Mengusap Telinga Dengan Air Baru

Mengusap Telinga Dengan Air Baru

Mengusap telinga adalah bagian dari sunnah-sunnah dalam berwudlu’ dan hal ini telah disepakati oleh para Ulama dan bahkan dalam salah satu riwayatnya, Imam Ahmad mengatakannya wajib. Hal ini berdasarkan dengan riwayat dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma :

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم مسح برأسه وأذنيه ظاهرهما وباطنهما

“Sesugguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap kepalanya dan kedua telinganya, punggung dan perut keduanya.” [Hadits riwayat Tirmidzi dan beliau menshahihkannya]

Perbedaan pendapat terjadi dalam masalah apakah mengusap telinga dengan cara mengambil air baru ataukah cukup dengan air bekas yang digunakan untuk mengusap kepala ?

Jumhur Ulama berpendapat disunnahkan mengambil air baru untuk mengusap telinga , disebutkan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah :

اختلف الفقهاء في تجديد ماء مسح الأذنين فيرى جمهور الفقهاء ( المالكية ، والشافعية ، والحنابلة ) أنه يسن تجديد الماء لهما

“Para Fuqaha’ berbeda pendapat dalam menentukan air untuk mengusap kedua telinga, Maka mayoritas Fuqaha’ (Al-Malikiyyah, Asy-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah) memandang bahwa disunnahkan memperbarui air untuk (mengusap) keduanya.” (47/ 365)

Dalil yang dinilai menjadi pijakan dasar pendapat Jumhur ulama dalam hal ini adalah sebuah hadits :

عن عبد الله بن زيد يذكر : أنه رأى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يتوضأ فأخذ لأذنيه ماء خلاف الماء الذى أخذ لرأسه. وهذا إسناد صحيح

Dari Abdullah bin Zaid beliau menyebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwudlu’ maka beliau (Nabi) mengambil air – untuk kedua telinganya – selain air yang beliau ambil untuk kepala.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy rahimahullah dalam Sunanul Kubra (1/65) dan beliau mengatakan : “Dan ini adalah Sanad yang Shahih”.

Akan tetapi Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menilai – seperti yang beliau sebutkan dalam Bulughul Maram – riwayat ini Syaadz sedangkan yang Mahfuzh adalah riwayat yang menyebutkan mengusap kepala tanpa ada redaksi dua telinga, dan Al-Baihaqiy sendiri dalam Sunanul Kubra setelah meriwayatkan hadits di atas mengakui bahwa redaksi hadits yang berbunyi mengusap kepala tanpa ada redaksi kedua telinga lebih Shahih”.

Walau pun demikian namun Al-Amir Ash-Shan’aniy rahimahullah berkata – menguatkan sahnya pendapat jumhur -dalam Subulussalam (1/49) berkata :

وحديث البيهقي هذا هو دليل أحمد والشافعي أنه يؤخذ للأذنين ماء جديد وهو دليل ظاهر

“Dan hadits ini riwayat Al-Baihaqiy ini dialah dalil Ahmad dan Asy-Syafi’i bahwa dalam mengusap telinga diambil air baru untuk kedua telinga dan dia adalah dalil yang jelas.”

Mengambil air baru untuk mengusap kedua telinga adalah amalan yang dilakukan oleh Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhuma seperti yang diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwathha’ (1/85) :

أن عبد الله بن عمر كان يأخذ الماء بأصبعيه لأذنيه

“Sesungghnya Abdullah bin Umar mengambil air dengan jari-jari kedua tangannya untuk kedua telinga.”

Sedangkan Madzhab Al-Hanafiyyah tidak memandang dianjurkannya mengusap telinga dengan air baru, dan pedapat ini dikuatkan kemudian oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata :

ولم يثبت عنه أنه أخَذ لهما ماءً جديدًا وإنما صحَّ ذلك عن ابنِ عمر

“Dan tidak ada riwayat darinya (Nabi) bahwa beliau mengambil air baru untuk kedua telinga, namun yang benar dari hal itu hanyalah (perbuatan) Ibnu Umar.” (Zadul Ma’ad 1/194)

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah, beliau berkata :

الصواب: أنه لا يسن أن يأخذ ماء جديدا للأذنين

“Yang benar bahwa sesungguhnya tidak disunnahkan mengambil air baru untuk mengusap kedua telinga.” (Asy-Syarhul Mumti’ 1/178)

Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah dalam Adl-Adla’ifah  (2/424)  menghukumi hadits yang dijadikan oleh Jumhur sebagai hadits yang lemah, dan pada kesimpulannya beliau mengatakan :

وخلاصة القول : أنه لا يوجد في السنة ما يوجب أخذ ماء جديد للأذنين فيمسحهما بماء الرأس ، كما يجوز أن يمسح الرأس بماء يديه الباقي عليهما بعد غسلهما

“Dan ringkasan pendapat dalam hal ini bahwa tidak didapatkan dalam Assunnah alasan yang mengharuskan mengambil air baru untuk kedua telinga, dari itu maka hendaklah ia mengusap keduanya dengan air (yang digunakan di) kepala, sebagaimana boleh mengusap kepala dengan air yang tersisa di kedua tangannya setelah ia mencuci kedua tangannya.”

Akan tetapi amalan Ibnu Umar menjelaskan seolah hal itu memang ada asalnya, sebagaimana diketahui beliau adalah salah seorang Shahabat yang paling kuat mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan agak jauh dalam hal ini dikatakan bahwa Ibnu Umar tidak mengetahui cara mengusap telinga dalam Wudlu’. Wallahu A’lam.

Syaikh Abdullah Al-Fauzan juga menguatkan pendapat ini – mengusap telinga dengan bekas air usapan kepala -seperti yang beliau jelaskan dalam Minhatul ‘Allam (1/158)

Demikianlah pendapat para Ulama seputar mengambil air baru untuk mengusap kedua telinga, Dan Abdullah bin Umar yang diriwayatkan melakukan cara ini kemudian disepakati oleh Jumhur Ulama adalah pendapat yang membuat hati lebih tentram untuk menerimanya sebagai pendapat yang Mu’tabarWallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا 

Bekasi 11 Shafar 1439 H. / 31 Oktober 2017 M.

Musa Abu ‘Affaf.