yang pergi mengklarifikasi penanggung jawab yang paling tinggi yang ada di atasnya. Dan adapun menggunakan cara seperti demonstrasi yang adalah kekacauan di era ini maka tidaklah itu datang kepada kaum muslimin kecuali berasal dai orang-orang kafir.” [1]

Fatwa ini bertolak belakang dengan fatwa ulama lainnya, dan mungkin akan menjadi sasaran buruk sangka oleh sebagian orang yang sudah terlanjur mendukung penuh aksi demo tersebut, maka tentu hal itu bukanlah satu hal yang mengejutkan.

Namun apabila jauh direnungkan kembali, akan kita dapatkan ternyata aksi demonstrasi memang sangat beresiko memicu kekacauan dan huru hara walau pun pada awalnya kekacauan tersebut telah diantisipasi sedemikian rupa oleh para pelakunya, sebab perkumpulan masa selalu bukanlah perkara yang mudah dikontrol dan dikendalikan. Dan sebagai bukti nyata yang tak dapat dielakkan lagi atas hal itu adalah adanya persiapan keamanan yang selalu dilakukan dengan begitu ketat dan disiplin oleh aparat negara dalam setiap kali menghadapi demo, ini artinya resiko terjadinya letupan kekacauan benar-benar telah ada didepan mata.

Barangkali hal inilah yang mendorong kuat lahirnya fatwa untuk tidak melakukan demonstrasi disamping sebab lainnya yaitu mengikuti tatacara orang kafir dalam berinteraksi dengan pemimpinnya. Dan tulisan ini tidak bertujuan sama sekali memojokkan saudara-saudara kita yang akan turun berdemo nanti, namun hanya sebagai nasehat kecintaan, sebab kami tidak rela ada setitik darah pun mengalir dari tubuh saudara-saudara kami. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

—————————-

[1] Disadur dari audio rekaman fatwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad Hafizhahullah, dan kemudian ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman bin Musa Yordania.