Keyakinan Mayit Tau Dan Dengar Orang Yang Menziarahinya

Keyakinan Mayit Tau Dan Dengar Orang Yang Menziarahinya

Orang mati mengetahui orang yang dia kenal dahulu di dunia bila dia datang menziarahinya dan akan menjawab salamya bila dia menyampaikan salam. Anggapan ini sebenarnya tidak semua orang menyadarinya akan tetapi yang terpenting dalam bahasan kali ini adalah mengenal hadits dan pendapat para ulama terhadap keyakinan tersebut.

Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda :

ما من عبد يمر بقبر رجل كان يعرفه في الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام

“Tiadalah seorang melintas di kubur seorang yang dulu dia mengenalnya di dunia lalu ia mengucapkan salam atasnya, kecuali ia (si mayit dalam kubur tersebut) mengenalnya dan menjawab salam atasnya.”

Hadits ini datang melalui dua jalur periwayatan :

Pertama melalui Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu yang dikeluarkan oleh : Abu Bakr Asy-Syafi’i, Ibnu Jami’, Abul ‘Abbas Al-Asham, Al-Khathib, Ibnu ‘Asakir, Ad-Dailamiy, dan Adz-Dzahabiy, dengan rantai periwayatan yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (Marfu’), Namun riwayat dengan versi ini dihukumi Dla’if oleh Al-‘Allamah Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah. (Silsilatul Ahadits Adl-Dla’ifah Wal Maudlu’ah/ Hadits No. 4493.)

Kedua melalui Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma – dan riwayat ini terhitung sebagai Syahid – yang dikeluarkan oleh : Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar (1/185).

Dan versi ini juga dinilai Munkar (Dla’if) oleh Al-‘Allamah Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah. Dan beliau memberikan kritik terhadap Ulama yang menghukuminya Shahih. Penjelasan lebih lengkapnya dapat ditelaah dalam kitab Silsilatul Ahadits Adl-Dla’ifah Wal Maudlu’ah/ Hadits No. 4493.

Para Ulama Yang Menilai Shahih

Versi riwayat Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhu dinilai Shahih oleh beberapa Ulama besar, di antaranya adalah : Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Hafizh Abdul Haqq Al-Isybiliy, Imam Al-Qurthubiy dalam Al-Mufhim, Ibnu Taimiyyah Dalam Majmu’ Fatawa, Al-Hafizh Al-‘Iraqiy dalam Takhrij Ihyau ‘Ulumuddin, Az-Zabidiy dalam Syarh Al-Ihya’, dan As-Suyuthiy dalam Al-Hawiy, Al-‘Azhim Abadiy dalam ‘Aunul Ma’bud, dan Asy-Syaukaniy dalam Nailul Authar. [1]

Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam fatwanya menjelaskan alasan hadits ini dishahihkan oleh para ulama, beliau berkata:

وهذا إسناد صحيح ، رجاله ثقات معروفون ، إلا شيخ ابن عبد البر ، وفاطمة بنت الريان ، لم أقف لهما على ترجمة ، غير أن توثيقهما مستفاد من تصحيح ابن عبد البر نفسه لهذا الحديث ، إذ لا يمكن أن يصحح حديثا وهو لا يعرف من حدثه بها بالتوثيق ، وما زال علماء الحديث يوثقون الرواة إذا رأوا من يصحح الأسانيد التي ورد ذكرهم فيها . كما نقل ابن تيمية عن عبد الله بن المبارك ثبوت هذا الحديث ، فقال : ” قال ابن المبارك : ثبت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم ” انتهى

“Ini adalah Sanad yang Shahih, para periwayatnya semua Tsiqah dan Ma’ruf (dikenal), kecuali Syaikhnya Ibnu Abdil Barr, dan Fathimah binti Ar-Rayyan, kedua periwayat ini tidak diketahui, akan tetapi untuk menetapkan bahwa keduanya Tsiqah didapatkan dari penilaian hukum shahih ibnu Abdil Barr terhadap hadits ini, sebab tidak mungkin beliau menshahihkan suatu hadits sedangkan beliau tidak mengetahui Tsiqahnya orang yang meriwayatkan hadits tersebut kepada dirinya, Dan para Ulama Hadits senantiasa menghukumi Tsiqah para periwayat hadits apabila mereka mendapatkan seorang imam telah menshahihkan Sanad-sanad yang menyebutkan keberadaan mereka (para periwayat tersebut) di dalamnya, seperti halnya Ibnu Taimiyyah telah menukil keshahihan hadits ini dari Abdullah bin Al-Mubarak, beliau berkata : “Abdullah bin Al-Mubarak berkata : “Telah valid hal itu dari Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam“.

Maksudnya berarti Syaikhnya Ibnu Abdil Barr, dan Fathimah binti Ar-Rayyan, – di mana kedua periwayat ini menurut Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah tidak diketahui – dianggap Tsiqah oleh Abdullah bin Al-Mubarak sehingga beliau menyatakannya Tsabit (valid).

Menguatkan hadits ini, para ulama telah menjadikannya sebagai sandaran dalam berfatwa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pernah mengupas masalah ini dalam sebuah fatwa, beliau berkata :

وأما علم الميت بالحي إذا زاره وسلم عليه ففي حديث ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { ما من أحد يمر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام } . قال ابن المبارك : ثبت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم وصححه عبد الحق صاحب الأحكام

“Adapun pengetahuan mayit dengan orang yang masih hidup apabila dia menziarahinya dan mengucapkan salam atasnya, maka dalam hadits Ibnu Abbas beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda : “Tiadalah seorang melintas di kubur saudaranya yang beriman yang dulu dia mengenalnya di dunia lalu ia mengucapkan salam atasnya, kecuali ia (si mayit dalam kubur tersebut) mengenalnya dan menjawab salam atasnya.” Abdullah bin Al-Mubarak berkata : “Telah valid hal itu dari Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abdulhaq pemilik kitab Al-Ahkam telah menshahihkannya.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/331)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

والسلف مجمعون على هذا ، وقد تواترت الآثار عنهم بأن الميت يعرف زيارة الحي له ويستبشر به ” انتهى

“Dan Salaf bersepakat atas hal ini, dan beberapa berita dari mereka telah mutawatir bahwa mayit mengetahui orang hidup yang berziarah kepadanya dan dia menjadi bergembira dengannya.” Selesai. (Arruh 1/5)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menetapkan hal yang sama sebagaimana beliau telah jelaskan dalam tafsirnya pada surat Al-Ruma Ayat 52-53.

Dan Atsar-Atsar dari salaf tersebut telah dikumpulkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abiddun-ya dalam kitabnya “Al-Qubur” dan oleh Imam Al-Qurthubiy dalam kitabnya Al-Tadzkirah, demikian juga oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Syarhush-Shudur Fi Ahwalil Mautaa Wa Ziyaratil Qubur.

Adapun Ulama Lajnah Da’imah dalam fatwanya menjelaskan bahwa “pada asalnya orang mati tidak dapat mendengar ucapan orang-orang yang hidup kecuali hal-hal yang telah ada keterangan jelasnya.” [Fatwa Lajnah Da’imah No. 9216. Jilid 9/81-82.]

Inilah juga yang difatwakan oleh Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah beliau berkata :

وعلى هذا فنقول إن ما ورد به السنة من سماع الموتى يجب علينا الإيمان به وما لم تأت به السنة فموقفنا فيه الوقوف ونقول الله أعلم

“Dan di atas hal ini, maka kita katakan sesungguhnya apa yang terdapat padanya hadits tentang orang mati mendengar maka wajib atas kita mengimaninya, dan apa yang tidak ada sunnah yang datang menjelaskannya maka sikap kita dalam hal itu adalah abstain dan kita katakan Allahu A’lam.”[2]

Syaikh Al-‘Allamah Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah dalam muqaddimah beliau atas kitab

 الآيات البينات في عدم سماع الأموات

Karya Al-Alusiy rahimahullah beliau berkata:

وخلاصة البحث والتحقيق: أن الأدلة من الكتاب والسنة وأقوال أئمة الحنفية وغيرهم: على أن الموتى لا يسمعون، وأن هذا هو الأصل، فإذا ثبت أنهم يسمعون في بعض الأحوال كما في حديث خفق النعال، أو أن بعضهم سمع في وقت ما كما في حديث القليب، فلا ينبغي أن يُجعل ذلك أصلاً، فيقال: إن الموتى يسمعون، كَلَّا، فإنها قضايا جزئيَّة لا تُشكل قاعدة كليَّة يعارض بها الأصل المذكور، بل الحق أنه يجب أن تستثنى منه على قاعدة استثناء الأقل من الأكثر، أو الخاص من العام، كما هو مقرر في أصول الفقه

: “Dan kesimpulan riset dan Tahqiq sesungguhnya dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah dan pendapat-pendapat dari jajaran para imam (madzhab) Al-Hanafiyyah dan yang lainnya di atas bahwa orang-orang yang mati tidak mendengar dan inilah yang menjadi hukum asal, maka apabila terdapat dalil bahwa mereka mendengar di sebagian keadaan seperti yang dijelaskan dalam hadits Khafqunni’al, atau sebagian mereka mendengar di waktu tertentu sebagaimana yang ada dalam hadits Al-Qalib, maka tidak seyogyanya itu dijadikan sebagai asal sehingga kemudian akan dikatakan : “Sesungguhnya orang-orang mati mendengar, maka tidak demikian, sesungguhnya hadits-hadits itu adalah kasus pada bagian tertentu yang tidak dapat membentuk kaedah umum yang akan menyelisihi asal tersebut, akan tetapi yang hak adalah wajib melakukan pengecualian darinya (asal tersebut) berdasarkan atas kaedah mengecualikan yang lebih sedikit dari yang lebih banyak, atau mengecualikan yang khusus dari yang umum, seperti hal itu ditetapkan dalam ushul fiqh. [3]

Demikian, maka siapa yang menshahihkan hadits di atas, maka dengan itulah mereka menetapkan bahwa orang-orang mati ketika diziarahi oleh orang yang ia kenal di dunia maka ia dapat mengetahuinya dan mendengarkan salamnya. Sebaliknya mereka yang tidak menilainya Shahih maka mayit tersebut tidak mengetahuinya, namun bukan berarti mereka menafikan mayit dapat mendengar sama sekali, mereka hanya membatasinya secara khusus pada hadist hadits yang shahih dan menjelaskannya, dan tidak secara mutlak setiap saat layaknya si mayit dalam keadaan hidup.

Bekasi Kamis 20 Safar 1439 /9 November 2017

Musa Abu ‘Affaf


[1] https://islamqa.info/ar/111939

[2] https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=95600

[3] http://www.alukah.net/sharia/0/68439/#ixzz4xtBKUDkE